HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Apakah Pasifik siap menghadapi virus corona?

papua
Tenaga kerja kesehatan sedang bekerja di rumah sakit di Kepulauan Marshall. - Devex/ ADB / CC BY-NC-ND
Apakah Pasifik siap menghadapi virus corona? 1 i Papua
Tenaga kerja kesehatan sedang bekerja di rumah sakit di Kepulauan Marshall. – Devex/ ADB / CC BY-NC-ND

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Lisa Cornish  

Tidak ada laporan kasus virus Corona negara-negara Kepulauan Pasifik, tetapi kerentanan wilayah ini terhadap penyakit menular – dibuktikan baru-baru ini dengan serangan wabah campak – berarti negara-negara telah memberlakukan rencana tanggap darurat untuk mencegah virus ini masuk, dan untuk bersiap menanggapi dengan sigap jika ini terjadi.

Apakah Pasifik siap menghadapi virus corona? 2 i Papua

Batasan kunjungan telah diterapkan oleh sejumlah negara Pasifik, tidak hanya dari Tiongkok tetapi juga negara-negara yang dianggap berisiko tinggi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Pemerintah Australia dan Selandia Baru, dan Komunitas Pasifik – atau SPC – adalah beberapa mitra yang membantu negara-negara di kawasan Pasifik dengan keperluan mereka untuk berjaga-jaga.

Selandia Baru telah melaporkan kasus pertamanya pada hari Jumat (28/2/2020), meningkatkan risiko bagi negara-negara Kepulauan Pasifik. Ada juga kekhawatiran bahwa kurangnya kapasitas sistem kesehatan, tenaga kerja kesehatan yang tidak siap, dan komposisi demografinya, mungkin masih mempersulit wilayah ini jika COVID-19 terdeteksi.

“Virus Corona mungkin tidak akan sampai ke negara-negara kepulauan Pasifik, tetapi yang lain bisa saja datang,” menurut Meru Sheel, seorang peneliti di National Centre for Epidemiology and Population Health saat dihubungi Devex. “Memfasilitasi kesiapsiagaan dan pengawasan ini sangat penting. Tetapi retensi tenaga kerja, tenaga kerja kesehatan yang terlatih, serta peningkatan kapasitas tenaga kerja juga penting, jadi kita tidak hanya bereaksi terhadap wabah ketika hal itu terjadi.”

Situasi terkini dalam dukungan regional 

Loading...
;

WHO di Pasifik telah melakukan koordinasi dengan mitra-mitra kemanusiaan dan pembangunan melalui sebuah tim manajemen insiden multi agensi yang dipimpin oleh Divisi Dukungan Teknis Pasifik di Suva, Fiji. Australia, Selandia Baru, dan Komunitas Pasifik (SPC) adalah beberapa mitra regional utama. Peran mereka adalah untuk mendukung dan mengarahkan negara-negara Kepulauan Pasifik dalam hal kesiapsiagaan, pengawasan, dan tanggap wabah.

“WHO di Pasifik sedang mengecek sumber daya dari bidang keahlian yang berbeda, mengerahkan banyak staf kita untuk menyediakan dukungan tepat waktu,” kata Dr. Corinne Capuano, Direktur WHO untuk Divisi Dukungan Teknis Pasifik.

“Kita bekerja sama dengan pemerintah-pemerintah dan mitra-mitra 24 jam, memastikan bahwa rencana kesiapsiagaan dan tanggap kita strategis, terkoordinasi dengan baik, dan tepat waktu.”

Ada sejumlah aktivitas lain yang dilakukan mendukung kesiapsiagaan negara-negara – termasuk pertemuan mingguan untuk negara-negara Kepulauan Pasifik yang berafiliasi dengan AS, pertemuan berkala satuan tugas di Fiji, dan rencana tanggap darurat setiap negara.

Donor regional, termasuk Australia dan Selandia Baru, telah menyediakan berbagai jenis bantuan untuk membantu kesiapsiagaan negara.

Peralatan pelindung pribadi dan medis yang diperlukan untuk fasilitas-fasilitas kesehatan disediakan berdasarkan permintaan setiap negara. Ini termasuk masker, kacamata pelindung, baju-baju, dan bahan pensanitasi. Bantuan teknis juga diberikan di berbagai bidang, seperti perencanaan tanggap darurat, pencegahan dan pengendalian infeksi, dan komunikasi risiko tepat waktu virus corona nasional.

