Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Apakah Harry akan perjuangkan nasib veteran Fiji?

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Nic Maclellan

Pangeran Harry, Adipati Sussex, adalah seorang pendukung setia tentara yang kembali dari medan peperangan. Dia memulai olimpiade olahraga Invictus Games, untuk menggunakan semangat olahraga dalam meningkatkan pemahaman yang lebih meluas dan menghormati para prajurit, laki-laki dan perempuan, yang terluka di medan perang.

Apakah Harry akan perjuangkan nasib veteran Fiji? 1 i Papua

Namun, saat ia mengunjungi Fiji, apakah Pangeran Harry akan menyuarakan perjuangan para veteran nuklir Fiji – yang selamat dari program uji coba senjata nuklir Inggris selagi Perang Dingin? Akankah ia mengakui veteran-veteran lanjut umur Fiji yang setia melayani Kerajaan Inggris pada 1950-an, tetapi hari ini hidup dengan peninggalan radioaktif akibat sembilan uji coba bom hidrogen Inggris?

Pangeran Harry dan Meghan Markle sedang melakukan tur ke Oseania, karena Sydney, Australia, terpilih untuk menjadi tuan rumah Invictus Games tahun ini, merayakan prajurit-prajurit yang terluka di medan peperangan. Sebagai bagian dari rangkaian kunjungan mereka, Harry dan Meghan sempat mengunjungi pulau-pulau di Fiji. Disambut dengan semarak, pasangan itu menerima sambutan hangat di negara bekas koloni Inggris, yang resmi merdeka dari Inggris pada tahun 1970 itu.

Tahun ini menandai peringatan ke-60 tahun sejak uji coba senjata nuklir Inggris, di Pulau Malden dan Pulau Christmas (Kiritimati) di dua pulau koloni Inggris, Pulau Gilbert dan Ellice. Sembilan uji coba bom atom dan bom hidrogen – dinamakan Operasi Grapple – dilakukan di pulau-pulau yang, di era modern ini, merupakan bagian dari negara Pasifik yang berdaulat, Kiribati.

Pada akhir tahun 1950-an, hampir 14.000 personel militer Inggris dan staf bagian peneliti dan pengembangan melakukan perjalanan ke koloni Pulau Gilbert dan Pulau Ellice, untuk terlibat dalam Operasi Grapple. Pasukan Inggris ini bergabung dengan 551 pasukan angkatan laut Selandia Baru, serta 276 pasukan Fiji dari Fiji Royal Naval Volunteer Reserve (FRNVR) dan Pasukan Militer Republik Fiji (RFMF).

Loading...
;

Pada April 1958, pemerintah Inggris meledakkan bom hidrogen Grapple Y di Pulau Christmas. Dengan kekuatan hampir 3 megaton, bom ini merupakan bom paling kuat dari sembilan uji coba nuklir yang dilakukan selama 1957-1958.

Saat rangkaian uji coba nuklir ini dilakukan, tentara diperintahkan untuk berbaris di tempat terbuka, menoleh membelakangi titik ledakan dengan punggung mereka ke arah ledakan, menutupi mata mereka sampai setelah ledakan terjadi. Di lautan, kru berjajar di geladak kapal milik angkatan laut. Penduduk setempat dari Gilbert – buruh, pekerja perkebunan, dan keluarga mereka – awalnya dibawa ke luar pulau mereka selama periode uji coba, atau dibawa ke atas kapal-kapal angkatan laut Inggris untuk melindungi mereka dari ledakan. Dalam beberapa uji coba terakhir di Pulau Christmas pada tahun 1958, tindakan pencegahan ini diabaikan.

