Apalah arti sebuah nama? Dari Port Numbay sampai Stadion Lukas Enembe

papua, stadion lukas enembe , port numbay
Stadion Lukas Enembe - Jubi/dok

Papua No.1 News Portal

Jayapura, Jubi- Apa arti sebuah nama? Demikian kalimat terkenal dari potongan kisah Romeo dan Juliet, karya William Shakespeare. Nama tidak akan mengubah siapa dia, apalah arti sebuah nama apabila nama itu menimbulkan perselisihan.

Meminjam dialog dalam lakon tersohor itu, ternyata memberikan nama terkadang menimbulkan pro dan kontra. Bahkan bisa saja menambah perselisihan antara keluarga gara-gara salah memberikan nama.

Bukan hanya itu saja, nama seseorang bisa saja diganti karena tidak membawa keberuntungan atau pula karena sering sakit.

Proklamator dan presiden pertama RI, Soekarno, lahir dengan nama Koesno Sosrodihardjo. Saat kecilnya, Kusno sering sakit-sakitan dan menurut kebiasaan orang Jawa agar terhindar dari sakit, oleh orang tuanya namanya diruwat atau diganti jadi Soekarno.

Lalu bagaimana dengan nama-nama tempat dan bangunan di Kota Jayapura yang mendapat tanggapan pro dan kontra? Mulai dari nama arena (venue) PON lapangan tenis, stadion sampai bandara di Sentani.

Seperti kata Juliet dalam karya William Shakespeare nama tidak akan merubah siapa dia, mulai dari ketokohan maupun membawa kontroversi dan perselisihan. Oleh karena itulah pemberian nama selalu melekat dalam sejarah perjalanan hidup.

Menarik menyimak pemberian nama Stadion Lukas Enembe yang semula menimbulkan protes antara pro dan kontra. Meski harus diakui bahwa dalam pemerihtahan Gubernur Papua Lukas Enembe, Provinsi Papua telah ditetapkan sebagai pelaksana PON ke XX yang berlangsung pada Oktober 2021.

Loading...
;

Hingga tak heran kalau pada 23 Oktober 2020, Gubernur Lukas Enembe sendiri meresmikan namanya diabadikan dalam Stadion Utama Lukas Enembe atau Enembe Stadium. Begitupula dengan nama Bandara Sentani diganti menjadi Bandara Theys Hiyo Elluay, walaupun pada Minggu (25/10/2020) nama bandara masih tetap tertulis Sentani.

Port Numbay

Mantan Wali Kota Jayapura, MR Kambu pernah pula mengusulkan nama Kota Jayapura menjadi Port Numbay. MR Kambu mengundang semua pihak di Kota Jayapura mulai dari lembaga adat, tokoh agama dan perwakilan akademisi dalam mengkaji dan berdiskusi perihal nama Port Numbay.

Numbay, dinilai merupakan jati diri orang asli budaya Tabi dalam menentukan masa depan dan spirit membangun kota Jayapura.

Prof DR Berth Kambuaya MBA mengatakan, penggantian nama Kota Jayapura menjadi Port Numbay adalah hal yang wajar, sepanjang tidak menyalahi aturan hukum dan disetujui semua kalangan di Papua. “Perubahan nama adalah wajar saja, sekarang departemen saja sudah diganti jadi kementerian,” katanya sebagaimana dilansir Kompas.com edisi 2 Februari 2010.

Akhir diskusi soal nama Port Numbay di Kantor Wali Kota Jayapura dalam presentasi dukungan, maka dari 110 peserta, ternyata 73 persen memilih nama Kota Jayapura diganti dengan nama Port Numbay, hanya 10 persen menolak dan sisanya mau memberi nama Kota Tabi.

Ketua Lembaga Masyarakat Adat Port Numbay, George S Awi menyetujui pergantian nama Kota Jayapura itu, sebab menurutnya pergantian nama itu aspirasi masyarakat setempat.

Meski mendapat persetujuan tokoh adat dan hasil konsultasi publik, wilayah itu tetap saja bernama Kota Jayapura. Ibukota Provinsi Papua ini sudah empat kali berganti nama, mulai dari Hollandia, Kota Baru, Sukarnopura dan Kota Jayapura.

Nama Jayapura sendiri adalah bahasa Sansekerta sebagai kota kemenangan, Pura berarti kota dan Jaya kemenangan. Bagaimana dengan Numbay nama asli warga Kota Jayapura, hingga kini belum terwujud. Apalah arti sebuah nama? Jika tak merubah siapa dia yang sebenarnya.(*)

Editor: Syam Terrajana

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top