Negara-negara tersebut juga mendukung WHO dalam mengimplementasikan rencana 6-bulan Pasifik yaitu Pacific Action Plan for 2019 Novel Coronavirus (COVID-19) Preparedness and Response, yang mencakup pengadaan pasokan yang memadai bagi negara-negara untuk mendukung 50 hingga 100 pasien – yang masih diduga atau sudah dikonfirmasikan.

Layanan-layananan kesehatan di wilayah Kepulauan Pasifik digunakan untuk mendukung pemeriksaan COVID-19, termasuk pengawasan dan bantuan laboratorium dari Divisi Kesehatan Masyarakat SPC yang berbasis di Fiji, serta layanan  pemeriksaan dari Laboratorium Referensi Penyakit Menular Victoria yang berada di Australia, yang telah digunakan untuk memeriksa sampel dari pasien yang dicurigai. SPC juga turut membantu pengawasan melalui berbagi informasi dan pemetaan wabah COVID-19.

Jika wabah itu terjadi di kawasan ini, diharapkan negara-negara Pasifik akan meminta dukungan dari tim medis darurat asing seperti Tim Bantuan Medis Australia. Tim-tim ini dapat dikerahkan dalam berbagai tingkat, mulai dari tim kecil beranggotakan tenaga kesehatan masyarakat, hingga tim besar dengan tenaga klinis dan kapasitas untuk rumah sakit lapangan.

Kegiatan-kegiatan ini akan mendukung pemerintah Pasifik dalam mencegah dan mengendalikan infeksi, meningkatkan kapasitas laboratorium, menanggapi wabah, dan pengawasan, dan akan disesuaikan langsung dengan tantangan COVID-19.

Kelebihan Pasifik 

Persiapan yang sudah ada sebelum COVID-19 mulai Desember lalu di Tiongkok, telah menyebabkan banyak negara Pasifik menguatkan sistem pengawasan atas penyakit menular secara umum.

Melanie Bannister-Tyrrell, seorang konsultan senior Ausvet dan penulis laporan The State of Health Security in the Indo-Pacific Region, mengatakan kepada Devex bahwa beberapa negara telah mengalami kemajuan pesat dalam hal mengimplementasikan kapasitas inti kesehatan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

“Federasi Mikronesia telah menyelesaikan evaluasi eksternal bersama atas kesiapsiagaan mereka dalam keadaan darurat kesehatan masyarakat,” tuturnya. “Ini menunjukkan sejumlah kelebihan yang penting, terutama kualitas sistem pengawasan penyakit menular, dan kapasitas laboratorium untuk mendeteksi penyakit-penyakit menular yang baru muncul seperti COVID-19.”

Papua Nugini, sejak 2013, telah memiliki program pelatihan epidemiologi lapangan yang menyediakan pelatihan mengenai tanggap wabah, serta program pelatihan lainnya, kepada tenaga kerja dalam sistem kesehatan, baik pelatihan yang baru dimulai atau yang sudah berlangsung di negara-negara Pasifik lainnya. Sementara itu, beberapa negara Pasifik sudah berpengalaman dalam menerapkan Sistem Peringatan dan Respons Dini, untuk wabah penyakit dan keadaan darurat kesehatan masyarakat lainnya yang dapat diimplementasikan dengan sigap dan mempercepat akses pada data-data penting selama periode wabah.

Menurut Bannister-Tyrrell, pendekatan-pendekatan inovatif di bidang kesehatan juga membantu negara-negara Pasifik, untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam mencegah, mendeteksi, dan menanggapi keadaan darurat kesehatan masyarakat.

“Sebagai contoh, Tupaia adalah proyek tingkat regional Pasifik untuk mengumpulkan sumber data dan memetakan kapasitas diagnostik laboratorium, pasokan medis, dan wabah di seluruh Pasifik,” jelasnya. “Inisiatif ini telah dimulai dan diperluas dalam beberapa tahun terakhir, ini menunjukkan pentingnya dalam berinvestasi dalam kesehatan masyarakat sebelum ada kejadian seperti COVID-19.”