Pasukan militer Fiji diberikan pekerjaan yang kotor, sukar, dan berbahaya, meningkatkan risiko mereka terkena paparan radiasi bahan nuklir. Mantan anggota angkatan laut Fiji, Paul Ah Poy, yang menyaksikan tujuh uji coba nuklir, saat itu ia diperintahkan untuk membuang sejumlah drum limbah yang terkontaminasi zat radioaktif ke lautan begitu saja. Mantan prajurit RFMF, Isireli Qalo, melaporkan bahwa kelompok pasukan Fiji-nya, yang hanya diawasi oleh satu tentara Inggris, menerima perintah untuk menerjunkan nuklir pertama di Pulau Christmas. Setelah menyaksikan uji coba, tentara RFMF juga terlibat dalam operasi pembersihan, tugas yang dilakukan termasuk menangkap dan membunuh burung-burung laut yang dibutakan oleh ledakan nuklir.

Sejak saat itu, sebagian besar veteran nuklir Fiji menderita berbagai penyakit berat, termasuk kanker, leukemia, dan mandul, yang mereka kaitkan dengan tingginya paparan radiasi berbahaya yang mereka hadapi pada tahun 1950an. Penduduk setempat di Pulau Christmas Island yang menua, juga takut akan dampak kesehatan bagi anak-anak dan cucu mereka.

Pemerintah Inggris, berturut-turut, dari satu pemerintah ke pemerintah lainnya, telah menyangkal adanya keterkaitan antara uji coba mereka dengan fenomena ini, menolak memberikan pengakuan penuh dan kompensasi kepada mantan tentara dan angkatan laut yang korban. Tuntutan hukum yang diajukan oleh para veteran itu gagal, diseret-seret selama hampir satu dekade. Departemen Pertahanan Inggris melawan setiap tuduhan yang dilayangkan seperjalanan panjang itu.

Perdana Menteri Fiji, Voreqe Bainimarama, adalah mantan Laksamana Muda dan Komandan Pasukan Militer Republik Fiji. Pada Januari 2015, ia menyelenggarakan upacara khusus, untuk memberikan bantuan keuangan kepada veteran perang yang masih hidup, serta keluarga dari mereka yang telah meninggal dunia. Dalam kesempatan itu, Bainimarama mengatakan: “Fiji tidak bisa terus menunggu Inggris, untuk melakukan hal yang benar. Kita berhutang kepada orang-orang ini untuk membantu mereka sekarang, bukannya menunggu politisi dan birokrat Inggris.”

Menteri Pertahanan Inggris saat ini, Gavin Williamson, baru-baru ini menginstruksikan kepada Kementerian Pertahanan untuk melakukan penilaian, apakah suatu studi baru perlu dilakukan atas dampak kesehatan dan kesejahteraan anak-anak veteran uji coba nuklir Inggris. Tapi bagaimana dengan prajurit dari Fiji dan Selandia Baru serta keluarga mereka?

Dalam wawancara belum lama ini, Paul Ah Poy, Presiden Asosiasi Veteran Nuklir Fiji (FNVA), meminta: “Kepada pemerintah Inggris Raya, rakyat Inggris Raya, kami ingin mengatakan, tolong, lakukanlah apa yang benar. Kami telah melakukan tugas kami untuk Ratu (Inggris) dan negara kami. Kami hanya bisa menunggu dan melihat, semoga, Anda akan melakukan sesuatu.”

Apakah Pangeran Harry akan membawa semangat Invictus Games kembali ke pulau-pulau Inggris? Apakah ia akan menyuarakan keresahan ini dengan Perdana Menteri May, meminta pemerintah Inggris untuk memperluas subjek studi dampak kesehatan ini, untuk meliputi veteran yang masih hidup di Fiji dan Selandia Baru? Akankah Inggris, akhirnya, melakukan hal yang benar, dan mengakui dan memberikan kompensasi yang layak, kepada para prajurit dan angkatan laut yang dengan setia melayani Kerajaan Inggris di era nuklir? (PINA/Islands Business/PACNews 23/10/2018)

Nic Maclellan adalah penulis buku Grappling with the Bomb (ANU Press), mengenai sejarah uji coba nuklir Inggris di Kiribati.

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top