HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

110 tahun Kota Jayapura, quo vadis orang Port Numbay?

Nov. 3, 1942: Pushing through New Guinea jungles in a jeep, General Douglas MacArthur inspects the positions and movements of United Nations Forces, who would push the Japanese away from Port Moresby and back over the Owen Stanley Mountain range. (AP Photo)

Oleh: Dominggus A. Mampioper

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Jembatan merah yang melintasi Teluk Youtefa bagi orang-orang luar Port Numbay mungkin bisa dianggap sebagai simbol kemajuan Kota Jayapura di usianya yang hari inii memasuki 110 tahun, 7 Maret 2020. Berbeda bagi orang-orang asli Port Numbay, siapa yang mendapat untung dari semua itu? Apakah warga kampung di Teluk Youtefa, Injros dan Tobati?

Hari itu, 7 Maret 1910, Kapten Infantri FJP Sachse, memproklamirkan lokasi antara sungai Nubai dan sungai Anafre, tepatnya di dekat toko Gramedia sekarang, sebagai pusat pemerintahan di Kota Hollandia.

Wilayah ini termasuk tanah adat orang-orang dari Kampung Kajoe Pulo. Pasalnya, Kali Anafre dulunya terdapat dusun sagu milik klen Chaay dari Kajo Pulo.

”Ya, di Kali Anafre terdapat dusun sagu milik klen Chaay,” kata Marthin Chaay, putra kandung mendiang Pdt Silas Chaay, kepada Jubi, belum lama ini.

Namun wajah Kota Hollandia, Jayapura sekarang, berubah total ketika terjadi Perang Pasifik atau Perang Dunia II. Ketika pesawat tempur Jepang menyerang pangkalan militer Amerika Serikat, Pearl Harbour, pada 7 Desember 1941 di Hawaii, saat itulah tentara Sekutu pimpinan Amerika Serikat ikut pula terlibat dalam perang di wilayah Samudera Pasifik.

Loading...
;

Tak heran kalau tentara Jepang usai membom Pearl Harbour,  19 April 1942, suasana di Teluk Humboltd dan Teluk Youtefa sangat tenang, tak ada gelombang laut.

“Suasana tenang ini membuat armada Angkatan Laut Jepang masuk dan berlabuh di Teluk Imbi,” tulis Arnold Mampioper, dalam buku berjudul Jayapura Ketika Perang Pasifik.

Dari kejauhan Teluk Imbi tampak pula rumah rumah Kota Hollandia yang dipimpin oleh seorang Controleur Belanda tanpa angkatan bersenjata Belanda, hanya ada satu detasemen Veld Polisi dan Landschap Polisi saja.

Di pantai Teluk Humboltd/Imbi tampak pula perahu-perahu asli milik orang-orang Kajoe Pulo klen Chaay, Sibi, Youwe dan Makanuwai, Toto, Puy dari Kampung Kayu Batu.

Hanya dua Kampung Kajoe Pulo dan Kaju Batu yang selalu mencari ikan di Teluk Humboltd. Orang Kayu Pulo juga berkebun di Bukit Vanggasbu, Bukit Argapura. Klen Chaay juga berkebun di areal Kantor Bank Indonesia dan Army Post Office, tempat bangunan Jayapura Mall sekarang. Mendiang Pdt Silas Chaay mengatakan usai perang mereka kaget, kebun-kebun sudah berubah fungsi jadi gedung-gedung termasuk Army Post Office yang disingkat APO sekarang.

Tetapi tiba-tiba mereka harus mengungsi dan berpencar karena pada 6 Mei 1942 tentara Jepang membangun pangkalan di Hollandia. Di Teluk Humboltd atau Teluk Imbi berlabuh dua kapal perang Angkatan Laut dan pasukan Marinir, dan mulai menguasai wilayah ini. Bahkan pada Agustus 1942 Jepang menambah pula pasukan infantri Angkatan Darat.

Orang-orang Papua di Teluk Humboldt berhadapan dengan peradaban baru dalam disiplin tentara dan tak mampu berbicara banyak tentang tanah-tanah adat. Karena semua pemilikan langsung masuk dalam genggaman tentara Jepang. Mereka membangun pangkalan militer, jalan raya, dan lapangan terbang di Sentani.

Ya, tentara Jepang yang membuka semua fasilitas di Hollandia, mulai dari jalan darat kendaraan ke Bandara Sentani. Tantangan hidup semakin keras, tanah-tanah hilang tanpa ada ganti rugi, sebab suasana perang tak mengenal kompromi.

Warga Papua di Hollandia harus mendukung tentara Jepang dengan kerja rodi membangun jalan darat dari Hollandia, Vim, dan Sentani. Tentara Jepang membangun pula tiga buah landasan terbang di Sentani dan langsung menempatkan 350 pesawat tempur jenis zero.

