HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Anak muda Papua selatan diajak cinta budaya Animha 

Simon Balagaeize berbicara kepada siswa-siswi di SMAN 1 Merauke – Jubi/Mawel

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Merauke, Jubi – Pemuda-pemudi asli Papua dan non Papua yang lahir besar di selatan Papua diladang sebagai tulang punggung dan masa depan hidup matinya identitas Animha diajak mencintai budaya hidup baik di wilayah ini.

Ajakan itu disampaikan tokoh pemuda Papua selatan, Simon Petrus Balagaize, kepada siswa-siswi di Sekolah Menegah Atas Negeri (SMAN) 1 Merauke, Selasa (10/3/2020).

“Anda semua lahir di sini. Tali pusatmu putus di sini, jadi layaknya mencintai budaya Animha,” ungkap Balagaize, yang juga  ketua KNPI terpilih, kepada siswa-siswi di SMA Negeri 1 Merauke, Selasa (10/3/2020).

Kata dia, siapapun yang lahir besar di wilayah Animha harus berbangga. Rasa bangga tidak hanya menjawab pertanyaan orang dari mana dengan kata Merauke.

Kata dia, rasa bangga itu harus dengan mencintai budaya Animha, tahu bahasa hari-hari, karena itu menunjukkan dan membenarkan asal usul, tempat lahir, dan domisili kita.

“Ungkapan ah pelay.. itu semua di Merauke ini bisa too.. tetapi kita tahu bahaasa itu penting. Kita mesti tahu sapa, namun namek entago, kamu harus balas atau jawab, waningapka,” ungkapnya kepada siswa siswi di Aula SMA Negeri 1 Merauke.

Loading...
;

Namuk, sapaan untuk perempuan dan namek sapaan untuk kaum pria. Beginilah orang selatan Papua saling sapa “Namuk ah…play…namek ah pelay..” tutur mereka kalau sambil berjumpa. Itu semua orang lakukan tetapi ungkap yang diungkapkan Balagaize baru dikampanyekan.

Mereka tidak hanya berhenti dengan ungkapan tetapi harus berjabat tangan. Saling bertatap mata, saling merangkul, dan buta yang namanya “Ben bay”.

Sapaan dan bahasa tubuh itu memperlihatkan hidup menjadi hidup, ada dan dirayakan dalam perjumpaan harian. Perayaan hidup yang lebih dalam dan menyatu dimulai.

Baca juga  Minyak kayu putih produksi OAP diminati pembeli

Mereka duduk lalu saling cerita. “Saudara dari mana? Dari Wamena, Kurulu,” ungkapku kepada seorang yang saya jumpai di depan kantor bupati.

“Ah saya punya saudara,” ungkapnya sambil meletakkan telapak tangan ke dadanya.

“Ah dia begitu bersahabat,” gumamku sambil menyaksikan bahasa tubuhnya.

Hal yang sama dilakukan beberapa suku di pegunungan Papua. Orang Lani, di wilayah adat Lapago menyebutnya “kgumbi”. Orang Lani tersebar di Kabupaten Lanny Jaya, Tolikara, Puncak, Nduga dan Intan Jaya, serta Mamberamo Tengah.

Orang Lanny yang tersebar di Kabupaten Lanny Jaya, Tolikara, Puncak, Nduga dan Intan Jaya, Mamberamo Tengah, bertemu, berjabat tangan, dan akhir dari jabat tangan itu dilakukan Kgumbi.

Orang di wilayah adat Meepago menyebutknya “kipo”. Orang Meepago suku, Mapia, Wolany, dan Monni melakukan kipo.

Dominikus Surabut, ketua Dewan Adat Papua versi konEfrensi luar biasa di Lapago, mengatakan itu satu kesatuan ekspresi identitas suku-suku tertentu di Papua.

“Itu jati diri, bagian dari hidup bukan baru. Itu warisan nenek moyang yang harus kita rawat,” ungkapnya kepada Jubi melalui sambungan telepon, Rabu (11/3/2020).

Kata dia, ekpresi identitas itu terlihat mulai hilang dengan arus migrasi dan heterogenitas hidup suku-suku di Papua. Anak-anak yang lahir besar di kota atau di daerah rantau tidak menghidupi itu.

“Kalau hal yang bisa kita lakukan, ucapkan dalam hidup harian ini saja tidak kita lakukan berarti itu ancaman terhadap identitas,” ungkapnya.

Karena itu, pihknya berharap kepada semua pihak untuk menaruh perhatian terhadap hak sepele tetapi penting ini.

“Karena itu tata kerama dalam perjumpaan,” ungkapnya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa