TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Anak-anak jalanan Jayapura mandiri lewat usaha kopi “Q’ Tong Pu Kopi”

papua
Fani membuat kopi menggunakan alat rok presso. - Jubi/Theo Kelen.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Di gerobak berwarna oranye berukuran sekitar 2×2 meter, perempuan 29 tahun itu tampak asyik meracik kopi susu pesanan pelanggan. Ia tak kalah cekatan dengan barista kafe.

Bubuk kopi ditakar sesuai ukuran, dipadatkan dengan alat tamper, lalu diratakan sebelum melakukan proses tamping memakai alat rok presso.

Sekali lagi ia menimbang kembali bubuk kopi. Susu pun ditakar dengan ukuran 30 gram. Takaran yang pas penting untuk menghasilkan rasa yang seimbang.

“Supaya dapatkan pahit dan manisnya sama,” katanya.

Ia lalu melanjutkan dengan menuangkan air bersuhu 95 derajat celsius di atas alat rok presso. Selanjutnya dengan kekuatan dua tangan ia menekan rok presso.

Tetesan-tetesan air kopi pun keluar mengisi gelas berisi susu yang diletakkan di bawah rok presso. Lalu diseduh dan akhirnya jadilah secangkir kopi susu “q’tong” buatan Fani.

BACA JUGA: Bermula dari keresahan, calon dokter di Papua buka ‘Sahaus’

Begitulah keseharian Fani Tonjau di sudut kanan gedung Bank Papua Pusat di Kota Jayapura. Fani adalah bagian dari puluhan anak-anak yang tergabung di komunitas anak-anak jantung kota.

Komunitas ini dibentuk Pendeta Naomi sebagai tempat berhimpun bagi anak-anak jalanan yang ada di Kota Jayapura. Mereka dibina dan dididik perlahan-lahan agar bisa meninggalkan kebiasaan lama dan yang terpenting bisa mandiri.

Setelah lulus dari SMK YPK Biak pada 2010, Fani menyusul ibunya yang sudah terlebih dulu ke Kota Jayapura. Ia sempat berpindah-pindah tempat kerja, lalu menganggur, akhirnya bertemu dan bergabung dengan Pendeta Naomi.

“Saya kenal Mama Pandeta lima tahun lalu dan saya bergabung dengan komunitas anak-anak jantung kota, Mama Pendeta yang membina kami selama ini,” ujarnya.

Fani tidak sendirian, ada lima temannya yang juga ikut berjualan kopi dengan nama brandnya “Q’ Tong Pu Kopi”. Kopi yang dijual kopi asli dari Oksibil, Pegunungan Bintang dengan harga jual per cup Rp20 ribu.

“Kalau lagi ramai-ramainya bisa jual 40 cup sehari, tapi lagi sunyi, ya cuma delapan cup saja,” katanya.

Dari hasil penjualan 70 persen untuk diri sendiri. Sisanya 30 persen diperuntukkan bagi operasional dan memenuhi kebutuhan makan dan minum anak-anak komunitas.

“Dengan usaha kopi ini kita bisa mandiri supaya kita terlalu tergantung pada orang lain,” ujarnya.

Fani dan teman-temannya bermimpi nanti bisa membuka cabang usaha kopi yang lain. Bahkan juga mau membuka jualan makanan khas Papua dan suvenir.

“Dengan gerobak ini, bukan satu gerobak saja, besok-besok gerobak kita bisa sampai puluhan. Ini menunjukkan bahwa anak-anak Ampera yang orang tahu penuh dengan kenakalan, tetapi dengan kemandirian kita, kita bisa buktikan tidak selamanya kita dipandang dengan sebelah mata, tidak tergantung dengan orang lain lagi,” katanya.

Pendamping Komunitas Anak-Anak Jantung Kota Jayapura Pendeta Naomi mengatakan sudah 15 tahun mendampingi anak-anak jalanan di Kota Jayapura.

“Saya mulai dari kolong jembatan, akhirnya berpindah di lokasi ini, Ampera, karena jauh lebih banyak yang menetap di sini. Gedung ini sudah menjadi ‘base camp’ atau ‘shelter’ untuk pusat pembinaan rohani dan pendampingan hukum, kita sudah menjadi sebuah keluarga besar,” ujarnya.

Hingga saat ini sudah ada 88 anak-anak yang didampangi dan dibinanya. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak yang bermasalah karena memakai lem aibon dan masalah broken home, maupun kekerasan dalam keluarga.

“Kami tidak punya dana besar, tapi perhatian dari kami menurut mereka lebih dari cukup untuk mereka, kebutuhan mereka cari sendiri mereka ‘survive’, kerja serabutan untuk bertahan. Dapur umum kami hanya menolong makan siang mereka,” katanya.

Tanggung jawab bersama

Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak Dinas Sosial Provinsi Papua Josefinatje B. Wandosa mengatakan permasalahan anak-anak jalanan merupakan tanggung jawab bersama. Untuk itu perlu kerja sama semua organisasi perangkat daerah yang terkait dalam mengurus permasalahan tersebut.

“Misalnya anak dengan masalah akte kelahiran butuh kehadiran Discapilduk, anak yang bermasalah dengan hukum butuh kehadiran polisi dan pendamping, anak dengan masalah kesehatan butuh Dinas Kesehatan, dan anak dengan masalah pendidikan butuh kehadiran Dinas Pendidikan,” ujarnya.

Wandosa mengatakan dari pemetaaan yang dilakukan Dinas Sosial Provinsi Papua tercatat ada 300 anak jalanan berusia di bawah 18 tahun tersebar di Kota Jayapura. Sebagian besar anak-anak tersebut dari daerah luar Kota Jayapura, seperti Kabupaten Serui, Kabupaten Biak, dan Kabupaten Sarmi.

Pemetaan yang dilakukan Dinas Sosial Provinsi Papua tak hanya mengetahui jumlah, usia, dan asal mereka, tapi juga di mana dan apa pekerjaan mereka, serta dampak

yang ditumbulkan dari keberadaan mereka.

“Dari hasil pemetaan kemudian kita duduk membahas dengan kepala Pemberdayaan Perempuan Kota Jayapura dan Dinas Sosial Kota Jayapura,” ujarnya.

Dinsos juga bekerja sama dengan UNICEF dan beberapa organisasi perangkat daerah untuk mendorong terbentuknya Pusat Kesejahteran Sosial Anak yang akan menampung dan mendampingi anak-anak jalanan tersebut. (*)

Editor: Syofiardi

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us