Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Aktivis perempuan Papua: Miras Itu mesin pembunuh

Aksi Demo tolak peredaran Miras di kabupaten Jayapura diikuti siswa sekolah – Jubi/Agus Pabika.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Minuman Beralkohol atau Minuman Keras (Miras) berdampak buruk untuk kehidupan orang asli Papua di tanah ini. Hal ini dikarenakan menghancurkan keluarga, menimbulkan KDRT, seks bebas dan lakalantas (kecelakaan lalu lintas) akibat dari miras.

Hal tersebut dikatakan Iche Murib, aktivis Perempuan Papua ketika menanggapi aksi demo Forum Pemuda-Pemudi kabupaten Jayapura bersama Solidaritas Anti Miras dan Narkoba (SAMN) kota Jayapura beberapa waktu lalu di Kantor Bupati Jayapura.

Dampak negatif dari Miras yakni dapat merusak kesehatan sel-sel saraf bagi yang mengkonsumsi miras tersebut, terutama generasi muda Papua di tanah Papua.

“Perempuan Papua melihat Miras secara utuh itu, kita tidak pernah melahirkan anak-anak mati karena miras, itu sangat menyedihkan. Bagaimana kita sudah melahirkan, merawat kemudian membesarkan dan menyekolahkan, belum selesai terjadi hal-hal seperti diatas dan itu sesuatu yang tidak terpuji,” kata Iche, Senin (18/02/2020).

Iche juga menegaskan, bahwa Miras bukan budaya dan kebiasaan orang Papua. Namun ia berujar, tindakan untuk menutup toko Miras itu bukan solusi, tapi bagaimana kesadaran daripada generasi muda Papua itu sendiri untuk tidak mengkonsumsi miras.

“Dan bagi yang belum rasa itu jangan coba-coba rasa, karena satu kali rasa itu ingin terus mencoba. Kalau kamu (orang Papua) semua mati ini, negeri ini mau kasih siapa? Tanah, hutan, gunung dengan kekayaan yang melimpah ini,” kata Iche.

Loading...
;

Sementara itu Anias Lengka, Ketua Solidaritas Anti Miras dan Narkoba kota Jayapura punya anggapan lain. Menurutnya, sejumlah pejabat Papua juga ikut terlibat membunuh saudaranya sendiri melalui izin usaha Minol yang diberikan kepada para pengusaha, padahal para pejabat ini sudah tahu bahwa Minol menjadi ancaman bagi orang Papua.

“Papua ada Otsus, di mana kepala daerah dari Gubernur, Ketua DPR Papua, Ketua MRP, bupati dan wakil bupati serta wali kota semua orang asli Papua, tapi mereka tidak berani berbicara soal penyelamatan orang asli Papua dari peredaran miras di seluruh tanah Papua,” kata Lengka. (*)

Editor: Edho Sinaga

Baca juga artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top