Follow our news chanel

Previous
Next

Akibat Covid-19 kearifan lokal Tuvalu kembali populer

Satu keluarga memancing ikan di Funafala, Tuvalu. - Development Policy Centre/ Farbotko

| Papua No.1 News Portal | Jubi

Oleh Taukiei Kitara dan Carol Farbotko

Di dalam perbatasan negara Tuvalu yang sedang tutup akibat pandemi, dan masih terus mempertahankan status bebas Covid-19, generasi muda Tuvalu menghadapi tantangan dan peluang yang baru.

Sekolah-sekolah di negara itu tutup sementara, namun dampak penutupan itu kepada jadwal belajar mengajar cukup rendah karena periode penutupan sekolah ini mirip dengan yang biasanya diberlakukan di Tuvalu selama musim cuaca ekstrem. Namun, penutupan sekolah untuk pelajar di sekolah-sekolah menengah atas telah dimulai dari Maret dan masih berlanjut sampai Juni.

Hingga Juni, telah terjadi migrasi masyarakat yang signifikan dari ibu kota, Funafuti, ke pulau-pulau kecil di sekitar atol Funafuti serta pulau-pulau terluar. Sejumlah keluarga yang pindah ini sudah memutuskan bahwa anak-anak mereka tidak akan kembali ke sekolah lagi ketika itu kembali dibuka. Dengan hanya dua sekolah menengah atas di Tuvalu – Fetuvalu di Funafuti dan sekolah berasrama Motofoua di Pulau Vaitupu – beberapa keluarga di pulau-pulau terluar lebih memilih anak-anaknya untuk tinggal dengan mereka, sementara pelajar lainnya pindah sekolah dari Fetuvalu ke Motofoua.

Untuk pelajar yang tidak menghadiri sekolah, Kementerian Pendidikan negara itu telah menerapkan metode alternatif dalam penyampaian layanan pendidikan. Perencanaan kontingensi bidang pendidikan itu dibahas dalam Rencana Talaaliki atau Talaaliki Plan nasional Tuvalu, yang menjabarkan langkah-langkah darurat nasional jika ada diagnosis positif Covid-19 dan jika ada pengurangan dalam impor makanan, bahan bakar, dan barang-barang lainnya. Meski tidak satupun dari skenario terburuk ini telah terjadi, Kementerian Pendidikan Tuvalu tetap beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip panduan Rencana Talaaliki, dengan mengadaptasikan sistem pendidikan Tuvalu agar semua pelajar dapat melanjutkan pembelajaran mereka di lingkungan berbasis rumah.

Di bawah pengaturan Rencana Talaaliki, tanggung jawab untuk menyediakan pendidikan diperluas ke luar Kementerian Pendidikan, sebagian tanggung jawab untuk mengawasi pembelajaran juga dialihkan ke keluarga dan masyarakat setempat. Dengan meningkatnya jumlah pelajar dan orang-orang muda yang pindah ke daerah-daerah terpencil, tidak mengherankan jika Covid-19 telah kembali meningkatkan minat generasi muda akan kearifan lokal Tuvalu. Perhatian ini terutama berfokus pada produksi pangan lokal, yang juga merupakan fitur utama dalam rencana ketahanan pangan Talaaliki.

Loading...
;

Kembali ke akar: pelatihan mengenai produksi pangan lokal

Program-program pelatihan bidang pertanian dan perikanaan asli Tuvalu telah diadakan di ibu kota dan di daerah pedesaan. Melalui proyek Food Futures Project, yang didanai oleh Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Tuvalu, dan diselenggarakan oleh Live and Learn Environmental Education, anak-anak muda yang tertarik dibawa ke daerah rawa dimana talas rawa raksasa atau pulaka dibudidayakan, untuk menyaksikan sebuah presentasi mengenai cara menanam dan membuat kompos dari pulaka, sebuah umbi raksasa yang biasanya ditanam di rawa-rawa.

