Follow our news chanel

Ada TGPF kasus Hitadipa Intan Jaya, lalu Nduga bagaimana?

papua, Hitadipa, nduga, TGPF
Ilustrasi anak-anak pengungsi Nduga di Wamena beberapa waktu lalu - Jubi. Dok

Papua No.1 News Portal

Jayapura, Jubi – Kapan pemerintah membentuk TGPF Nduga? Mungkinkan TGPF Intan Jaya juga menyelidiki kasus Nduga? Hal itu dilontarkan tokoh pemuda Kabupaten Nduga, Samuel Tabuni dalam rilis yang disampaikan kepada Jubi, Sabtu (3/10/2020).

“Hanya dalam kurun 14 hari setelah peristiwa Hitadipa, TGPF ini sudah terbentuk. Ini suatu langkah cepat, yang memang sangat dibutuhkan untuk mengungkap kasus Hitadipa. Lalu bagaimana dengan Nduga yang sudah hampir dua tahun?” tanya dia.

Tabuni mengaku sangat mengapreasi keputusan pemerintah membertuk tim investigasi yang disebut sebagai Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) atas kasus pembunuhan seorang Pendeta di Hitadipa, Intan Jaya.

Namun ia juga sangat berharap pemerintah juga harus adil dalam keputusannya terkait pembentukan TGPF itu. “Apa yang salah ketika tugasnya diperluas? Tidak hanya berfokus pada persoalan Hitadipa saja, tapi sebaiknya persoalan Nduga juga harus menjadi bagian dari perhatian dan tugas TGPF,” kata Samuel yang juga anggota TGPF Hitadipa.

Persoalan Nduga sudah hampir 2 tahun terbengkalai. Pemerintah tidak memberikan perhatian secara serius untuk membentuk tim investigasi seperti TGPF Hitadipa.

Padahal pembunuhan dan penyiksaan terhadap warga sipil termasuk para hamba Tuhan dalam kasus Nduga juga banyak terjadi. Kasus terakhir terjadi pada pekan lalu di distrik Mbulmu Yalma. Menurut Tabuni pekan lalu ada aparat TNI yang menembak mati dua aparat kampung.

“Tim pencari fakta sedang bergerak ke tempat kejadian karena mayat mereka tidak ditemukan,” katanya.

Loading...
;

Karena itu ia meminta agar kasus Nduga bisa direspons pemerintah dengan cara yang sama seperti kasus di Hitadipa.

Menko Polhukam Mahfud MD membentuk TGPF untuk menyelidiki penembakan di Intan Jaya, Jumat (3/10/2020). Pembentukan itu merespons permintaan masyarakat Papua dan Gereja-gereja di Indonesia setelah kematian pendeta Yeremia Zanambani pada Sabtu (19/9/2020).

Dikutip dari CNN Indonesia, anggota tim TGPF terdiri dari Tim Pengarah yang terdiri atas 11 Anggota yang kebanyakan dari unsur pemerintah, khususnya dari Kemenko Polhukam, KSP, dan anggota BIN.

Sementara itu Tim Investigasi Lapangan yang diketuai oleh Ketua Harian Kompolnas Benny Mamoto, terdiri atas dari 18 anggota yang berasal dari berbagai bidang. Ada tokoh agama, akademisi, tokoh masyarakat, tokoh Papua, hingga dari LPSK.

Adapun anggota-anggota untuk Tim Investigasi Lapangan yang diketuai oleh Benny Mamoto yakni, Sugeng Purnomo, Makarim Wibisono, Jhony Nelson Simanjuntak, Henok Bagau, Apolo Safanfo, Constan Karma, Thoha Abdul Hamid, Samuel Tabuni, Victor Abraham Abaidata, I Dewa Gede Palguna, Bambang Purwoko, Budi Kuncoro, Rudy Heriyanto, Asep Subarkah, Eddy Rate Muis, Arif dan Edwin Partogi Pasaribu.

Sementara untuk Tim Pengarah diketuai oleh Tri Soewandono yang merupakan Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan.

Anggotanya terdiri dari Purnomo Sidi, Lutfi Rauf, Rudianto, Armed Wijaya, Janedjri M Gaffar, Rus Nurhadi Sutedjo dan Rizal Mustary. Tujuh orang ini merupakan pejabat di Kemenko Polhukam.

Kemudian dari Kantor Staf Kepresidenan (KSP) diutus Jaleswari Pramodhawardani dan dari BIN yakni Imron Cotan.(*)

EditorI Syam Terrajana

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top