Prasasti di Tugu Mac Arthur di Ifar Gunung Sentani Kabupaten Jayapura – Jubi/Dok

Jubi mengutip dari Wikipedia.org menyebutkan pesawat Mitsubishi A6M Zero adalah pesawat tempur jarak jauh yang dioperasikan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang dari tahun 1940 hingga 1945. Tentara Sekutu menyebutnya “Zero” sejak Angkatan Laut Kekaisaran Jepang mulai memakai pesawat ini pada tahun 1940. Nama Jepang untuk pesawat ini adalah Rei-shiki kanjō sentōk.

Teluk Youtefa pun jatuh ke dalam kekuasaan Jepang. Kapal-kapal perang masuk dan menempatkan tank-tank di pantai Hamadi. Kini hanya tinggal empat buah tank di pantai Hamadi. Termasuk sebuah kapal Jepang yang karam. Tentara Jepang menguasai Hollandia dari April 1942 sampai dengan 1943 dan melakukan persiapan untuk menguasai Papua New Guinea. Secara perlahan Jepang sudah masuk ke Vanimo dan Aitape di PNG.

Baca juga  Pengungsi banjir bandang harapkan bantuan ekskavator

Tentara Sekutu Amerika Serikat tidak tinggal diam, pendaratan mulai dilancarkan menyerbu Hollandia pada 30 dan 31 Maret, 3, 5, 12, dan 16 April 1944. Serangan menghancurkan pertahanan milik tentara Jepang saat itu dilancarkan. Warga kampung kocar-kacir mencari tempat perlindungan. Pdt Silas Chaay menuturkan mereka mengungsi ke kampung Ormu bersembunyi agar terhindar dari bom tentara sekutu.

Sasaran utama lainnya adalah menyerbu pangkalan angkatan udara Jepang di Bandara Sentani. Sebanyak 340 pesawat zero hancur, sementara diduga ada 50 pesawat zero yang bertempur dan hilang di tengah hutan rimba. Paitua (bapak tua) Hans Roberth Ohee mengatakan di atas Danau Sentani ratusan pesawat tempur melepaskan bom secara sporadis termasuk menghancurkan pesawat zero Jepang.

“Kami bersembunyi di dusun-dusun sagu menghindari bom. Beruntung banyak bom yang tidak jadi meledak di hutan rawa-rawa sagu,” kenang Hans Robert Ohee, pensiunan karyawan Pertamina (84 tahun).

Puncaknya, 22 April 1944, Kota Hollandia dan sekitarnya dihujani bom operasi Rocklese di bawah pimpinan admiral DE Barkey dan Lt Jenderal RL Eichelberger dengan kapal perang sebanyak 215 menyerbu Hollandia, Kota Jayapura sekarang.

Tentara sekutu Amerika Serikat membangun pangkalan militer di Teluk Tanah Merah-Depapre dengan membangun tanki-tanki minyak guna menyuplai bagi armada Amerika Serikat. Divisi Infantri ke-24 Amerika Serikat yang membangun dan menguasai wilayah Teluk Tanah Merah.

Teluk Humboldt Divisi Infantri ke-41 Amerika Serikat menghancurkan pangkalan militer Jepang terdiri dari 37.500 pasukan tempur dan 18.000 non-combatten. Tugu Hamadi sebagai simbol penyerangan pantai Hamadi dengan nama Invassiestrand dekat Tanjung Ciberi dan sebelah Timur Kampung Injros.

Tentara Jepang tak siap melakukan perlawanan terdapat 611 orang prajurit menyerah. Penyerangan resmi berakhir pada 6 Juni 1944 tercatat sebanyak korban tentara sekutu Amerika Serikat korban meninggal 152 orang dan luka luka 1057. Sedangkan tentara Jepang korban jiwa sebanyak 3.300 orang.

Sayangnya tidak tercatat berapa penduduk asli Port Numbay yang menjadi korban. Hanya saja, mereka kehilangan kebun karena semua sudah berubah menjadi kota. Bahkan dusun-dusun sagu ikut pula ditebang atas nama membangun pangkalan militer.

Pampasan Perang Pasifik

Kewajiban memberikan pampasan perang Pasifik kepada orang-orang Papua sampai sekarang mungkin hanya cerita turun temurun. Banyak orang Papua tak mengetahui kemana perginya dana-dana pampasan Perang dari pemerintah Jepang.

Pihak Sekutu menyeret Jepang untuk menandatangani perjanjian San Fransisco. Perjanjian tersebut, salah satunya menuntut Jepang bertanggung jawab secara moral dan material kepada negara-negara jajahan Jepang, termasuk Indonesia.

