833 warga sipil Puncak masih mengungsi ke Mimika

Penambahan Pasukan di Papua
Foto ilustrasi - pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Ketua Tim Peduli Kemanusiaan Kabupaten Puncak di Kabupaten Mimika, Papua, Yunias Kulla mengatakan 833 warga sipil dari Puncak masih mengungsi ke Mimika. Hal itu disampaikan Kulla saat dihubungi melalui panggilan telepon pada Selasa (29/6/2021).

Kulla menjelaskan para pengungsi itu adalah warga sipil dari berbagai distrik di Kabupaten Puncak yang menghindari eskalasi konflik bersenjata di Puncak. Eskalasi konflik bersenjata terjadi di Puncak, Papua, sejak akhir April 2021, setelah Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) menembak dua guru hingga tewas dan aparat keamanan menggelar operasi untuk mengejar TPNPB.

“Sejak 9 Mei 2021, kami mulai mendata pengungsian dari Ilaga dan Beoga. Hingga sekarang, total pengungsi dari Distrik Beoga yang ada di Mimika berjumlah 407 jiwa.   Sementara Pengungsi dari Distrik Mayuberi, Gome, Gome Utara, Ilaga dan sekitarnya total pengungsi 426. Jadi total pengungsi dari Kabupaten Puncak yang ada di Mimika 833 jiwa,” kata Kulla.

Menurutnya, 407 pengungsi dari Beoga itu berasal dari berbagai kampung yang berbeda. Mereka antara lain berasal dari KampungKimak, Wonalbe, Niponi, Damabet, Pilogoma, Ogamanin, Komber, Milawak, Aramorong, Wangbe, Yulugoma, Kelmabet, Ambobera, Jambul, Ogamki, Ujung Bandara, Dengkibuma, Tinggilibet.

Baca juga: Pihak berkonflik di Kabupaten Puncak diharap hentikan kekerasan demi warga sipil Papua

Sejumlah 426 pengungsi dari distrik yang lain pun juga berasal dari kampung yang berlainan. Mereka antara lain berasal dari Kampung Kunga, Gome, Agandugume, Kimak, Ayali, Janggerbaga, Yugumoak, Paluga, Manggame, Kilunggame, Paluga  Gome Utara, Mayuberi  Gome, Ilaga, Gome Utara, Eromaga, Nopani, Pancuran, Lapangan, Misimaga, Distrik Omukia, Kimak.

Di Mimika, 833 pengungsi itu tinggal tersebar. Para pengungsi memiliki latar belakang yang bermacam-macam, bekerja sebagai petani, Pegawai Negeri Sipil, guru, aparat kampung, hingga ibu rumah tangga.

Loading...
;

“Pengungsi terdiri dari laki-laki, ibu, anak-anak. Mereka tinggal di SP1, SP2, SP5 Timika, Ujung Aspal, Kwamki, Narama, Amor, Jalan Elang, Jalur Dua, Jalan Baru, Jalan Restu, Kelapa Dua, Budi Utomo, Timika, Nawaripi, Mile 32, Jayanti, Bintuka, dan Noema,” ujar Kulla.

Hingga kini, para pengungsi Puncak di Mimika itu takut untuk kembali ke kampung halaman mereka. Kulla mengatakan konflik bersenjata di Puncak telah membuat roda pemerintahan Kabupaten Puncak tidak berjalan baik, sehingga banyak anak sekolah terlantar, dan layanan kesehatan terhenti.

Baca juga: Eskalasi konflik hambat upaya pemulangan pengungsi di Puncak

Jika konflik bersenjata di Puncak berlanjut, Kulla khawatir dampak yang lebih buruk akan terjadi. Apalagi, Kulla menerima informasi bahwa banyak warga sipil di Puncak yang memilih mengungsi dengan masuk jauh ke dalam hutan, demi menjauhi konflik bersenjata yang memanas di Ilaga dan Beoga.

“Kami meminta pemerintah segera mempertimbangkan dan mengambil langka yang tepat untuk menyelesaikan konflik bersenjata di Puncak. Kami melihat dari sisi Hak Asasi Manusia. Hak untuk hidup, hak atas kebebasan, dan hak keamanan harus dijunjung tinggi,” katanya.

Kulla meminta pemerintah pusat segera menarik kembali seluruh pasukan organik dan non organik di Puncak, demi meredakan situasi di sana. “Kami memohon kepada pemerintah daerah dan lembaga legislatif di Kabupaten Puncak memberikan perlindungan terhadap warga sipil yang terdampak kontak senjata antara TNI/POLRI dan TPNPB,” katanya.

Kulla meminta pasukan TNI/POLRI maupun pasukan TPNPB tidak melakukan hal-hal yang bisa  merugikan masyarakat sipil di Puncak, karena warag sipil tidak mengetahui persoalan yang terjadi. “Kami minta bantuan lembaga hukum yang independen dan netral dalam melakukan  advokasi terhadap korban sipil,” katanya.

Pengungsi di Puncak

Advokat Octovianus Tabuni di Nabire menyatakan operasi aparat keamanan telah mengakibatkan warga tinggal di pengungsian yang tersebar di 26 kampung di Puncak. Tabuni menyatakan para warga sipil itu bertahan dengan mendirikan tenda darurat di halaman gereja kampung, dan tidak berani tinggal di rumah masing-masing.

Kampung dengan jumlah pengungsi yang banyak itu ada di Distrik Ilaga (Kampung Wuloni, Tagaloa, Tuwunikime), Distrik Ilaga Utara (Kampung Maki, Akunobak, Paluga, Palumbur, Olen, Duagi, Mayuberi), dan Distrik Gome (Kampung Upaga, Efesus, Tegelobak, Misimaga). Konsentrasi pengungsi juga terdapat di Distrik Gome Utara (Kampung Tobanggi 1, Tobanggi 2, Walenggaru, Mundidok 1, Mundidok 2) dan Distrik Beoga (Kampung Yulogoma, Milawak, Damber, Tinggiliber, Dagibum).

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Puncak, Peniel Wakerkwa mengatakan saat ini para pengungsi tinggal dengan tenang di tempat pengungsian masing-masing. Ia membenarkan jika para warga sipil yang mengungsi itu belum berani pulang ke rumahnya, dan banyak yang masih tinggal di kampung tetangga.

“Memang kami mau suruh para pengungsi kembali ke kampung halaman mereka. Namun aparat masih ada di sudut kampung, siaga, sehingga para pengungsi itu belum bisa kembali [tinggal] di kampung halaman mereka,” kata Wakerkwa. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top