Follow our news chanel

Previous
Next

AEER minta kematian puluhan penyu di Bengkulu diselidiki

penyu Papua
Ilustrasi Penyu - Pexels.com.
AEER  minta kematian puluhan penyu di Bengkulu diselidiki 1 i Papua
Ilustrasi Penyu – Pexels.com.

Tercatat kematian puluhan penyu dalam waktu singkat itu terjadi tak jauh dari PLTU batubara di Teluk Sepang, Bengkulu

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat minta kasus kematian 28 penyu di Bengkulu, dalam kurung tiga bulan terakhir ini perlu diselidiki. Lembaga itu menyatakan penyu hewan dilindungi yang masuk hewan terancam punah di Indonesia.

“Kematian penyu perlu ada penelitian dan penyelidikan secara utuh dengan melibatkan pihak-pihak independen, karena perairan Bengkulu masuk area signifikan ekologi dan biologi (EBSA) yang kaya keanekaragaman hayati,” kata Koordinator Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER), Pius Ginting, Selasa (4/2/2020) kemarin.

Baca juga : Kendaraaan operasional penangkaran penyu disewakan ke wisatawan

Sosialisasi pelestarian penyu diintensifkan di Kampung Makimi

Mataram segera buka ekowisata pelepasan anak penyu

Loading...
;

Penyelidikan diharapkan bukan hanya berasal dari kalangan pemerintah seperti Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), tetapi juga dari Universitas Bengkulu, dan pemerhati lingkungan hidup agar terbebas dari kepentingan.

Tercatat kematian puluhan penyu dalam waktu singkat itu terjadi tak jauh dari PLTU batubara di Teluk Sepang, Bengkulu. Sejumlah kalangan menduga ada kaitannya dengan ujicoba operasi pembangkit listrik energi fosil tersebut.

Hal ini lantas menjadi pertanyaan mendasar mengingat Perairan Bengkulu masuk ke dalam kawasan EBSA yang memiliki signifikansi lebih tinggi terhadap satu atau lebih spesies dari ekosistem dibanding daerah lainnya.

“Ketika perairan yang kaya keanekaragaman hayati terganggu, maka berpotensi merusak spesies lain. Kami menduga kematian penyu-penyu tidak terlepas dari keberadaan PLTU yang berkontribusi menyebabkan gangguan terhadap kawasan itu,” kata Pius menjelaskan.

Kematian puluhan penyu diketahui BKSDA Bengkulu-Lampung yang mengumumkan penyebab kematian 28 penyu akibat infeksi bakteri salmonella dan clostridium. Hal ini berdasarkan hasil uji laboratorium Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor.

“Hasil diskusi dengan lembaga konservasi penyu internasional bahwa kedua spesies bakteri itu terdapat hampir di semua penyu, jadi tidak bisa kemudian dijadikan alasan kedua bakteri menjadi penyebab utama kematian,” kata Pius mengacu hasil kajian BKSDA.

Ia menyebutkan semua jenis penyu laut di Indonesia dilindungi, hal itu mengacu regulasi perlindungan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomer 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Selain itu, Badan Konservasi Dunia (IUCN) juga telah menyatakan penyu laut masuk ke dalam daftar merah spesies yang terancam. (*)
Editor : Edi Faisol

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top