HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

4 narapidana politik kasus demo rasisme Papua bebas

Napol_Papua_bebas
Sejumlah empat narapidana politik Papua berfoto bersama para aktivis yang menjemput pembebasan mereka di depan Lembaga Pemasyarakatan Sorong pada Minggu (31/5/2020). - Jubi/Bastian
Napol_Papua_bebas
Sejumlah empat narapidana politik Papua berfoto bersama para aktivis yang menjemput pembebasan mereka di depan Lembaga Pemasyarakatan Sorong pada Minggu (31/5/2020). – Jubi/Bastian
Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sorong, Jubi – Sejumlah empat narapidana politik yang terkait kasus unjuk rasa anti rasisme Papua di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat, menghirup udara bebas lebih awal pada Minggu (31/5/2020). Mereka divonis hukuman penjara delapan bulan 15 hari penjara, dan dijadwalkan baru akan bebas pada Selasa (2/6/2020) nanti.

Salah satu narapidana politik yang dibebaskan dari Lembaga Pemasyarakatan Sorong pada Minggu itu, Rianto Ruruk menyampaikan terima kasih atas dukungan masyarakat kepada para narapidana politik yang ditangkap dalam berbagai unjuk rasa anti rasisme Papua. Ruruk juga menyampaikan terima kasihnya kepada para aktivis dan semua pihak yang mengupayakan para narapidana politik Papua dibebaskan lebih awal.

Baca juga: Mahasiswa minta tapol Papua Barat dibebaskan, ini alasannya

4 narapidana politik kasus demo rasisme Papua bebas 1 i Papua

Ia juga meminta pemerintah Indonesia menjalankan aturan yang terkandung dalam konstitusi. “Jangan ada perbedaan bagi bangsa Papua. Jika ada perbedaan, bangsa Papua akan terus berdiri untuk melawan,” kata Ruruk pada Minggu (31/5/2020).

Seorang narapidana politik lainnya, Paulus Miwak Kareth menyatakan selama ini ia dan para narapidana politik Papua diperlakukan tidak adil. Kareth menyatakan ia ditangkap tanpa surat perintah penangkapan, dan mengalami intimidasi selama menjalani pemeriksaan.

“Saya berharap demokrasi dapat dilaksanakan, supaya tidak ada pembungkaman dan pelanggaran hak asasi manusia. Tetapi, jika itu terus terjadi, kami akan terus berjuang. Walaupun kami telah bebas, tapi tidak untuk jiwa kami, karena masih ada teman-teman para tahanan politik yang masih ditahan,” katanya.

Baca juga: ULMWP: Kekerasan rasial di AS mengingatkan kepada kasus rasisme Papua

Loading...
;

Deby Santoso, salah satu aktivis kemanusiaan di Kota Sorong mengatakan para narapidana politik itu adalah aktivis yang ditangkap gara-gara berunjukrasa memprotes tindakan rasisme aparat kepada para mahasiswa Papua di Surabaya pada 16 Agustus 2019 lalu. Ia menyatakan mungkin pemerintah menganggap para aktivis itu sebagai narapidana politik, namun baginya mereka adalah pahlawan.

“Rasisme yang terjadi hari ini seperti bom waktu. Jika negara tidak berhati-hati, maka negara bisa bubar,” katanya mengingatkan.

Ia meminta negara dan apartur negara tidak melakukan diskriminasi terhadap orang Papua, “Jangan hanya melihat Papua dari sumber daya alamnya, tetapi ada manusianya juga. Jika mau bernegara, maka bernegara. Jangan bernegara untuk berbisnis sumber daya alam dan berbisnis manusia,” kata Deby.(Bastian/CR-3)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa