HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Kopi dalam komoditas ekonomi orang asli Papua

Masyarakat Lembah Baliem, Jayawijaya ketika menjemur kopi – Jubi/Dok
Masyarakat Lembah Baliem, Jayawijaya ketika menjemur kopi – Jubi/Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Yosep Riki Yatipai

Ekonomi selalu menyebut dirinya sebagai peraturan rumah tangga/keluarga. Sebagaimana istilah “ekonomi” yang berasal dari Yunani “Oikos”, yang berarti keluarga/rumah tangga dan “Nomos”, yang berarti peraturan/hukum, sehingga secara harafiah (ekonomi) adalah ilmu yang mengatur aturan rumah tangga dan/atau keluarga.

Dalam konteks masyarakat Papua, dengan kecenderungan politik identitas yang semakin kuat, hendaknya dibongkar dari dalam, dengan tujuan, hasrat ber-ekonomi dapat dibebaskan dari motif sektarianisme agama, suku, sebab kita didorong untuk mempertanggungjawabkan kesejahteraan masyarakat yang plural.

Tidak disangkal juga bahwasannya upaya aksesibilitas (melalui) udara, laut, dan darat, (mempunyai) dampak lingkungan hidup; memberikan pilihan yang ragu, namun upaya penyelarasan hidup di tengah perubahan zaman sungguh menuntut dan tertuntut.

Sebelum menanggapi rumpun persoalan kopi sebagai komoditas ekonomi orang asli Papua (OAP), sekiranya penting menanggapi gerak dasar ekonomi di Papua. Kita tidak hanya berekonomi sekadar untuk memenuhi syarat formal.

Berekonomi mesti mempunyai signifikansi bagi kehidupan ekonomi OAP di Papua. Dalam arti, kegiatan perekonomian berjalan seirama dengan etika-estetika masyarakat. Ketika ekonomi menjadi upaya hati nurani, maka kesejahteraan, adil, dan makmur tidak dapat dielakkan lagi.

Loading...
;

Dalam konteks ini, kita dapat mencapai jalur perekonomian yang sehat melalui konsep dan pada forum bersama, yang hanya dapat dilakukan apabila orang bersedia menerima dan membiasakan diri dengan cara berpikir yang umum. Sebagaimana dikatakan Juergen Habermas, filsuf dan sosiolog Jerman kelahiran 18 Juni 1929, “Komunikasi lintas sektor seperti ini hanya dapat terjadi apabila orang memenuhi syarat kelugasan jalan pikiran, kebenaran berargumentasi, penggunaan bahasa tepat, dan kerangka nilai yang dapat diterima secara umum.”

Dengan ini, arogansi, rasa rendah diri dan kepicikan sektoral dapat diatasi untuk dapat mewacanakan persoalan ekonomi bersama secara benar. Dengan hormat, dapat dikatakan bahwa persoalan ekonomi OAP dari dusun ke kota tidak hanya upaya penerangan jalan umum (PJU), tetapi juga penerangan jalan pikiran (PJP), dengan membaca sistem ekonomi yang sering digunakan oleh masyarakat Papua.

Orang asli Papua riskan memiliki kecondongan pada sistem ekonomi pasar (penawaran dan permintaan). Sistem ekonomi seperti ini biasa dikenal juga dengan ekonomi liberal/bebas tanpa kekangan penguasa. Sistem ekonomi dilakukan dengan kemampuan yang seadanya, yakni alat dan modal sendiri. Sistem ekonomi yang juga dipakai di beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat juga diterapkan di Papua.

Namun, ekonomi OAP tidak secanggih dan semaju seperti di daerah Eropa tersebut tentunya. Sistem ekonomi pasar di Papua masih terbatas pada kalangan sendiri (lokal) dan cenderung bersifat statis.

Sistem ekonomi pasar ini dapat dimungkinkan dengan kemungkinan dan sistem ekonomi pasar untuk bisa bersaing ke ranah nasional dan internasional, sebab alasan yang mendasarinya ialah hasrat berjuang dan niat untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Seperti halnya kopi menjadi komoditas OAP.

Ada dua daerah utama penghasil kopi di Papua. Daerah yang pertama adalah Lembah Baliem, di tengah dataran tinggi Jayawijaya, yang mengelilingi kota Wamena (wilayah adat Laapago). Daerah kedua adalah Lembah Kamuu di daerah Nabire, di sisi timur dataran tinggi, yang mengelilingi kota Moanemani (wilayah adat Meepago).

