Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Aksi 1.000 lilin Jayawijaya untuk Deiyai

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Wamena, Jubi – Ratusan warga masyarakat Jayawijaya di Kota Wamena yang tergabung dalam solidaritas untuk Deiyai menggelar doa bersama dan pembakaran 1.000 lilin dari Jayawijaya untuk Deiyai, Sabtu (5/8/2017) malam, di halaman gedung DPRD Jayawijaya.

Hal ini merupakan wujud rasa kemanusiaan dan keprihatinan warga masyarakat Jayawijaya terhadap tragedi penembakan di Deiyai yang menyebabkan seorang warga meninggal dan belasan warga lainya mengalami luka-luka.

Aksi 1.000 lilin Jayawijaya untuk Deiyai 1 i Papua

Pemuda pemudi, orang tua bahkan anak-anak yang hadir bukan hanya dari Jayawijaya saja, melainkan masyarakat Suku Mee dan non Papua yang tinggal di Wamena dan sekitarnya pun turut hadir di kegiatan tersebut.

Kepala Kelurahan Wamena Kota, Lenny Doga, yang juga koordinator aksi mengakui aksi ini suatu solidaritas masyarakat yang ada di Jayawijaya untuk para korban di Deiyai.

Menurutnya, masalah yang terjadi di Kabupaten Deiyai seharusnya aparat tidak asal main tembak sembarang yang menyebabkan nyawa orang melayang. Masyarakat Papua dan sebagai tokoh perempuan ia bisa merasakan bagaimana sulitnya membesarkan seorang anak, namun dengan waktu yang singkat dihabiskan.

"Kejadian ini sangat tidak manusiawi. Kami melakukan kegiatan ini sama sekali tidak ada unsur politik. Ini murni inisiatif dari kami pemuda di Jayawijaya yang merupakan kepedulian terhadap kasus penembakan di Deiyai," ucap Lenny Doga.

Loading...
;

Setelah melakukan ibadah singkat dalam aksi tersebut, masyarakat langsung menyalakan lilin dan perenungan terhadap jatuhnya korban di Deiyai. Masyarakat membawa sebuah peti jenazah dan karangan bunga lalu membakar peti tersebut dengan lilin yang telah dipegang setiap orang, sebagai simbol protes terhadap kasus di Deiyai. 

PGGJ kecam keras kasus penembakan di Deiyai

Atas tragedi penembakan di Deiyai, Persekutuan Gereja-gereja Jayawijaya (PGGJ), mengecam keras tindakan oknum aparat yang melakukan penembakan terhadap masyarakat sipil.

Gereja melihat, aksi seribu lilin untuk Deiyai ini merupakan sesuatu yang positif, karena masyarakat yang mengalami kekerasan di Kabupaten Deiyai itu merupakan bagian dari lapisan masyarakat di Jayawijaya.

Namun yang terpenting dalam duka ini, sudah saatnya berhenti mengalirkan darah di atas tanah Papua, gereja, pemerintah, dan masyarakat sudah mengganggap Papua Tanah Damai harusnya konsekuen untuk menjaga itu bersama.

"Kenyataannya sikap arogan aparat keamanan yang terjadi kepada masyarakat di Deiyai, merupakan suatu hal yang melukai perwujudan dan semboyan Papua sebagai tanah damai," ungkap Ketua PGGJ, Pdt. Yoram Yogobi.

Untuk itu dirinya minta agar aparat tidak mengunakan alat negara secara semena-mena untuk membunuh rakyat di tanah ini. Gereja berharap pendekatan persuasif harus dilakukan sebelum melakukan pendekatan yang lain.

“Yang berhak mencabut nyawa seseorang itu adalah Tuhan, bukan manusia. Sehingga kami menyesalkan dan mengecam keras kejadian yang dialami saudara-saudara kita di Deiyai,” kata Pdt. Yoram Yogobi.

 

Minta perusahaan angkat kaki dari Deiyai

Kepala Suku Mee di Jayawijaya, Simon L Kudiai, minta agar perusahaan yang menyebabkan tragedi ini bisa terjadi segera angkat kaki dari Deiyai, karena telah menyebabkan korban jiwa.

Hal itu menurutnya, sebenarnya disebabkan oleh hal sepele andaikata pihak perusahaan sewaktu masyarakat meminta pertolongan untuk membawa teman nya ke rumah sakit digubris.

“Akibat pihak perusahaan tidak mau bantu makanya masyarakat kesal, ditambah datang aparat bersenjata lalu mengeluarkan tembakan, menambah sakit hati masyarakat dan juga kami selaku kepala suku Mee di Jayawijaya ini,” tegasnya.

Keluarga besar Suku Mee di Jayawijaya juga minta Gubernur Papua mencabut ijin operasional perusahaan-perusahaan di Deiyai, sebab mereka yang menyebabkan masalah ini terjadi dan segera menyelesaikan masalah ini.

“Tak lupa kami berterima kasih atas aksi 1.000 lilin untuk Deiyai ini, intelektual suku Mee memang sangat sakit hati dengan kasus Deyai, Pania,i dan juga di daerah lain di Papua, karena cara-cara main tembak ini sangat tidak diterima,” ucap Simon L Kudiai. (*)

 

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top