Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Ancaman pidana terhadap Buchtar Tabuni diduga terkait perjuangan Papua Merdeka

Wakil Ketua II Badan Legislatif United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) Buchtar Tabuni saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri Balikpapan, Selasa (11/2/2020). - Tim Penasehat Hukum 7 Tapol Papua

| Papua No. 1 News Portal | Jubi

Makassar, Jubi – Debora Awom, istri Buchtar Tabuni menduga pasal makar yang didakwakan Jaksa Penuntut Umum atau JPU Kejaksaan Tinggi Papua kepada suaminya, dikaitkan dengan perjuangan Papua Merdeka, yang selama ini disuarakan Ketua II Komite Legislatif United Liberation Movement For West Papua (ULMWP) itu.

Dugaan wanita yang biasa disapa Dessy Awom itu muncul, setelah dalam proses persidangan JPU menyebut berbagai fakta yang tak ada kaitanya dengan unjuk rasa mengecam ujaran rasisme di Kota Jayapura.

Buchtar Tabuni merupakan satu di antara tujuh tahanan politik atau Tapol asal Papua yang kini dititipkan di Rumah Tahanan (Rutan) Balikpapan, Kalimantan Timur.

Tapol Papua ini didakwa pasal makar terkait unjuk rasa mengecam ujaran rasisme di Kota Jayapura pada Agustus 2019 lalu, dengan tuntutan hukuman hingga belasan tahun penjara.

Buchtar Tabuni yang didakwa melakukan upaya makar, dan penghasutan di muka umum, dituntut JPU 17 tahun penjara.

“Saya dengar [dari penasihat hukum, dakwaan dan tuntutan JPU] dikaitkan dengan kasus-kasus [Papua merdeka pada] masa lalu [yang dikampanyekan] Buchtar Tabuni. Misalnya pada 2008 lalu. Padahal waktu itu Buchtar sudah ditangkap dan divonis. Dia sudah menjalani hukumannya [untuk kasus itu],” kata Debora Awom melalui panggilan telepon, Sabtu malam (6/6/2020).

Loading...
;

Awal Desember 2008 lalu, Buchtar Tabuni ditangkap Polda Papua dengan tuduhan ikut menyelenggarakan unjuk rasa mendukung peluncuran International Parliamentarians for West Papua (IPWP) di London, 15 Oktober 2008.

Dalam persidangan kasus itu, JPU menuntut Buchtar Tabuni hukuman penjara 10 tahun atas tiga tuduhan yakni melanggar pasal 106 KUHP, pasal 160 KUHP, dan pasal 212 KUHP.

Menurut Debora Awom, tidak masuk akal jika penangkapan, dakwaan dan tuntutan terhadap suaminya dikaitkan dengan perjuangan politik yang dilakukan Buchtar Tabuni selama ini. Buchtar Tabuni sudah beberapa kali ditangkap dan menjalani hukuman, kasus dituduhkan aparat negara kepadanya.

“Kini dia (Buchtar Tabuni) kembali ditangkap terkait demonstrasi anti rasisme yang tidak ada kaitan dengannya. Buchtar Tabuni tidak pernah ikut saat aksi 19 Agustus 2019 dan 29 Agustus 2019. Tapi kemudian ditangkap dan didakwa melakukan makar, dengan tuntutan 17 tahun penjara,” ujarnya.

Sebagai istri yang selalu mendampingi Buchtar Tabuni, Debora Awom menyatakan tahu persis apa yang diperjuangkan suaminya selama ini. Akan tetapi sebagai salah satu pemimpin perjuangan rakyat Papua, Buchtar Tabuni tahu kapan waktunya harus bertindak dan kapan mesti diam.

“Dia harus ikut perintah. Saya tahu persis seperti apa suami saya, makanya saya rasa penangkapannya kali ini tidak adil. Berbeda kalau dia sementara memimpin demo kemudian ditangkap. Tapi ini kan dia tidak ikut kemudian dituduh ikut,” ucapnya.

Sebelumnya, satu di antara penasihat hukum tujuh Tapol Papua dari Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua, Emanuel Gobay mengatakan dakwaan JPU terhadap para Tapol mayoritas menyebutkan fakta-fakta yang jauh dari waktu kejadian.

“Misalnya ada kejadian yang diangkat dari 2008 sampai 2019. Padahal kan ada asas tempus delicti dan locus delicti. Waktu kejadian dan tempat kejadian. Waktu [kejadian] mestinya pada tanggal kejadian yang dituduhkan. Kalau menyebut beberapa waktu itu berarti ada sesuatu,” kata Emanuel Gobay.

Selain itu menurutnya, alat bukti yang ditunjukkan untuk menguatkan pasal makar sangat mengada-ada dan itu terlihat dalam fakta persidangan.

JPU juga menyimpulkan perbuatan para terdakwa memenuhi unsur makar hanya berdasarkan kesaksian ahli bahasa, ahli psikologi dan ahli hukum tata negara.

“Mestinya, dalam kasus ini yang dapat mengurai unsur-unsur tindak pidana makar adalah ahli hukum pidana. Perkara ini sangat kental dengan skenario,” ujarnya. (*)

Editor: Edho Sinaga

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top