Lebih 6.000 calon mahasiswa ikut seleksi jalur mandiri Uncen

papua
Calon mahasiswa mengikuti seleksi JBSM di Auditorium Uncen, pada 7 Juli. - Jubi/Theo Kelen.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Universitas Cenderawasih (Uncen), Jayapura, Papua melakukan seleksi jalur mandiri secara luring (offline), Senin, 5 Juli 2021.

Ketua Panitia Jalur Mandiri Seleksi Bersama (JMSB) Universitas Cenderawasih Dr. Onesimus Sahuleka, SH, MHum mengatakan ada 6.647 calon mahasiswa yang mengikuti ujian tersebut.

Ujian dilakukan dua sesi. Sesi pertama pukul 10 sampai 12 siang dan sesi kedua pukul 2 hingga 4 sore.

Para peserta ujian tersebar di enam daerah di Papua, yaitu Kota Jayapura, Kabupaten Biak, Kabupaten Nabire, Kabupaten Timika, Kabupaten Yapen, dan Wamena.

Peserta terbanyak di Kota Jayapura, Papua yakni 6.056 orang. Kemudian di Wamena sebanyak 137 orang, di Kabupaten Biak 133 orang, di Kabupaten Timika 113 orang, di Kabupaten Nabire 120 orang, dan Serui-Yapen 88 orang.

Pembantu Rektor I Uncen tersebut mengatakan Uncen juga sekaligus melakukan ujian di lima kota di luar Kota Jayapura sebagai antisipasi agar peserta tidak menumpuk di Kota Jayapura, Papua.

BACA JUGA: Tiga calon rektor Uncen bersaing, siapa dipilih Menteri?

Loading...
;

“Karena ini masa pandemi,” katanya.

Sahuleka menjelaskan peserta ujian terbanyak terdapat dalam kelompok pilihan Saintek (IPA) sebanyak 3.165 peserta. Kemudian Soshum (IPS) sebanyak 2.063 peserta dan Campuran (IPC) 888 peserta.

”Tahun ini yang meningkat IPA, program-program studi IPA memang memiliki daya tampung terbatas, tapi syukur karena penerimaan tahun ini terbanyak di bidang IPA,” ujarnya.

Daya tampung penerimaan mahasiswa baru 2021 melaui jalur SNMPTN, SBMPTN, SLSB, dan JMSB di Universitas Cenderawasih berjumlah 3.500. Daya tampung tersebut, kata Sahuleka, disesuaikan dengan kapasitas sarana dan prasarana, ruang kuliah dan tenaga dosen.

Sebelumnya Uncen sudah menerima calon mahasiswa melalui jalur SNMPT sebanyak 613 orang, jalur SBMPTN sebanyak 622 orang, dan jalur SLSB sebanyak 1.097 mahasiswa. Total mahasiswa yang telah diterima melalui jalur tersebut 2.332 orang.

Sedangkan daya dampung untuk seleksi mandiri sekitar 1.500 mahasiswa.

“Nanti akan kita lihat kebijakan yang diambil Pak Rektor pada saat penentuan pengumuman JMSB, yang pasti kita akan terima lewat mekanisme jalur JMSB sekitar 1.500 mahasiswa,” ujarnya.

Sahuleka mengatakan ujian JMSB dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Sebelum ujian ruangan disemprot disinfektan, peserta diperiksa suhu tubuh, mengenakan masker, dan memakai hand sanitizer.

“Dalam penyelenggaraan ujian kami berkerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Papua. Dinkes menyiapkan dua ambulans, satu di kampus Uncen Abepura dan satunya lagi di kampus Uncen Waena,” ujarnya.

Calon mahasiswa baru, Gisela Yeuw, perempuan 23 tahun, mengikuti ujian pada sesi pertama di Auditorium Uncen pukul 10 pagi. Ia memilih Jurusan PGSD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Uncen karena ingin menjadi guru.

Sebelum mengikuti ujian, Yeuw telah mempersiapakan diri dengan membaca buku-buku tes. Ia mengaku tidak kesulitan mengerjakan soal dan menyelesaikan 50 soal dengan lancer selama dua jam.

Yeuw, perempuan asal Demta, lulus SMA Negeri 1 Jayapura pada 2018. Ia kemudian bekerja selama tiga tahun di perusahaan kayu di Keerom. Ia harus berkerja dulu mengumpulkan biaya studi karena kondisi ekonomi keluarga yang kurang mampu.

“Setelah tamat SMA saya pilih kerja kumpul-kumpul uang dulu,” ujarnya.

Calon mahasiswa lainnya, Irene Fatagur yang mengikuti ujian sesi kedua pada pukul 2 siang di Auditorium Uncen memilih masuk Ekstensi Hukum karena tertarik kepada hukum. Ia berharap setelah selesai nanti dapat membantu masyarakat adatnya yang berada di Keerom.

“Saya lihat hukum sangat penting untuk masyarakat adat karena selama ini masyarakat adat saya belum begitu memahami hukum dan hukum menipu mereka melalui investasi yang masuk di Keerom,” ujarnya.

Fatagur setelah lulus SMA Onate Serui pada 2008 tidak bisa langsung melanjutkan kuliah karena terbentur kemampuan ekonomi keluarga yang serba kekurangan. Ia kemudian memutuskan untuk bekerja dulu di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) agar bisa membantu ekonomi keluarga sambil menabung untuk biaya kuliah.

“Terbentur dengan kondisi ekonomi keluarga, jadi sekarang baru bisa kuliah,” katanya. (*)

Editor: Syofiardi

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top