Angka melek huruf di Kota Jayapura hampir 100 persen

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Kepala Seksi Keaksaraan Kesetaraan dan Pendidikan Keluarga Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Nur Jaya mengatakan, data 2017 angka melek huruf di Kota Jayapura sudah mencapai 99,93 persen.

"Untuk data 2018 sementara lagi direkap karena PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) baru masukkan datanya. Setelah itu di kirim ke pusat untuk mendapatkan surat keterangan melek aksara (Sukma)," katanya di Kantor Wali Kota Jayapura, Rabu (23/1/19).

Menurutnya, aksara merupakan sarana yang menghantar cakrawala pengetahuan dan peradaban suatu bangsa karena aksara membentuk wacana yang dapat dikenali, dipahami, diterapkan dari generasi ke generasi.

"99,93 persen itu berjumlah 600 orang, tersisa 0,7 persen lagi yang harus kami tuntaskan. Ini menunjukkan keseriusan dan perhatian besar pemerintah Kota Jayapura untuk menuntaskan buta aksara," tuturnya.

Terkait program keaksaraan dasar yang sudah dibina Disdikbud setempat pada 2018, berjumlah 250 orang dan keaksaraan usaha mandiri ada 190 orang yang tersebar di wilayah Kota Jayapura dengan melibatkan lintas sektor.

"Menurunkan buta aksara dan meningkatkan capaian indeks pembangunan manusia merupakan indikator penting dalam keberhasilan pembangunan di Kota Jayapura," jelasnya.

Loading...
;

Terpisah, seorang tutor di PKBM GILGAL, Dok 8 atas, Maria Sanabuki mengatakan, warga khususnya Orang Asli Papua (OAP) sangat antusias datang belajar karena memiliki keinginan bisa membaca, menulis dan berhitung.

"Yang paling utama mereka ingin bisa membaca Al-Kitab dan bisa mengajarkan anak-anak mereka di usia dini. Jumlah peserta belajar di kami ada 60 orang yang aktif dari 100 lebih peserta," jelasnya.

Proses belajar mengajar yang diajarkan di PKBM GILGAL lanjutanya, seperti pembelajaran keaksaraan dasar bagi yang belum bisa baca, menulis dan berhitung. Lalu, tahap selanjutnya dengan mengajarkan terkait kondisi lingkungan terkait aktifitas sehari-hari, seperti berkebun dan berjualan ke pasar.

"Proses belajar mengajar satu Minggu tiga kali kami berikan dan itu dilakukan pada sore hari. Warga belajar saya yakni penduduk asli Papua dan itu semuanya orang pegunungan. Kami bertekad menuntaskan buta aksara," ungkapnya.

Seorang peserta, Jely Wonda mengaku sangat bersyukur bisa mengikuti kegiatan pendidikan keaksaraan karena sebelumnya tidak pernah mengalami proses belajar berhitung, menulis dan membaca.

"Yang dulunya hanya ke kebun dan pasar lalu balik lagi ke rumah tapi sekarang ada kegiatan tambahan yang membuat pintar. Dari tidak bisa membaca, menulis dan berhitung sekarang sudah  bisa," jelasnya. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top