Follow our news chanel

Angkat sampah sejak era Pasar Lama

Papua No. 1 News Portal | Jubi

SEORANG perempuan Papua paruh baya bergegas menuju Blok A Pasar Pharaa Sentani. Langkahnya melambat, ketika melewati beberapa petugas kebersihan yang tengah memilah dan memunguti sampah.

"Seharusnya dong (petugas kebersihan) dilengkapi pelindung saat bekerja," kata perempuan itu, yang belakangan diketahui bernama Mama Yuliana, Sabtu pagi, 19 Januari 2019.

Mama Yuliana mengaku prihatin, saat melihat para petugas kebersihan yang mengais dan memunguti sampah, hanya dengan alat bantu sekop dan gerobak dorong. Bahkan mereka hanya bersendal dan tanpa menggunakan masker. Sementara bau busuk menguar dari tumpukan sampah yang dihinggapi lalat.

"Setiap hari dong urus sampah di pasar, bagaimana dengan dong pu kesehatan?" kata Mama Yuliana, sebelum ia beranjak.

Di sudut halaman parkir di Pasar Pharaa, sampah menumpuk setinggi pinggang orang dewasa. Para petugas sibuk mengeruk dan mengangkutnya ke truk. Saya menghampiri seorang petugas kebersihan yang telah saling kenal. Namanya Kaleb Sokoi, 56. Ia tinggal di Kampung Yahim, Kelurahan Dobonsolo, Kabupaten Jayapura.

Setelah bertukar sapa, pria yang akrab disapa Kaleb ini, beristirahat sejenak. Kaleb sudah dua dekade lebih bekerja sebagai petugas kebersihan di Kota Sentani.

Loading...
;

"Dari masih zaman Pasar Lama sampai Pasar Baru. Itu dari tahun 90-an sampai sekarang," kenangnya, sambil menyeka peluh di keningnya.

Setiap pagi dalam sepekan, Kaleb dan teman-temannya bekerja membersihkan tiga sampai lima lokasi tumpukan sampah di Pasar Pharaa, yang luas pasar itu mencapai tiga hektare.

Sebagai pekerja kebersihan yang selalu berhadapan dengan sampah, ia mengaku kerap memikirkan soal kesehatannya. Namun fasilitas keamanan bagi para pekerja belum tersedia, seperti sarung tangan, masker, dan lars.

“Begini kondisinya sudah. Kitong pu dua teman su mendahului (meninggal) karena sakit," katanya. Sakit yang diderita kedua temannya itu, kata dia, berhubungan dengan organ pernapasan.

Kaleb mengaku, sampai sekarang belum pernah menderita sakit parah. Ia juga ingin bekerja selama tenaganya masih bisa, sebab baginya pekerjaan apa pun harus dijalani dengan ikhlas, yang terpenting tidak mencuri. "Ini sudah takdir yang kuasa untuk sa."

Menyangkut status pekerjaannya, beberapa tahun lalu ia dan ketujuh rekannya telah ditetapkan sebagai pegawai honorer bersurat keputusan di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pasar, Pemerintah Kabupaten Jayapura. "Gaji dua juta tiap bulan. Yang lalu kami terima setiap tiga bulan sekali."

Gaji yang ia terima, dipakainya untuk kebutuhannya sehari-hari. Ia belum memiliki pendamping hidup. Hampir semua rekan kerjanya, kata Kaleb, telah berkeluarga.

“Mungkin karena sa tukang angkat sampah jadi ade nona tra mau,” candanya.

Kepala Dinas Kesehatan, Kabupaten Jayapura, Khirul Lie mengatakan, pekerjaan yang digeluti para petugas kebersihan memang memiliki risiko kesehatan.

“Rentan terhadap penyakit kulit, tuberkulosis, dan infeksi saluran pernapasan atas. Karena bau serta kuman yang menempel di sampah,” katanya, di Sentani.

Dua tahun lalu, kata Lie, Dinas Perindustrian dan Perdagangan melalui UPTD Pasar, mengusulkan penambahan armada pengangkut, petugas kebersihan, serta fasilitas pendukung bagi para pekerja di Pasar Pharaa.

“Miris juga melihat para pekerja yang bekerja tanpa fasilitas pelindung yang baik. Sampai sekarang kami masih menunggu usulan dua tahun lalu itu."

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Jayapura, tengah mencanangkan program kebersihan menuju Kabupaten Jayapura Go Adipura. Selain pembangunan Ruang Terbuka Hijau, Taman Kota, dan berbagai fasilitas penunjang lainnya, pemerintah fokus untuk menangani persoalan sampah. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top