Follow our news chanel

Aibon matikan potensi generasi emas Papua 

Pemateri pada seminar publik – Jubi/IST
Aibon matikan potensi generasi emas Papua  1 i Papua
Pemateri pada seminar publik – Jubi/IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Paniai, Jubi – Peduli terhadap generasi  emas anak-anak Papua, Aliansi Pemberdayaan Masyarakat Papua Selatan (APMAS PASEL), menggelar seminar publik ‘Menyelamatkan Generasi Muda Papua dari Penyalahgunaan Napza (Aibon dan Fox) di Tanah Papua’ di aula Margasiswa PMKRI Jakarta, Senin (2/12/2019).

Anak-anak aibon (label yang diberikan masyarakat pada penyalahguna salah satu merek lem), kian marak di wilayah Papua secara umum. Jika tidak dilakukan tindakan khusus dikhawatirkan akan  merusak dan memutus rantai generasi emas Papua dalam menghadapi  perubahan zaman.

Seminar ini menghadirkan narasumber dari kalangan politisi hingga rohaniwan Katolik, yakni  Pastor Antonius Haryanto, Pr (Sekretaris Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia – KWI), Thomson Silalahi (Sekretaris Jenderal PP Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia–PP PMKRI), dan konfirmasi via telepon Otopianus P. Tebai (anggota DPD RI Dapil Papua) yang sedianya hadir memberikan materi.

Seminar publik yang dilaksanakan di aula Margasiswa PMKRI ini sengaja dilaksanakan di Jakarta, guna menarik perhatian dan dukungan dari berbagai pihak atas situasi, yang nampaknya kurang seksi dibandingkan berbagai isu lainnya terkait Papua.

Terkait hal tersebut, Pastor Haryanto mengharapkan kedalaman  dan kerincian data dan fakta dari situasi mengkhawatirkan tersebut. Kelengkapan tersebut nantinya akan dapat menarik dukungan dan partisipasi dari berbagai pihak, secara khusus tentunya mengingat  keberadaan Gereja Katolik di Tanah Papua merupakan mitra strategis dalam memberikan pengayoman dan pemberdayaan masyarakat.

Fenomena ini, lanjut Pastor Haryanto, semestinya mendapatkan perhatian khusus dari berbagai pihak, selain keluarga, masyarakat, pemerintah, dan pastinya institusi keagamaan. Terkait hal tersebut, secara umum menyitir Nota Pastoral KWI Tahun 2014 tentang Menyikapi Kejahatan Sosial Narkoba di Indonesia.

Loading...
;

“Hendaknya para pelaku penyalahgunaan ditempatkan sebagai korban yang perlu didampingi dan ‘dibela’ dalam konteks kemanusiaan dan kehidupan sosial,” kata Pastor Haryanto.

Selain positioning terhadap korban, pembicara lain Thomson Silalahi menyampaikan perlunya dibentuk dan dikondisikan berbagai aktivitas pengalih, berupa sarana dan prasarana yang mampu mengalihkan perhatian pada ketergantungan tindakan ‘ngelem’ tersebut.

Pria asal Samosir ini melanjutkan, sebagai lumbung atlet nasional, hendaknya hal ini disinergikan dengan berbagi pihak terkait selain juga berbagai fasilitas pemacu kreativitas dan pembelajaran. Juga tidak kalah pentingnya keterlibatan keluarga dalam memantau dan memperhatikan jadwal anak-anak, agar lebih terkondisi dan terarah tidak terlibat dalam penyalahgunaan lem tersebut.

“Sebagai organisasi kader yang memiliki cabang di berbagai Kab/Kota di Tanah Papua, PMKRI mendukung baik upaya-upaya yang terbaik bagi pencegahan dan rehabilitasi korban,” ucap Thomson.

Sementara, dalam kesempatan terpisah saat dihubungi via telepon, Otopianus P. Tebai mengharapkan perhatian yang lebih lagi dari pemerintah daerah, seluruh keluarga, dan masyarakat agar bersinergi menangani masalah tersebut.

Selain itu, anggota DPD RI Dapil Papua tersebut mengharapkan agar dikeluarkan regulasi khusus terhadap penanganan dan pemberantasan penyalahgunaan NAPZA (khususnya lem, yang luput dari perhatian).

“Sangat diharapkan upaya yang telah dilakukan oleh APMAS PASEL ini didukung oleh semua lembaga dan pihak terkait, agar generasi emas di Tanah Papua dalam 20 tahun mendatang benar-benar bermanfaat dan berkontribusi bagi Tanah Papua khususunya dan Indonesia pada umumnya,” ungkap Otophianus P. Tebai dalam via telepon.

Lebih lanjut, Fransiska Gondro Mahuze (aktivis PMKRI dan Pemuda Katolik), mengharapkan pemerintah pusat memberikan perhatian pada enam daerah khusus, yakni Jayapura, Merauke, Wamena, Mimika, Nabire, dan Manokwari sebagai daerah khusus yang menjadi pintu masuk utama ke kabupaten lainnya.

“Bila pintu masuk ini dapat diatasi, diharapkan persebarannya dapat diatasi dan diminimalisir. Sebagai salah satu masalah mendasar, karena melibatkan anak di usia 8–17 tahun ini, perhatian di Tanah Papua dalam konteks pencegahan merupakan cara simpatik, manusiawi, dan penuh kasih yang bisa menjadi panduan dalam penanganan di wilayah Tanah Papua secara menyeluruh,” pungkasnya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top