Para peserta juga dilibatkan dalam praktik simulasi untuk mengumpulkan nira dari pohon-pohon kelapa. Program Ini termasuk pengajaran cara memilih pohon kelapa yang tepat, membersihkan pohon, dan memastikan penggunaan peralatan yang benar – sebuah pisau tajam dan kolokolo yang kuat (kolokolo adalah benang yang dibuat dari serat kelapa).

Pelatihan pengawetan ikan, yang didukung oleh Bank Dunia, dilaksanakan di Papaelise, sebuah pulau kecil di luar Funafuti yang sebelumnya berpopulasi sangat kecil namun kini lebih padat akibat pendatang baru yang mematuhi arahan pemerintah untuk pindah dari ibu kota ke pulau-pulau lebih terpencil jika memungkinkan. Peralatan untuk pengasapan ikan-ikan sudah dibangun, diikuti dengan kelas mengenai proses pengasapan, dari mempersiapkan ikan hingga metode pengasapan.

Partisipan dari program ini, sebagian besar merupakan orang muda dewasa, sedang menimbang-nimbang untuk mengubah ini menjadi usaha untuk meningkatkan pemasukan mereka: menjual ikan yang sudah diasap ke orang-orang di ibu kota. Mereka percaya bahwa inisiatif bisnis seperti ini akan membantu mereka menerapkan dan menjaga keterampilan dan pengetahuan yang mereka dapatkan dari pelatihan itu diteruskan dari satu orang muda ke yang lainnya, dan pada saat yang bersamaan, mereka akan dapat mendapatkan pemasukan untuk menghidupi keluarga mereka. Saat ini, pekerjaan bergaji di pulau Papaelise yang kecil sangat terbatas.

Pelatihan ini digambarkan oleh media nasional Tuvalu sebagai tanggapan terhadap melonjaknya minat akan produksi pangan mandiri selama pandemi, serta peningkatan ketahanan pangan akibat perubahan iklim. Bagi orang-orang muda secara khusus, Covid-19 telah memicu interes baru dalam pengetahuan adat, disamping pendidikan gaya Barat yang lebih formal.

Kelompok pelatih terdiri dari sesepuh-sesepuh masyarakat yang ingin meneruskan kearifan mereka, dan mungkin bisa mengurangi ketergantungan pada makanan yang dibeli, yang mencapai 92% di daerah ibu kota.

Generasi muda yang diwawancarai di media-media Tuvalu mengakui bahwa mereka tidak tahu keterampilan tradisional seperti menanam pulaka, tetapi setelah mempelajarinya, sekarang ini tampaknya penting, tidak hanya untuk diri mereka sendiri dan keluarga mereka, tetapi juga untuk meneruskan apa yang telah mereka pelajari kepada anak-anak sebagai keterampilan untuk bertahan hidup jika ada persoalan global yang sama lagi kedepannya.

Pergeseran dalam kegiatan orang-orang muda Tuvalu ini dapat diamati terjadi sehubungan dengan percakapan nasional negara itu saat ini tentang nilai-nilai Tuvalu, topik yang juga dibahas saat konsultasi nasional untuk membentuk Kebijakan Luar Negeri Tuvalu. Selama proses konsultasi itu diadakan dengan kalangan muda, mereka merenungkan pentingnya nilai-nilai Tuvalu, bukan hanya dalam hal kebijakan luar negeri, tetapi juga dalam perilaku di dalam negeri Tuvalu sendiri – di masyarakat, organisasi-organisasi, dan di keluarga-keluarga. Generasi muda Tuvalu berpendapat bahwa citra yang dipertunjukkan kepada komunitas internasional harus merupakan gambaran dari apa yang dipraktikkan di dalam negeri.

Melihat perubahan dalam kehidupan banyak anak muda di Tuvalu sejak perbatasannya ditutup, tampaknya Covid-19 telah menyediakan kesempatan bagi muda Tuvalu untuk berpikir dengan cara yang baru mengenai isu-isu penting seperti pengetahuan dan nilai-nilai asli Tuvalu. (Development Policy Centre, Australian National University)

Taukiei Kitara adalah Presiden Komunitas Tuvalu di Brisbane. Carol Farbotko adalah seorang peneliti di University of the Sunshine Coast.

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top