Follow our news chanel

Aksi memulung di Bukit Tungku Wiri

Papua No. 1 News Portal | Jubi

DUA PARASUT terbang di langit siang yang mendung. Paralayang itu seakan-akan menghibur seratus lebih orang yang tengah memulung.

Siang itu, Sabtu 26 Januari 2019, Bukit Tungku Wiri atau kerap disebut Bukit Teletubbies yang terletak di Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, lebih ramai dari biasanya. Sejumlah komunitas yang prihatin karena banyaknya sampah plastik berserakan di lokasi objek wisata itu, mengais dan memunguti sampah yang dianggap merusak lanskap perbukitan hijau padang ilalang. Aksi itu bertema “Teletubbies Clean Up”.

Dani Maxey atau yang tenar dengan nama Suku Dani di akun media sosialnya adalah salah satu penggagas kegiatan. Pria berdarah Kanada itu, dikenal sering berkampanye dan mengajak orang-orang untuk menjaga alam Papua.

"Kegiatan begini nanti kitong lakukan sekali dalam seminggu, atau mungkin sebulan sekali. Kitong lihat karena butuh banyak orang," kata Dani, dengan dialek khas Papua.

Dani fasih berbahasa lokal. Karena ia dilahirkan di Entrop, Kota Jayapura, pada 22 April 1996. Setelah itu ia tumbuh di Wamena dan di Kampung Silimo, sebuah daerah pedalaman yang sekarang menjadi wilayah administrasi Kabupaten Yahukimo.

Tak hanya sekali Dani mengajak orang-orang untuk peduli lingkungan. Ia berkali-kali mengunjungi objek wisata di Papua, lalu menyuarakan keprihatinannya akan menumpuknya sampah. Baginya, alam Papua begitu indah dan harus dirawat, jangan hanya berkunjung menikmatinya lantas mengotorinya.

Loading...
;

"Sa tahu banyak orang mau supaya ada perubahan. Apalagi dong ana-ana muda yang harus bisa mengambil keputusan."

Dani mengajak generasi muda, agar tak perlu malu memunguti sampah. Karena baginya yang harus dibuang adalah gengsi-gengsian. Begitu pun aksi di lokasi yang ramai dikunjungi, menjadi penting karena sekaligus bisa mengajak pengunjung. Semakin banyak orang yang tergerak hatinya, kata dia, semakin sukses apa yang mereka suarakan.

"Kalau sa siap turun di mana saja, mau suruh sa turun di got, orang pu belakang rumah kah, itu sa trada masalah," ujarnya.

Selain itu, kata Dani, pemerintah harus mendukung dan mendorong masyarakat untuk peduli lingkungan. Tak hanya di Papua, tapi di seluruh Indonesia. Untuk itu, ia bersama teman-teman komunitas, membuat petisi dengan membubuhkan ratusan lebih tanda tangan di spanduk yang terbentang di lokasi kegiatan. Pesan dalam spanduk, terkait kepedulian mereka terhadap lingkungan, khususnya bagaimana mengatasi sampah plastik.

"Dengan petisi ini, kitong mau supaya ada suara dari banyak orang."

Pengelola Bank Sampah Kenambai Umbai, Farah Febriyanti (35), yang juga menginisiasi aksi itu mengatakan ada beberapa komunitas turut andil di antaranya Dofonsoro, Komunitas Papua Trada Sampah, Komunitas Peduli Sungai, Komunitas Perlindungan Anak, dan para relawan.

Aksi ini hanya inisiatif dari mereka yang sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Beberapa bocah bahkan diajak agar kesadaran mereka terasah sejak dini. Hasilnya, dari kerja sama yang tekun, berkilo-kilo sampah terkumpul. Kebanyakan yang mereka kumpulkan terdiri dari sampah residu. Sisanya berbahan plastik, mulai dari botol air mineral dan minuman soda, sedotan, kantong plastik, kemasan makanan ringan dan lain sebagainya.

"Sampah yang bisa didaur ulang sebanyak 150 kilogram dan residu 164 kilogram. Totalnya 314 kilogram. Yang bisa didaur ulang dibawa ke Bank Sampah Kenambai Umbai. Sementara sisanya diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir terdekat," jelasnya.

Selanjutnya, kata perempuan yang akrab disapa Mbak Wawa, kegiatan menjadi rutin dilakukan di setiap objek wisata dan tempat umum lainnya. Target berikutnya adalah lokasi objek wisata Danau Imfote atau dikenal dengan sebutan Danau Love.

"Semoga dengan aksi ini, masyarakat akan sadar betapa berbahayanya sampah plastik, karena lama sekali terurai."

Aksi memulung sampah di Bukit Tungku Wiri berlangsung selama dua jam lebih, dimulai pukul 2 siang. Setiap rerimbun ilalang dan pondok persinggahan di perbukitan disusuri. Berkarung-karung sampah yang terkumpul menggunung.

Pengunjung yang datang, akhirnya tergerak hatinya dan satu demi satu ikut memunguti sampah. Seperti sekelompok remaja perempuan yang sedang menanjaki punggung bukit, belakangan ikut berbaur dengan komunitas dan para relawan.

Salah satu remaja, Ika Wenda, ikut membantu karena merasa terpanggil. "Sebenarnya kitong cuma jalan-jalan. Tapi pas lihat dong bersih-bersih, sa dan teman-teman ikut," kata siswi dari Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Sentani itu.

Ika mengaku sebelumnya sering berkunjung ke bukit ini dan pernah membuang sampah di sembarang tempat. Tapi setelah hari itu, ia bertekad akan membiasakan diri untuk tidak seenaknya lagi membuang sampah.

"Sebenarnya di sini ada tempat sampah. Tapi dong habis makan atau minum, terus buang begitu saja. Sa juga pernah melakukan hal yang sama. Tapi kitong harus bisa berubah," katanya. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top