Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Ancaman tsunami di kawasan pesisir pantai Holtekamp

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Oleh: Djuneidi Saripurnawan

ANCAMAN tsunami adalah gelombang tinggi air laut yang masuk ke wilayah daratan dengan karakter dorongan air yang terus-menerus dan meluas, kerusakan banyak terjadi karena hantaman air laut membawa puing-puing material yang hanyut menjadi pemukul bagi semua benda yang ada di hadapannya. Demikianlah manusia dan makhluk hidup lainnya banyak yang menjadi korban jiwa, dan kerusakan-kehancuran yang meluas, seluas radius tsunami itu.

Ancaman tsunami di kawasan pesisir pantai Holtekamp 1 i Papua

Tsunami merupakan fenomena dampak dari adanya gempa bumi. Artinya, tsunami terjadi setelah ada gempa bumi, tetapi tidak serta-merta bila ada gempa bumi maka terjadi tsunami. Gempa bumi tidak terduga dan tidak terdeteksi kejadiaannya. Oleh karena itu, ancaman tsunami sebenarnya juga tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi. Teknologi yang ada hanya memberikan peringatan potensial terjadinya tsunami setelah terjadinya suatu gempa bumi. Dalam hitungan beberapa menit, gelombang tsunami yang terjadi sudah bergerak masuk ke daratan dan memukul semua yang menghambat pergerakannya.

Tulisan ini tidak bermaksud menakut-nakuti masyarakat atau mencari sensasi semata. Jauh dari pada itu, saya hanya berpikir bahwa hal ini sangat penting untuk disampaikan kepada publik seluas mungkin, terutama kepada masyarakat lokal dan para pihak yang berwenang/berkewajiban dan peduli dengan adanya ancaman tsunami ini. Apalagi bila ada kegiatan kerumunan massa terjadi di sekitar pantai itu; setidaknya antisipasi terhadap ancaman ini sudah menjadi bagian dari pertimbangan yang matang atas penyelenggaraan kegiatan itu. Dan dengan inilah kita selalu belajar dari kejadian sebelumnya.

Gempa bumi dan tsunami Papua

Tanah Papua berada di jalur gempa dunia, dalam Ring of Fire. Sejarah gempa bumi besar dan tsunami di tanah Papua (termasuk Papua New Guinea) terjadi pada tahun 1900 di laut Bismarck (7,8 SR) dan tercatat 5 orang korban jiwa; pada 1996 terjadi di Biak (8,2 SR) dengan tinggi gelombang mencapai 7 meter di Pulau Yapen, korban tercatat 110 jiwa dan kehancuran pemukiman di bagian utara Pulau Biak. Akibat gempa bumi di Biak itu, Jepang mengalami tsunami setinggi 1 meter. Tsunami juga terjadi pada 2002 di Ransiki (7,6 SR), dan tahun 2009 di Manokwari (7,9 SR) dengan tsunami kecil yang tidak menimbulkan korban jiwa.

Loading...
;

Gempa bumi di Tohoku, Jepang pada 11 Maret 2011 ternyata berdampak pada pantai di utara Papua, yaitu berupa tsunami setinggi 0,8 meter sampai 2,8 meter di kawasan pesisir Pantai Holtekamp. Area terdampak meliputi Jalan Raya Holtekamp, Jembatan Muara yang hancur, koperasi palong yang rusak, bangunan tembok dan fondasi untuk PLTD—sekarang bernama Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Jayapura 50 MW– hancur diterjang tsunami setinggi 1,8 meter dan sejauh 368 meter ke daratan. Gelombang tsunami juga menghantam sampai ke Dermaga Teluk Youtefa, Kampung Enggros, seluruh Pulau Debi, Pelabuhan Depapre dan Pantai Tablanusu.

Di Papua, dampak tsunami Jepang tersebut mengakibatkan 1 orang meninggal dunia, 92 rumah warga rusak berat di sepanjang pesisir, di sekitar Holtekamp, di Kampung Tobati dan Hanurata, dan 1 jembatan rusak berat. Kerugian diperkirakan senilai Rp 1,5 miliar (H.Hudha, 2017).

Pertanyaan kritisnya adalah mengapa PLTMG masih tetap dibangun di lokasi yang sama yang sudah pernah dihantam tsunami Jepang 11 Maret 2011 itu? Ini persoalan lain, tetapi perlu dicatat dalam sejarah Papua, karena nilai pembangunan instalasi vital bila berhadapan pada risiko ancaman yang jelas-jelas di depan mata, maka risikonya bukan hanya kerugian struktural tetapi juga korban jiwa manusia.

Perlu diketahui bahwa PLTMG Jayapura yang bernilai Rp 866 miliar sudah beroperasi sejak 24 November 2017 adalah bangunan vital di Papua karena menjadi sumber energi listrik yang utama. Karena sudah “terlanjur” berdiri di kawasan pesisir yang berpotensi ancaman tsunami, maka upaya mitigasi dan kesiapsiagaan harus menjadi bagian penting dari perawatan menjaga bangunan instalasi vital ini dan keselamatan manusia yang bekerja di dalamnya.

Mitigasi dan kesiapsiagaan

Mitigasi dan kesiapsiagaan harus dilakukan dengan seksama bagi kompleks PLTMG Jayapura di Holtekamp, karena berhadapan langsung dengan pantai sebagai jalur tsunami yang mungkin terjadi. Mitigasi struktural yang mungkin dilakukan, belajar dari Jepang, adalah pembangunan tanggul pantai atau dinding penahan tsunami (sea-wall) dengan kekuatan menahan daya dorong air tsunami.

Sea-wall yang dibangun tanpa perhitungan struktural yang memadai justru akan mengakibatkan tambahnya ancaman bagi bangunan, perumahan dan pemukiman di daratan, karena material yang dibawa air tsunami berubah menjadi senjata pemukul terhadap semua yang ada di daratan.

Kesiapsiagaan mengacu pada upaya menambah kapasitas manusia dalam membangun sistem peringatan dini, cara merespons bila tsunami datang, pemahaman terhadap gejala gempa bumi dan tsunami, rencana kontijensi tsunami, latihan simulasi gempa bumi dan tsunami, membangun infrastruktur penyelamatan, melengkapi peralatan yang diperlukan, dan seterusnya. Sudahkah kapasitas warga masyarakat di sepanjang  kawasan pesisir Pantai Holtekamp siap menghadapi ancaman tsunami?  (*)

Penulis adalah Senior Program Officer-TATTs Program for Papua-Mercy Corps Indonesia, alumnus Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), dan Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top