Jubi mengutip merdeka.com menyebutkan tidak seperti negara jajahan lainnya, negosiasi uang pampasan perang Jepang ke Indonesia ini terbilang alot karena memakan waktu hingga delapan tahun lamanya. Semula ada dua kubu di Jepang yang ikut campur dalam proses negosiasi ini. Pertama, pihak mantan militer yang menginginkan agar bantuan ini ke depannya mampu memulihkan citra Jepang sekaligus menjaga jalinan khusus dengan Indonesia. Sedangkan pihak kedua, yaitu para pebisnis ingin ikut serta dalam negosiasi ini karena melihat Indonesia punya ladang bisnis yang bisa dimanfaatkan.

Baca juga  Kurangi debit air, warga Organda minta drainase dibenahi

Ada dua persoalan yang menggelayuti lobi uang pampasan perang itu. Pertama, pihak Indonesia meminta USD 17,5 miliar, tetapi Kementerian Luar Negeri Jepang menolak dengan alasan kerusakan yang ditimbulkan Jepang tidak banyak, apalagi perang yang digelar Jepang bukan melawan Indonesia. Bahkan melalui kementeriannya, Jepang mengklaim telah memberikan banyak sumbangan kepada Indonesia lewat banyaknya suplai makanan, pakaian, dan amunisi ke Indonesia.

Kompensasi yang diterima berupa dana pampasan atau biaya ganti rugi perang senilai USD 223,08 juta yang dibayarkan dalam bentuk sarana dan fasilitas serta pinjaman sebesar USD 80 juta. Keputusan ini ditandatangani Soekarno di kantor Kementerian Luar Negeri pada 1958.

Kompensasi itu dibayarkan dalam kurun 12 tahun dengan pembayaran USD 20 juta per tahun dan USD 3,08 juta pada tahun terakhir. Uang sebesar itu sangat tinggi nilainya ketika itu. Jika dibandingkan dengan angka sekarang mempertimbangkan inflasi, uang USD 223 juta sebanding dengan USD 1,8 miliar saat ini (menggunakan kalkulator inflasi). Dengan kurs 1 USD sekitar Rp 11.000, uang pampasan perang itu kira-kira senilai dengan Rp 20 triliun sekarang.

Warga Port Numbay

Jembatan Teluk Youtefa, yang diresmikan Presiden Joko Widodo, Oktober 2019, yang menjadi ikon Kota Jayapura – Jubi/Dok

Ketua Klasis Port Numbay, Hein Carlos Mano, mengatakan semua orang yang tinggal di Kota Jayapura sudah termasuk sebagai warga Port Numbay. Oleh karena itu, dirinya minta semua warga yang tinggal di Kota Jayapura bersama-sama menjaga kota ini sebagai rumah bersama membangun masa depan lebih sejahterah dan menjaga kebersihan serta tidak membuang sampah sembarangan.

Walau demikian, total penduduk asli Papua di Kota Jayapura lebih kecil dibanding penduduk dari luar Papua. Penduduk asli Port Numbay bahkan lebih minoritas. Pada 2018, dari total 293.690 jiwa penduduk kota Jayapura, hanya 11.949 jiwa atau 4,07 persen penduduk asli Port Numbay.

Hal itu terungkap dari penelitian Yayasan Anak Dusun Papua (YADUPA) dan Generasi Muda Papua untuk Hak Adat (GEMPHA) berjudul “Dampak Migrasi Terhadap Depopulasi dan Pergeseran Budaya Masyarakat Adat Port Numbay.”

Orang asli Port Numbay menjadi minoritas merupakan akibat dari program transmigrasi yang dilakukan pemerintah selama ini, urbaninasi internal di Papua, dan migrasi mandiri dari luar Papua akibat daya tarik ekonomi ibu kota Provinsi Papua ini.

Ledakan penduduk dari luar Papua menyebabkan meningkatnya kebutuhan lahan untuk pemukiman. Ditambah dengan pertumbuhan bisnis. Kebutuhan lahan itu mengubah struktur kepemilikan tanah dan pemanfaatan lahan. Tanah dan hutan orang Numbay beralih kepemilikan.

Selain masalah tanah, komposisi demografi seperti ini memaksa orang Numbay melakukan penyesuaian diri, dengan akibat pada memudarnya kebudayaan mereka sendiri.

Bagian lain penelitian ini juga mengungkap kerusakan lingkungan Kota Jayapura dan akibatnya bagi kehidupan orang asli. Ditemukan 17 daerah aliran sungai telah mengalami kerusakan parah dan dipenuhi pemukiman liar. Sampah rumah tangga dan sampah industri juga merusak sungai dan ekosistem laut. Lalu mau kemana nelayan asli Port Numbay dan bagaimana dengan dusun sagunya sekarang? Tak tahulah, tetapi yang pasti harus ada solusi terbaik bagi mereka, minimal ada kompensasi seperti PT Freeport memberikan dana satu persen kepada orang Amungme dan Kamoro. (*)

*) Penulis adalah redaktur senior Jubi

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa