Follow our news chanel

Antre di terik matahari demi mendapatkan telur murah

Warga Kota Jayapura antre untuk mendapatkan telur ayam murah - Jubi/Ramah.
Antre di terik matahari demi mendapatkan telur murah 1 i Papua
Warga Kota Jayapura antre untuk mendapatkan telur ayam murah – Jubi/Ramah.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang dengan matahari yang terik. Namun itu tidak menyurutkan warga untuk antre mendapatkan telur ayam murah.

Mereka tetap mengerumuni mobil ‘Operasi Pasar Sembako Telur’ Polda Papua dan Polresta Jayapura di parkiran Pasar Hamadi, Sabtu, 11 April 2020.

Warga yang didominasi ibu-ibu rumah tangga tersebut antre berdesak-desakan mengular seolah tak lagi mempedulikan ‘jaga jarak’ untuk mencegah virus corona.

Alhasil, satu jam sejak operasi pasar sembako tersebut dilaksanakan, telur ayam dengan merek Mahkota ludes terjual. Pengantre yang tidak kebagian menggerutu.

“Telur ayam sekarang lagi kosong, cari di pasar tidak ada yang jual, kalaupun ada pasti harganya mahal sampai Rp95 ribu satu rak, bahkan ada yang jual Rp100 ribu,” ujar Asnia yang ditemui Jubi sedang mengantre.

Telur mahal yang ia maksud adalah telur dari Surabaya.

Loading...
;

Menurut Asnia, hari pertama dilaksanakan kegiatan operasi pasar sembako telur tersebut ia tidak kebagian karena kupon yang disediakan panitia jumlahnya terbatas. Ia diminta untuk datang keesokan harinya.

“Saya bersyukur hari ini bisa dapat karena saya tunggu dari pagi, tidak apa-apa sudah kepanasan, saya berharap telur ayam tidak lagi kosong supaya kami tidak binggung mencarinya, apalagi ini sudah mau lebaran Idul Fitri,” katanya.

Senada Asnia, pembeli lainnya, Harianto mengatakan ikut antre membeli karena telur yang dijual harganya murah jikaa dibandingkan dengan harga di pasar.

“Saya beli saja, walaupun saya sebenarnya tidak ada rencana mau beli telur, memang selama virus corona ini harga-harga naik, stok kosong, kalau begini terus masyarakat susah juga nantinya, apalagi yang penghasilannya pas-pasan,” katanya.

Kepala Pasar Hamadi Jeany Nerekouw mengatakan harga telur ayam yang dijual melalui operasi pasar sembako telur tersebut Rp70 ribu satu rak (isi 30 butir).

“Ini sudah hari keempat, jadi sudah 350 kupon yang membeli atau 350 rak, satu orang satu rak telur, belum tah sampai kapan, karena dari Polda belum nyatakan kapan selesai,” katanya.

Meski tidak semua warga yang membutuhkan bisa dipenuhi,

Menurut Nerekouw, meski operasi tersebut tidak bisa memenuhi kebutuhan semua warga, namun penjualan telur ayam lokal dari Kota Jayapura tersebut sudah cukup membantu warga.

Kegiatan operasi tersebut, tambahnya, untuk menstabilkan harga di tengah bergejolaknya harga komoditas telur ayam.

“Memang di dalam Pasar Hamadi ini sudah tidak ada lagi telur, karena tidak ada lagi kapal putih (kapal penumpang milik Pelni-red) masuk dari Surabaya,” katanya.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Tenaga Kerja Provinsi Papua Omah Laduani Ladamay mengatakan telur ayam langka karena kebijakan Pemprov Papua menghentikan sementara aktivitas di bandara dan pelabuhan.

Namun, ketersediaan bahan pokok lainnya dipastikan stabil untuk empat bulan ke depan.

“Sekarang kami lagi upayakan supaya kapal Pelni ini bisa segera berlayar juga tapi tidak membawa penumpang ke pelabuhan, hanya membawa kargo, ini yang kami dorong,” ujarnya.

Diakui Laduany, strategi tersebut agar warga lancar mendapatkan bahan pokok, apalagi menjelang lebaran Idul Fitri pada akhir Mei 2020.

“Kami sudah koordinasi dengan Dinas Perhubungan Papua dan PT Pelni, suratnya sudah kami buat, kami harapkan Pak Gubernur punya kebijakan untuk menjaga stok bahan pangan,” ujar Laduany.

Kepala Divisi Regional Bulog Papua dan Papua Barat Sopran Kenedi mengatakan akan gencar menggelar pasar murah agar warga lancar mendapatkan bahan pokok.

“Pasar murah dari awal tahun sudah berlangsung simultan atau setiap hari, kami lakukan di pasar, lewat rumah pangan, lewat toko pangan, dan juga di BUMN,” katanya.

Dikatakan Sopran, pelaksanaan pasar murah tersebut dibagi dua mekanisme, atas permintaan dari pemerintahan distrik dan rumah pangan, serta Satgas Pangan Bulog yang langsung menggelar pasar murah.

“Hal ini dilakukan supaya mengurangi operasi pasar yang sifatnya mengumpulkan massa, beras medium Rp8.900 per kilogram di gudang Bulog, kalaupun ditambahkan kemasan, harganya menjadi Rp9.350 per kilogram,” katanya. (*)

Editor: Syofiardi

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top