Kesenjangan dalam sistem kesehatan 

Meski sistem kesehatan untuk mendeteksi wabah telah bertambah maju, masih ada banyak kesenjangan. Pasifik adalah wilayah yang menghadapi berbagai tantangan terkait populasi, ekonomi, geografi, dan kesehatan. Sementara wilayah ini secara keseluruhan sedang bersiap-siap, strateginya perlu disesuaikan dengan kebutuhan – dan kesenjangan – di setiap negara.

“Saat ini di Pasifik, kapasitas sistem kesehatan setiap ada pada berbagai tahap dalam hal upaya kesiapsiagaan mereka untuk menanggapi wabah skala besar,” kata Capuano kepada Devex. “Namun, mengingat tantangan yang dihadapi oleh negara-negara Pasifik, seperti jarak yang jauh, pulau-pulau dan populasi yang tersebar dan terisolasi, dan sumber daya yang terbatas, bahkan jumlah kasus yang kecil pun bisa dengan cepat menyebabkan tekanan pada sistem kesehatan, baik dalam hal menanggapi dan mengimplementasikan langkah-langkah kesehatan publik yang diperlukan untuk menghentikan penyebaran lebih lanjut.”

Bagi Sheel, ia juga khawatir tentang tekanan yang mungkin dihadapi fasilitas dan tenaga kerja kesehatan setelah menanggapi wabah campak baru-baru ini.

“Kelelahan (fatigue) dalam tenaga kerja dalam sistem kesehatan sangat tinggi,” katanya. “Ini adalah siklus yang menunjukkan kepada kita bahwa sistem layanan kesehatan ini rentan – tidak hanya dari sudut pandang infrastruktur, tetapi kelelahan tenaga kerja medis yang terbatas.”

Mendukung tenaga kerja kesehatan, menurut Sheel, itu sangat penting dalam memastikan mereka siap untuk kemungkinan wabah lainnya – dan cukup terlatih untuk COVID-19.

Bannister-Tyrrell juga berkata pelatihan harus berpusat pada penerapan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi dengan efektif di fasilitas perawatan kesehatan, dimana ada protokol yang jelas untuk manajemen pasien yang diduga terinfeksi wabah tertentu.

Tantangan dari populasi 

Dalam menanggapi kemungkinan COVID-19, dinamika dalam populasi bisa mendorong atau menghancurkan upaya pengendalian penyakit di Pasifik. Dengan wabah campak, Sheel menjelaskan bahwa perpindahan manusia, tempat-tempat dengan kepadatan tinggi, dan komunitas di mana 20 orang bisa tinggal dalam satu rumah, membantu memungkinkan naiknya jumlah infeksi.

“Campak bisa menyebar dengan cepat karena masalah ini,” katanya.

Memastikan sistem pengawasan yang sigap dalam menanggapi itu sangat penting untuk mencegah wabah, dan berkomunikasi secara efektif dengan negara-negara di seluruh wilayah Pasifik juga sangat penting. Ini termasuk investasi dalam pendidikan dasar tentang kebersihan, menurut Karen Page, delegasi Palang Merah di Suva.

“Untuk mengurangi risiko, kita terus menekankan bahwa perlindungan terbaik adalah mencuci tangan,” tegasnya kepada Devex. “Menjaga jarak, batuk dengan benar, menghindari orang, semuanya adalah tingkah laku yang penting. Tetapi sangat sulit untuk mengubah kebiasaan yang sudah mendarah daging.”

Satu lagi pesan WHO yang ingin disampaikan secara meluas di wilayah ini adalah menantang masyarakat untuk bertanggung jawab atas kesehatan mereka sendiri. (Devex)

Lisa Cornish adalah reporter Devex di Canberra.

Editor: Kristianto Galuwo

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pengumuman Lagu
"Tanah Papua"

Sehubungan dengan akan dilakukannya pendaftaran lagu “Tanah Papua” yang diciptakan oleh Bapak Yance Rumbino pada Direktorat kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, untuk itu disampaikan kepada seluruh pihak masyarakat yang mengklaim sebagai pencipta lagu “Tanah Papua”, diberi kesempatan untuk mengajukan klaim atau sanggahan lagu tersebut.

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa