Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Aksi lilin dari Sorong untuk Nduga

Aksi bakar lilin yang digelar di Taman Sorong City, Jumat (7/3/2020) sore – Jubi/Yuliana Lantipo
Aksi lilin dari Sorong untuk Nduga 1 i Papua
Aksi bakar lilin yang digelar di Taman Sorong City, Jumat (7/3/2020) sore – Jubi/Yuliana Lantipo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sorong, Jubi – Rintik hujan pada Jumat (7/3/2020) sore di Kota Sorong, Papua Barat, tidak menghentikan semangat kemanusiaan sejumlah pemuda dan pemudi untuk membentangkan spanduk, poster, dan menyalakan lilin-lilin di emperan Taman Sorong City, tak jauh dari Bandara Domini Eduard Osok (DEO). Aksi yang dilakukan setiap hari Jumat itu sudah berlangsung selama dua bulan, sejak Januari 2020.

Koordinator Aksi Bakar Lilin untuk Nduga, Leonardo Ijie, mengatakan aksi damai untuk kemanusiaan atas kasus Nduga dilakukan atas komitmen bersama generasi muda dan terbuka bagi semua orang yang peduli pada penegakan keadilan dan cinta kedamaian di atas Tanah Papua (Provinsi Papua dan Papua Barat), khususnya Nduga.

Aksi lilin dari Sorong untuk Nduga 2 i Papua

Aksi lilin dari Sorong untuk Nduga 3 i Papua

Data yang dirilis Papua Behind Bar tentang kematian masyarakat sipil selama operasi militer di Nduga, sejak 4 Desember 2018 hingga 2 Februari 2020, mencatat sebanyak 243 orang. Angka itu termasuk sipil yang dibunuh oleh militer dan polisi Indonesia, serta yang meninggal karena kelaparan dan penyakit karena mengungsi dari kampung mereka.

Ijie, yang juga Sekretaris Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kaki Abu melihat bahwa negara telah mengabaikan hak-hak masyarakat Nduga dalam berbagai hal, salah satunya adalah rasa aman.

“Sampai hari ini, tidak ada penanganan serius dari negara bahkan pemerintah. Dan, ini mulai hilang dari pandangan kita sebagai manusia, terutama untuk kita orang asli Papua,” katanya saat ditemui Jubi di lokasi aksi pembakaran lilin untuk Nduga, Jumat malam.

Loading...
;

“Kasus Nduga ini merupakan bagian dari kita. Kita tidak bisa melupakan dia. Kalau kita sendiri diam, dunia tidak akan tahu persoalan yang sedang terjadi di kita. Dan, kalau kita sendiri diam, bagaimana orang akan mendengar jeritan dan tangisan kita?”

Aksi pembakaran lilin untuk Nduga akan terus berlangsung hingga masyarakat asli Nduga mendapat rasa keamanan. Hal tersebut dapat terlihat dengan kembalinya para pengungsi ke kampung-kampung di Nduga dan beraktifitas kembali tanpa rasa terintimidasi. “Hari ini, bentuk aksi yang kita ingin sampaikan ke dunia [dan] ingin sampaikan ke [masyarakat] Nduga sendiri bahwa Nduga tidak sendiri. Kami hari ini ada,” ucap Ijie pada aksi kedelapan tersebut.

“Kami bertekad untuk lakukan aksi ini sampai situasi Nduga itu benar-benar kondusif. Kami minta supaya negara harus melihat ini [sebagai] masalah yang penting. Eksodus besar-besaran terjadi di Nduga, pelanggaran HAM terjadi besar-besaran di Nduga. Tidak ada perikemanusiaan yang baik,” kata Ijie.

Pada aksi Jumat ini, jumlah peserta aksi tidak sebanyak aksi pada hari-hari sebelumnya.

“Mungkin karena hujan jadi tidak banyak yang datang,” ujar Ijie, yang menjelaskan bahwa aksi-aksi yang dipimpinnya itu berjalan lancar selama ini.

“Biasanya nanti ada dua anggota polisi yang datang awasi saja.”

https://www.youtube.com/watch?v=ibbcydGBpqw

Salah satu peserta aksi, Debby, mengatakan kesediaannya mengikuti aksi damai tersebut berawal dari rasa keprihatinannya atas sejumlah peristiwa pelanggaran HAM dan kekerasan dari alat-alat negara terhadap masyarakat sipil Papua.

“Saya representasi dari teman-teman Nusantara, saya muslim, saya sangat prihatin dengan peristiwa-peristiwa akhir-akhir ini [yang terjadi] di Papua,” kata Debby.

Senada dengan Ijie, Debby pun melihat seolah terjadi pembiaran oleh negara dan pemerintah atas penyelesaian hukum peristiwa-peristiwa yang telah merampas hak-hak masyarkat biasa di atas Tanah Papua.

“Negara seolah-olah membiarkan peristiwa pelanggaran HAM, peristiwa Nduga, sehingga, kami semua di Papua menjadi was-was. Terutama kami pendatang, dengan informasi yang terbatas, kami saling curiga. Saya bersolidaritas dengan murni untuk menyuarakan Papua damai,” ujar pria berkulit sawo matang itu.

Aksi pembakaran lilin untuk Nduga yang diiringi sejumlah lagu kelompok band legendaris Black Brothers itu berlangsung sekira satu jam dan peserta aksi sekira kurang dari 20 orang pun membubarkan diri dengan tertib di bawah rintik hujan. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top