Follow our news chanel

AJI Indonesia dan Internews gelar workshop perangi hoaks di UM Sorong

Para peserta mulai berdatangan sebelum workshop dimulai. -Jubi/Kris
AJI Indonesia dan Internews gelar workshop perangi hoaks di UM Sorong 1 i Papua
Dekan Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Sorong, Irman Amri, saat membuka workshop. -Jubi/Kris

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sorong, Jubi – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Internews, menggelar workshop Hoax Busting and Digital Hygiene, di Universitas Muhammadiyah Sorong, Papua Barat, Rabu (20/11/2019).

Saat membuka kegiatan tersebut, Dekan Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Sorong, Irman Amri menyampaikan workshop seperti ini penting di era digital yang bertumpu pada pesatnya perkembangan teknologi.

“Kita tidak boleh sembarangan membagikan apa saja di media sosial. Saya juga sering mengecek kebenaran informasi, sebelum membagikannya,” katanya.

Lanjutnya, tools yang akan diajarkan para pemateri harus dicermati, karena mengajarkan bagaimana cara memerangi hoaks.

“Juga untuk mengetahui bagaimana menjaga kebersihan digital para pengguna internet,” jelasnya.

Penggagas kegiatan ini adalah duet antara dua dosen UM Sorong, Muhammad Yusuf dan Teguh Hidayat Iskandar Alam dibantu para mahasiswa yang tergabung dalam UKM Kreatif UM Sorong.

Loading...
;

Yusuf mengatakan, ide kegiatan ini berawal dari maraknya workshop mengenai melawan hoaks, yang berlangsung di seluruh Indonesia.

“Dan sangat bagus jika UM Sorong bisa mengadakannya, juga sebagai permulaan di Kota Sorong dan Papua Barat. Niat ini kemudian direspons positif oleh Dekan Fakultas TI dan Pak Teguh sebagai pembina UKM Kreatif,” katanya.

Ia tak lupa berterimakasih kepada AJI Indo dan penyelenggara dari UKM Kreatif UM Sorong, karena kegiatan ini bermanfaat di tengah maraknya informasi hoaks di media sosial dan jejaring internet lainnya.

“Semoga kegiatan seperti ini bisa berlanjut terus di Kota Sorong di hari-hari berikutnya, agar semakin memberi pemahaman kepada masyarakat Papua Barat khususnya di Kota Sorong, terhadap upaya mengecek setiap berita atau informasi yang diperoleh dan tidak menyebarkan berita yang belum valid kebenarannya,” katanya.

Selain itu, kata Yusuf, rencananya di UM Sorong akan segera dibentuk Lembaga Pers Mahasiswa. “Jadi yang mau terjun ke dunia jurnalistik juga bisa belajar di Pers Mahasiswa.”

Ditambahkan Teguh, workshop ini diminati bukan hanya dari para mahasiswa di UM Sorong. Tapi ada juga dari kampus lain dan para penggiat literasi.

“Pendaftarannya lewat online di WhatsApp dan banyak peminatnya,” katanya.

AJI Indonesia dan Internews gelar workshop perangi hoaks di UM Sorong 2 i Papua

Para peserta mulai berdatangan sebelum workshop dimulai. -Jubi/Kris

Dua pemateri atau trainer tersertifikasi Google yang bekerja untuk AJI Indonesia dan Internews, Kristianto Galuwo dan Dickrilhakim Iriawan menjelaskan, meski di era digital kebutuhan untuk membaca dan mengolah informasi penting, karena salah satu faktor cepatnya orang-orang di Indonesia termakan hoaks akibat masih minimnya literasi.

“Indonesia ada di urutan 60 dunia untuk minat membaca. Dari data UNESCO 2012, minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen. Jadi di antara 250 juta penduduk Indonesia, hanya 250.000 yang berminat membaca,” kata Kristianto, saat materi berlangsung.

Dikrilhakim menambahkan, khusus untuk digital hygiene, yang harus diperhatikan para pengguna internet adalah keamaan data di media sosial dan aplikasi lainnya.

“Karena data itu akan disalahgunakan oleh orang-orang yang berkepentingan. Usahakan untuk membuat kata sandi yang aman, dan terus diperbaharui secara berkala,” katanya.

Workshop yang dihadiri 76 peserta ini, juga diikuti komunitas Forum Literasi Sorong Raya. Salah satunya adalah Hana Franis Kareth. Ia bersepakat dengan materi yang dijelaskan, bahwa literasi berperan penting untuk menangkal informasi tidak benar.

“Harus punya kemampuan untuk membaca dan mengolah informasi. Kegiatan ini sangat besar manfaatnya, karena kita sebagai masyarakat pengguna media sosial, dapat menangkal berita-berita bohong, memverifikasi atau mengecek kebenarannya sendiri, tanpa harus menunggu orang lain memberitahukan bahwa informasi itu hoaks atau bukan,” katanya.

Selain itu, kata dia, masyarakat juga harus memiliki minat membaca buku karena informasi yang beredar di internet, terkadang sumbernya belum jelas.

“Sedang di buku-buku bacaan, sudah jelas sekali penulis, penerbit, dan data-data bisa dipertanggung-jawabkan,” katanya. (*)

 

Editor: Angela Flassy

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top