Follow our news chanel

Aktivis mahasiswa: aparat bungkam ruang demokrasi di Papua

papua aksi mahasiswa
Aparat keamanan menghadang massa aksi mahasiswa di Perumnas 3 Waena, Kota Jayapura, Papua, 27 Oktober 2020 -Jubi/ Bendy Agapa.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas IImu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cenderawasih Kiri Keroman mengatakan ruang demokrasi di Papua benar benar dibungkam aparat TNI dan Polri.

Ia menyampaikan penilaian terkait penanganan aksi mahasiswa Papua di Kota Jayapura, Papua, Selasa (27/10/2020).

Menurut Keroman, aksi yang dilakukan solidaritas mahasiswa Papua tersebut merupakan aksi yang bermartabat. Sebab aksi tersebut bertujuan ingin menyampaikan aspirasi penolakan terhadap Otonomi Khusus Jilid II kepada Majelis Rakyat Papua (MRP). MRP adalah Lembaga representatif orang Papua.

BACA JUGA: Aksi tolak Otsus, satu mahasiswa tertertembak dan 13 ditangkap

Namun, kata Keroman, tidak ada satu pun ruang yang diberikan.

“Aparat keamanan sangat refresif kepada massa aksi, kami dibubarkan dengan paksa oleh aparat keamanan (TNI-Polri) dengan membuang water canon, menembak gas air mata, bahkan membuang peluru,” katanya kepada Jubi, Rabu (28/10/2020).

Keroman mengatakan, untuk mengamankan massa aksi agar bisa pulang dengan aman, sebagai penanggung jawab ia sudah menyerahkan diri kepada pihak aparat.

Loading...
;

“Namun pihak keamanan tidak mau,” ujarnya.

Pada pukul 12.00 WIT, katanya, pada saat massa aksi dibubarkan, aparat keamanan melakukan penembakan yang membuat Matias Suu, mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Uncen terkena peluru di lengan kanan. Selain itu dua mahasiswa lainnya, Notianus Belau, 21 tahun dan Esron Balyo, 22 tahun, terkena tembakan gas air mata di bagian betis dan tangan hingga luka. Keduanya dirawat oleh keluarga mereka.

Koordinator umum aksi mahasiswa, Manu Varaiyaba mengatakan mahasiswa yang melakukan aksi 27 Oktober 2020 itu terbagi di tiga titik, yakni di Perumnas 3, Expo Waena, dan Uncen bawah.

Pada pukul 9.00 WIT, katanya, aparat keamanan berseragam lengkap menangkap 13 mahasiswa yang sedang melakukan orasi di depan gapura Uncen bawah.

Ke-13 mahasiswa adalah Apniel Doo, Jhon F. Tebai, Doni Pekei, Yabet Likas Degei, Meriko kabak, Orgis Kabak, Carles Yap, Ones Sama, Yanias Mirin, Arkilaus  Lokon, Kristianua Degei, dan Laban Helukan. Mereka dibawa ke Polsek Abepura.

Sedangkan massa aksi di Perumnas 3 dibubarkan secara paksa dengan pukulan dan tembakan. Akibatnya para mahasiswa yang melakukan unjuk rasa berlarian mengamankan diri menuju kampus Uncen.

“Maka aparat (TNI-Polri) juga mengejar mereka sampai masuk ke dalam kampus Uncen, hal ini tidak wajar polisi sudah melanggar undang-undang,” katanya.

Pada Rabu (28/10/2020), kata Varaiyaba, berkat LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Papua, ke-13 mahasiswa yang ditahan sudah dibebaskan.

Sementara itu, Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw kepada Jubi melalui pesan WhatsApp, Selasa (27/10/2020) mengatakan pihaknya membubarkan aksi unjuk rasa kerena menemukan ada yang membawa molotov dan dopis (sejenis bom ikan).

“Ini ditemukan di Perumnas III, dopis dan bensin,” katanya. (CR-5)

Editor: Syofiardi

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top