Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Apa yang terjadi di Mapenduma, Papua? Ini kesaksiannya

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Seorang saksi mata dalam kasus Mapenduma, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua yang terjadi dua pekan lalu mengungkapkan para guru yang bertugas di Mapenduma tidak disandera oleh kelompok bersenjata melainkan para guru ini mengungsi ke Puskesmas dari perumahan guru tempat mereka tinggal karena merasa tidak aman. Meski demikian, saksi ini tidak membantah adanya kekerasan sexual (perkosaan) yang dialami oleh seorang guru.

Kekerasan sexual terhadap seorang guru ini terjadi di perumahan guru di Distrik Mapenduma, 11 Oktober 2018 dini hari. Karena kejadian inilah,  para tenaga pengajar ini mengungsi dari rumah guru ke rumah kepala Puskesmas setempat karena merasa tidak aman lagi tinggal di rumah guru.

Apa yang terjadi di Mapenduma, Papua? Ini kesaksiannya 1 i Papua

Untuk melindungi orang yang menyampaikan kesaksiannya, hasil wawancara dengan saksi tersebut kami tuliskan dalam bentuk sebuah artikel “rewrite” tanpa mengurangi substansi kesaksian yang disampaikan.

Tiba di Mapenduma

Para guru ini tiba di lapangan terbang Mapenduma tanggal 2 Oktober 2018. Ada tiga guru perempuan. Salah satunya datang bersama anaknya. Para guru ini akan mengajar di SD dan SMP. Selebihnya adalah guru dan tenaga kesehatan laki-laki. Setibanya di Mapenduma, saat turun dari pesawat mereka didatangi oleh sekelompok orang yang membawa senjata. Kelompok ini meminta para guru dan tenaga kesehatan yang baru datang ini agar tidak membawa barang apapun meninggalkan bandara. Mereka diperintahkan mengumpulkan barang bawaan mereka, termasuk handphone. Bahkan ada satu guru yang ditodong dan disuruh buka baju untuk diperiksa karena tidak mendengar dengan jelas perintah yang disampaikan. Handphone dan KTP guru dan tenaga kesehatan ini disita kelompok bersenjata.

Setelah itu para guru dan tenaga kesehatan ini disuruh pergi meninggalkan bandara. Mereka diperbolehkan membawa barang mereka kembali, kecuali handphone dan KTP. Saat itu, kelompok bersenjata tersebut berjanji akan menjamin keamanan para guru dan tim kesehatan selama berada di Mapenduma.

Loading...
;

Setiba mereka di perumahan guru, alat komunikasi radio atau SSB milik para guru disita. Setelah itu KTP dan handphone para guru ini dikembalikan namun mereka diperingatkan agar tidak mengambil gambar apapun menggunakan HP karena pada saat itu kelompok bersenjata ini sedang mempersiapkan pelantikan seorang petinggi mereka.

Didatangi sekelompok orang

Selama satu minggu sejak para guru ini tiba, kondisi mereka aman-aman saja. Mereka mengajar di sekolah setiap hari. Masuk ke minggu berikutnya, tepatnya tanggal 11 Oktober 2018 dini hari, ada sekelompok orang yang datang mengganggu para guru ini. Saat itulah terjadi kekerasan sexual pada seorang guru.

Sebelum peristiwa itu terjasi, sekelompok orang mendatangi rumah guru yang ditempati oleh tiga orang guru perempuan yang baru datang. Salah satunya tinggal bersama anaknya di kamar depan, sedangkan dua lainnya tinggal di kamar belakang rumah tersebut.

Sekelompok orang yang datang ini memanggil-manggil nama guru yang tinggal di kamar depan dari luar rumah. Guru yang dipanggil ini sebelumnya pernah bertugas di salah satu distrik lainnya di Nduga. Mendengar namanya dipanggil, guru ini keluar kamar untuk menitipkan anaknya kepada dua rekannya kamar belakang.

Setelah menitipkan anaknya, guru itu keluar kamar untuk menanyakan apa keperluan sekelompok orang yang memanggil dirinya. Ia bertanya dari dalam rumah dan sama sekali tidak membukakan pintu. Namun orang-orang yang memanggil namanya di depan rumah itu terus saja memanggil namanya. Karena tidak mendapat jawaban, guru ini kembali ke kamar belakang. Saat itu rupanya ada beberapa orang yang berjalan ke arah belakang rumah, menuju arah dapur. Karena dapur rumah guru ini hanya dibatasi oleh seng yang rendah, orang-orang ini bisa melompati seng tersebut. Mereka lalu berupaya membuka jendela belakang rumah. Setelah jendela terbuka, mereka masuk ke dalam rumah guru yang terdiri dari tiga barak yang hanya dipisahkan oleh triplex. Sebagian menuju pintu depan untuk membuka pintu sehingga orang-orang yang berada di depan rumah bisa masuk ke dalam rumah.

Mengetahui sudah ada orang yang masuk ke dalam rumah, seorang guru berupaya keluar dari rumah untuk memberitahu kepala sekolah. Guru ini memanfaatkan dinding triplex yang bocor untuk menyeberang ke barak sebelah dari tempat mereka tinggal. Sebelumnya, rumah guru ini telah dimasuki oleh pencuri yang merusak dinding rumah dan mengambil barang yang ada di rumah tersebut. Sayang, ia tak bisa keluar dari rumah tersebut karena banyak orang berdiri di luar rumah. Selain itu ia hanya bisa keluar melalui jendela rumah sementara jendela itu sangat tinggi dari tanah karena rumah guru ini berupa rumah panggung. Akhirnya ia hanya diam bersembunyi di barak tersebut selama beberapa jam. Di luar rumah masih tampak gelap.

Setelah beberapa jam bersembunyi dan sudah tidak terdengar lagi suara-suara dari dalam rumah, guru ini kembali ke barak tempatnya tinggal melalui celah triplex yang sama. Sebelum ia beranjak keluar, dari arah belakang rumah terdengar seorang perempuan berkata, “Sudah jadi… kamu pergi sudah!”. Guru yang memiliki anak masih ada di dalam kamar belakang bersama anaknya dengan pintu kamar terbuka. Sedangkan guru satunya ada di luar kamar. Saat melihat kawan satu kamarnya ini datang, guru yang berdiri di luar kamar ini sambil menangis memberitahukan jika dirinya telah menjadi korban kekerasan sexual.

Mengungsi ke rumah kepala Puskesmas

Saat keadaan mulai tenang, tiga guru ini sepakat untuk pindah ke rumah kepala Puskesmas karena takut akan terjadi hal yang sama. Namun sebelumnya salah satu dari mereka pergi memberitahu kepala sekolah yang tinggal di rumah guru lainnya. Tak lama kemudian, kepala sekolah datang bersama guru yang pergi ke rumahnya tadi. Tiga guru perempuan ini hanya mengatakan bahwa mereka diganggu oleh sekelompok orang. Mereka tidak memberitahukan kekerasan sexual yang dialami oleh satu dari mereka.

Kepala sekolah memutuskan untuk meminta bantuan Kepala Puskesmas dan pihak gereja. Karena khawatir kelompok yang datang tadi masih ada di sekitar rumah atau jalan, tiga guru ini berkata kepada kepala sekolah untuk menunggu hingga hari agak terang.

Setelah matahari terbit, kepala sekolah pergi menemui kepala Puskesmas dan pihak gereja, meminta mereka datang ke rumah guru yang ditempati oleh tiga guru perempuan itu. Beberapa jam kemudian hanya kepala Puskesmas setempat yang datang. Setelah menceritakan gangguan yang dialami, tiga guru perempuan ini minta untuk diungsikan dari perumahan guru itu ke rumah kepala Puskesmas. Sama halnya dengan apa yang mereka sampaikan pada kepala sekolah, ketiganya tidak memberitahukan tentang kekerasan sexual yang terjadi.

Satu jam kemudian, tiga guru bersama anak dari salah satu guru ini mulai pindah ke rumah kepala Puskesmas yang berjarak 200 meter dari rumah guru dibantu oleh kepala sekolah dan kepala Puskesmas. Di rumah kepala Puskesmas ini mereka tinggal bersama beberapa petugas kesehatan yang bertugas di situ.

Setelah pindah mengungsi ke rumah kepala Puskesmas, malam harinya ada tiga orang laki-laki yang datang dan bertanya tentang peristiwa dini hari di rumah tiga guru perempuan itu. Tiga orang ini bertanya apakah ada korban dalam peristiwa tersebut? Kepada orang-orang yang tinggal di Puskesmas, tiga orang laki-laki ini mengatakan bahwa yang datang dan mengganggu di rumah guru itu bukan orang dari Mapenduma, melainkan dari tempat lain. Orang-orang tersebut datang ke Mapenduma untuk mengikuti pelantikan petinggi kelompok bersenjata yang mereka sebut Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB).

Sama dengan yang disampaikan kepada kepala sekolah dan kepala Puskesmas, tiga guru perempuan ini hanya memberitahukan ada yang datang mengganggu mereka. Sedikitpun mereka tidak menyebutkan adanya kekerasan sexual yang dialami salah satu guru kepada tiga orang laki-laki yang datang bertanya itu dengan maksud melindungi salah satu dari mereka yang menjadi korban.

Diminta meninggalkan Mapenduma

Pagi harinya, tanggal 15 Oktober, sejumlah orang datang lagi ke Puskesmas dan meminta guru-guru yang mengungsi di Puskesmas keluar untuk mengumpulkan barang-barang yang mereka miliki. Semua guru menyerahkan barang-barang yang mereka miliki kepada orang-orang itu. Setelah barang-barang para guru dikumpulkan, orang-orang ini meminta para guru perempuan ini untuk bersembunyi di dapur Puskesmas. Mereka mengingatkan agar para guru tidak keluar dari dapur hingga mereka datang karena di hari itu pelantikan petinggi TPNPB akan dilakukan.

Menjelang sore, orang-orang yang meminta para guru bersembunyi di dapur ini datang lagi mengeluarkan para guru dan mengembalikan semua barang milik para guru yang mereka kumpulkan sebelumnya. Mereka mengatakan bahwa para guru bisa pergi meninggalkan Mapenduma namun tidak menjelaskan sebabnya.

Selama hampir tiga minggu berada di Mapenduma, para guru mengaku bahwa mereka belum pernah melihat satu pun aparat keamanan (polisi) berada di Mapenduma.

Guru-guru ini kemudian memutuskan untuk pergi dari Mapenduma menuju Wamena. Namun mereka harus menunggu pesawat yang datang ke Mapenduma. Tanggal 16 Oktober ada pesawat yang tiba di Mapenduma. Sayangnya, pesawat ini dalam perjalanan menuju Timika. Sehari kemudian, barulah ada pesawat mendarat di Mapenduma untuk selanjutnya menuju Wamena. Dengan menumpang pesawat inilah mereka bisa meninggalkan Mapenduma.

Selain tiga guru perempuan bersama anak salah satu guru tersebut, empat orang guru lainnya juga meninggalkan Mapenduma. Tujuh orang guru ini menumpang pesawat bersama satu petugas kesehatan, tiga warga setempat dan tiga orang anak kecil. (*)

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top