TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Anggap parlemen gagal tangani krisis narkoba, Raja Tonga kecam parlemen

Raja Tonga, Raja ‘Aho’eitu Tupou IV . - AP/ Richard Drew

Papua No.1 News Portal | Jubi

New York, Jubi – Raja Tonga telah mengecam parlemen negaranya atas apa yang ia anggap sebagai kegagalan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan Tonga dalam penyalahgunaan narkoba, sebuah langkah yang disambut baik oleh politisi dan kelompok-kelompok masyarakat sipil.

Raja Tupou VI menyampaikan hal ini selang pidatonya di hadapan Parlemen Tonga sebelum sesi parlemen ditutup lebih dari sepekan lalu, ia mendesak politisi dan perwakilan keluarga bangsawan untuk mengalokasikan waktu dan dana dalam menangani krisis kecanduan metamfetamina (sabu-sabu) di negara itu.

“Dalam pidatonya, dia menekankan bahwa masalah penyalahgunaan narkoba di Tonga masih terus berlanjut, bahkan semakin memburuk hingga mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan, dan bahwa parlemen haris lebih serius lagi, sebenarnya ini adalah tanggung jawab parlemen, dan perwakilan bangsawan, untuk bersama-sama dan menyediakan waktu dan dana untuk menghadapi masalah ini,” tegas Eleni Levin-Tevi, juru bicara Dare to Dream, sebuah organisasi nirlaba yang bekerja dengan masyarakat Tonga yang rentan.

“Raja Tupou VI benar-benar menunjuk mereka dan menekankan bahwa itu adalah tanggung jawab mereka.”

Isu penyalahgunaan metamfetamina dilaporkan telah mencapai semua lapisan masyarakat di Tonga, dengan populasinya yg mencapai 100.000 jiwa. Ada berbagai laporan penyalahgunaan dan peredaran narkoba di antara pendeta-pendeta gereja, pegawai negeri, politisi, pemimpin adat, dan bahkan polisi.

Lebih dari 60% pasien yang menerima perawatan di bangsal kesehatan jiwa Tonga itu terkait dengan penyalahgunaan narkoba.

Layanan sosial dan sistem pemasyarakatan Tonga pun mulai kewalahan. Tahun lalu, Ned Cook, satu-satunya konselor narkoba berkualifikasi di negara itu tewas dibunuh. Seorang pria telah divonis terkait kasus pembunuhan itu.

Komisaris Pemasyarakatan Tonga, Semisi Tapueluelu, menerangkan bahwa Tonga perlu dua penjara dan lebih banyak lagi tempat tidur untuk perawatan psikiatris agar negara itu dapat secara memadai menanggapi lonjakan pelanggaran narkoba dan narapidana yang terganggu secara psikologis, menurut sebuah laporan dari RNZ Pacific.

Tonga memegang sistem monarki konstitusional dan keluarga kerajaannya umumnya hanya memainkan peran seremonial. Jarang sekali ada anggota keluarga kerajaan yang mengeluarkan komentar politik dan berbicara dengan parlemen secara langsung, ini menunjukkan kuatnya perasaan raja tentang permasalahan tersebut.

Levin-Tevi menambahkan bahwa intervensi sang raja disambut baik oleh sebagian besar orang Tonga, termasuk organisasinya.

Anggota Parlemen, Lord Fusitu’a, yang merupakan perwakilan keluarga bangsawan Niuas, mengatakan pandangan Raja Tupou VI ini didukung secara meluas, termasuk oleh anggota-anggota parlemen.

Ini bukan pertama kalinya Raja Tupou VI mengecam parlemen karena penanganan krisis narkoba di negara itu. Pada bulan Mei, dalam sebuah pidato yang ditayangkan di televisi, ia mempertanyakan kejujuran para anggota parlemen dan kemampuan mereka untuk memimpin negara itu, terutama dalam kaitannya dengan penanganan krisis narkoba. (The Guardian)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us