Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Ada kesalahan penghitungan klaim KPS di RSUD Jayapura

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Pelaksana tugas (Plt) Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jayapura, Anggiat Situmorang mengatakan selama ini ada kesalahan penghitungan klaim Kartu papua Sehat (KPS) di rumah sakit yang kini dipimpinnya. Hal ini terungkap setelah pihak pengelola KPS rumah sakit melaporkan kepada dirinya.

“Seharusnya perhitungan klaim KPS itu dihitung per lembar resep bukan per resep. Ini ada kesalahan, dan saya sudah suruh untuk menghitung ulang kepada para dokter yang mengeluarkan resep,” kata Anggiat Situmorang dihadapan ORI Papua pada Jumat (25/8/2018).

Ada kesalahan penghitungan klaim KPS di RSUD Jayapura 1 i Papua

Anggiat mencontohkan, dalam satu lembar resep ada lima hingga enam resep yang dikeluarkan oleh dokter kepada pasiennya baik itu pengguna BPJS maupun KPS. Seharusnya yang diklaim itu satu lembar resep bukan dihitung per resep yang tertera di dalam satu lembar resep tersebut.

Salah satu pengelola KPS RSUD Jayapura yang enggan menyebutkan namanya pun mengakui hal tersebut dan dirinya sudah mengembalikan semua klaim tersebut kepada pihak dokter untuk memperbaikinya.

“Sudah saya kembalikan dan saya jelaskan kembali kepada mereka untuk diperbaiki. Ini terjadi karena di sini (RSUD Jayapura) belum memiliki Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIM-RS),” katanya.

Kepala Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Papua, Sabar Iwanggin mengatakan dari inpeksi mendadak (sidak) beberapa hari lalu di RSUD Jayapura pihaknya menemukan bahwa di RS rujukan tersebut belum memiliki SIM-RS yang mengakibatkan banyak tumpang tindih data atau pencatatan data yang berulang-ulang menyebabkan duplikasi data sehingga kapasitas yang diperlukan membengkak dan pelayanan menjadi lambat. Selain itu terjadi juga tumpukan filing sehingga memerlukan tempat filing yang cukup luas.

Loading...
;

“Selain itu juga akan mengakibatkan penyimpanan data yang tidak terpusat menyebabkan data tidak sinkron, informasi pada masing-masing bagian mempunyai asumsi yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan masing-masing unit. Ini yang terjadi di sini,” kata Iwanggin.

Selain itu, Iwanggin juga mengatakan dengan tidak adanya SIM-RS dan melakukan pencatatan secara manual akan menyebabkan terjadinya kesalahan pencatatan yang semakin besar dan tidak singkron dari unit satu ke yang lainya dan akan menimbulkan banyaknya perubahan data.

“Efeknya banyak pelayanan akan berdasarkan sesuka perawat atau dokter sehinga dokter atau perawat bisa menambah bahkan mengurangi data atau tarif sesuai dengan kondisi saat itu, misalnya yang berobat adalah saudaranya, maka dengan seenaknya dokter dan perawat memberikan discount (potongan harga) tanpa melalui prosedur yang tepat. Dan menimbulkan kerugian pada rumah sakit,” ujar Iwanggin. (*)

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top