Follow our news chanel

Previous
Next

Pastor Lieshout dimakamkan di Belanda, Suku Hubula gelar warekma di Musatfak

Acara duka warekma di Paroki Musatfak, di Tanah Hubulama, Jumat (8/5/2020). - Dok. Keluarga
Pastor Lieshout dimakamkan di Belanda, Suku Hubula gelar warekma di Musatfak 1 i Papua
Acara duka warekma di Paroki Musatfak, di Tanah Hubulama, Jumat (8/5/2020). – Dok. Keluarga

Papua No. 1 News Portal | Jubi

 Jayapura, Jubi – Pastor Frans Lieshout OFM menghembuskan nafas terakhirnya di Belanda pada 1 Mei 2020 lalu. Ia dimakamkan di negeri kelahirannya itu pada Jumat (8/5/2020), pukul 11.00 waktu setempat, atau Jumat sekitar pukul 19.00 WP. Pada Jumat siang hingga petang, masyarakat adat Suku Hubula di Musatfak, Kabupaten Jayawijaya, menggelar acara duka warekma sebagai penghormatan terakhir bagi Pastor Lieshout.

Pastor Frans Lieshout OFM adalah misionaris Fransiskan dari Belanda yang diutus ke Papua. Ia tiba di Jayapura pada 1963, kemudian di kirim ke Hubula (sekarang Kabupaten Jayawijaya) pada 1964.Pater Frans mulai bertugas di  Paroki Musatfak sejak April 1964 hingga 1967.

Beliau juga pernah bertugas di Moni, Intan Jaya (1967 – 1973), lalu kembali dipindahtugaskan ke Jayapura (1973 – 1985). Selepas itu, ia kembali bertugas di Balim hingga tahun 1996, lalu ditarik untuk kembali bertugas di Jayapura (1996 – 2002). Pada 2002, Pastor Lieshout berpindah tugas ke Biak, hingga memasuki usia pensiun pada 2007.

 

Pastor Lieshout dimakamkan di Belanda, Suku Hubula gelar warekma di Musatfak 2 i Papua
Dekan Dekanat Pegunungan Tengah, RD Kornelis Kopong menjadi Konselebran utama Misa Arwah bagi Pastor Frans Lieshout OFM yang diselenggarakan di Paroki Musatfak, Kabupaten Jayawijaya, Jumat (8/5/2020). – Dok. Keluarga

“Pulang kampung” 

Setelah menjalankan laku panjangnya melayani umat Katolik di berbagai wilayah Papua, Pastor Lieshout memilih menghabiskan masa pensiunnya dengan “pulang kampung” ke Hubulama, Kabupaten Jayawijaya. Demi berobat, pada 28 Oktober 2019 ia harus meninggalkan tanah orang Hubula dan Papua, pulang ke Belanda, hingga meninggal dunia pada 1 Mei 2020.

Loading...
;

Akan tetapi, pilihan Pastor Lieshout untuk memulai masa pensiunnya di Balim pada 2007 menggambarkan kedekatan beliau dengan masyarakat adat Balim, khususnya Suku Hubula. Bagi masyarakat adat Hubula, Pastor Lieshout adalah anak adat Hubula. Tete Lieshout bahkan telah menyandang nama marga Alua, marga masyarakat adat Hubula.

Ketika tiba di Paroki Musatfak pada 1964, Pastor Lishout diterima kepala suku Harereak Alua. Kepala suku Harereak Alua adalah orang yang pertama kali menerima Injil dan kehadiran Pastor Lishout di Musatfak. Hingga kini, Musatfak menjadi satu dari sembilan paroki Dekanat Pegunungan Tengah (dulu disebut Dekanat Jayawijaya).

Sebagai penghormatan terakhir bagi Pastor Lieshout, Paroki Musatfak menggelar Misa Arwah. Dekan Dekanat Pegunungan Tengah, RD Kornelis Kopong menjadi Konselebran utama, bersama sejumlah pastor paroki lainnya. Misa Arwah itu dihadiri ratusan umat Paroki Musatfak dan wakil dari 8 paroki serta beberapa stasi Dekanat Pegunungan Tengah.

Di honai adat Musatfak, kepala suku Alua menggelar acara duka warekma bagi Pastor Lieshout. Dimulai dengan berita duka, keluarga dan sanak saudara berdatangan, menyampaikan penghormatan mereka terhadap Pastor Lieshout. Mereka membawa beraneka macam sumbangan, seperti wam (babi), himpiri (petatas), ye-su atau ye-yerak (kapak batu dan kulit bia). Semuanya diterima dan digelar dalam acara duka bersama itu. Wam dipotong dan dimasak dengan bakar batu, diikuti makan bersama dan sejumlah ritual duka, yang secara simbolik menjadi proses kremasi atau bagi Pastor Lieshout.

 

Pastor Lieshout dimakamkan di Belanda, Suku Hubula gelar warekma di Musatfak 3 i Papua
Pemakaman Pastor Lieshout OFM di Belanda. – Dok. Keluarga

Janji anak adat Hubula

Markus Haluk, tokoh muda Hubula yang juga umat Katolik menyebut acara duka bagi Pastor Lieshout itu digelar sesuai pesan kepada suku dan janji kepala suku Alua kepada Pastor Lieshout. Kepala suku Alua sudah mengangkat Pastor Lieshout sebagai anak adat Hubula, dan memberikan marga Alua bagi Pastor Lieshout.

Markus Haluk menyebut, Pastor Lieshout juga pernah menyampaikan keinginannya untuk dimakamkan sesuai adat orang Hubula, dengan dikremasi di Musatfak. “Honai adat Wetipo Alua, honai Tete Harereak Alua. [Beliau adalah] kepala suku besar yg terima Injil dan mengangkat Pastor Frans sebagai anak/cucunya, dan memberikan nama marga Alua kepada Pastor Frans. Semua dilakukan sesuai pesan Pastor sendiri,” kata Haluk kepada jurnalis Jubi.

Menurut Haluk, warekma digelar sesuai dengan tradisi Hubula. Warekma dibuat sebelum pemakaman dilangsungkan di Belanda.  “Jam 11 waktu Belanda dan jam 19.00 waktu Papua,”ungkap Haluk kepada jurnalis Jubi.

Dominikus Surabut, tokoh muda Hubula Katolik yang turun menyelenggarakan warekma di Musatfak itu menyebut perwakilan 9 paroki serta keluarga Alua Wetipo menyerahkan perpuluhan sumbangan wam (babi) dan noken petatas. “Jumlah sumbangan total wam 32 ekor, dan sumbangan hipere 40 noken,” ungkap pria yang juga Ketua Dewan Adat Papua versi Kongres Luar Biasa itu.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top