Kedua wilayah ini berada di ketinggian antara 1.400 – 2.000 mdpl, dan merupakan kondisi ideal untuk produksi kopi arabika.

Kedua daerah tersebut saat ini memproduksi 230 ton kopi per tahunnya. Angka ini dapat dipastikan akan meningkat, sejalan dengan adanya perusahaan-perusahaan baru yang menjalankan kegiatan pembelian dan pengolahan kopi di wilayah tersebut.

Perusahaan-perusahaan tersebut membantu para petani untuk mendapatkan sertifikasi organik dan fair trade, yang akan memberikan peningkatan penghasilan yang cukup besar. Wilayah tersebut sangat terpencil, dimana sebagian besar kopi tumbuh di wilayah yang tidak terjangkau oleh infrastrustur jalan dan hampir tidak tersentuh dunia modern (Papuacoffees.com, 13 Maret 2020).

Kendati demikian, komoditas kopi arabika di Wamena dan Moanemani sudah dinikmati oleh hampir kebanyakan masyarakat Papua.

Pandangan tentang kopi arabika di Papua tidak terlepas dari kaitannya dengan yang lain, sebab, Papua tidak bisa memutuskan keterikatannya dengan semua yang lain di luarnya.

Papua adalah konteks dan Papua tentu mempunyai konteks. Dalam arti relasi yang mempengaruhi dan dipengaruhinya. Justru OAP ada dan hadir sebagai sejarahnya maupun realitas aktualnya. Sebagaimana relasi dengan yang lain di luar Papua, entah relasi sosial, budaya, maupun ekonomi, telah menjadi satu kekhasan tersendiri bagi OAP yang komunikatif dan koordinatif.

Potensi ini rupanya membawa pengalaman lintas batas internasional bagi OAP, yang sekurang-kurangnya hampir ada dan berada di pelosok dunia. Kualitas ini semestinya ditingkatkan demi lintas sektoral, sehingga upaya menyelamatkan perekonomian dapat disiasati secara sistematis, metodis, dan koheren.

Sekalipun OAP memiliki komoditas kopi arabika di Wamena dan Moanemani, perekonomian ini belum diperhatikan dan diseriusi oleh pemerintah sebagai komoditas lokal. Keberadaan kopi impor dari luar Papua lebih banyak dijual di kios-kios dan sebagainya, sehingga kopi lokal tidak mendapatkan tempat penting di Papua.

Maka dari itu, tugas pemerintah dan perangkatnya mesti mengatur suatu regula yang dapat meningkatkan dan mengembangkan perekonomian lokal. Jika kopi menjadi barang dagang lokal, maka kesan memiliki (rasa memiliki) mesti juga ada dan hadir sebagai upaya pengaturan hidup bersama.

Dengan ini kita dapat melihat kemajuan dan majunya ekonomi OAP dalam budidaya kopi arabika sebagai komoditas lokal. Kita dipanggil untuk meningkatkan ekonomi lokal, sehingga komoditas kopi dapat menjadi batu loncatan bagi OAP.

Hendaknya potensi ini dikemas dan diramu sebaik mungkin dengan memberdayakan OAP terlebih dahulu. Ekonomi OAP yang berhadapan dengan ekonomi di tempat lain, tentu berbeda dan menantang dari berbagai segi, baik sosial budaya, adat istiadat, maupun paradigma kesukuannya.

Persoalan ekonomi mesti dikaji dan dilihat secara menyeluruh dan mendalam. Kompleksitas persoalan ekonomi yang dihadapi OAP pun begitu rumit diuraikan, sehingga model ekonomi semestinya dimulai dan dibangun berdasarkan pola strategis, dengan memperhatikan runutan keuntungan, kerugian, tantangan, dan peluang. Dengan ini, sarana prasarana yang dialokasikan dan didanai dapat menyentuh realitas dan pada dasarnya hati OAP.

Kemudian konsentrasi masyarakat terhadap konteks sosial budaya, terutama mengenai kerugian, keuntungan, tantangan, dan peluang sebagai hal esensi bagi OAP.

Hematnya, efisiensi dan keefektifan proses dagang dari dusun ke kota ialah jalan yang dibangun berdasarkan kelugasan pikiran, sehingga ada kesan saling memahami (mutual understanding), saling memaafkan (mutual forgiving), saling terbuka (mutual opening), dan bentuk koordinasi yang solid. (*)

Penulis adalah mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura, Papua

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa