AS tawarkan uang duka keluarga korban serangan di Afghanistan

Papua
Ilustrasi ledakan, pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Washington, Jubi – Pemerintah Amerika Serikat lewat Pentagon telah menawarkan sejumlah uang duka kepada keluarga dari 10 warga sipil yang tewas dalam serangan pesawat nirawak (drone) di Kabul, Afghanistan. Serangan yang terjadi pada 29 Agustus, dua hari sebelum tenggat penarikan pasukan AS dari negara itu.

Departemen Pertahanan AS itu mengatakan telah membuat komitmen yang mencakup pembayaran uang duka sukarela dan bekerja sama dengan Departemen Luar Negeri untuk menawarkan relokasi ke AS kepada keluarga korban.

“Wakil Menteri Pertahanan AS Bidang Kebijakan, Colin Kahl menggelar rapat virtual pada Kamis dengan Steven Kwon, pendiri dan presiden Nutrition & Education International, lembaga bantuan yang mempekerjakan Zemari Ahmadi, yang tewas dalam serangan drone itu,” kata Sekretaris Pers Pentagon John Kirby, Jumat, (15/10/2021) malam.

Baca juga : Sejumlah orang terluka dalam serangan drone di Bandara Saudi
Koalisi pimpinan Saudi cegat serangan drone di Bandara Abha
Taliban umumkan Bandara kabul siap beroperasi 

Ahmadi dan warga sipil lain yang tewas dalam serangan itu adalah korban tak bersalah dan tidak terkait dengan ISIS-K atau ancaman terhadap pasukan AS. Sedangkan dari 10 korban tewas, tujuh di antaranya adalah anak-anak.

Pentagon sebelumnya mengatakan serangan pada 29 Agustus itu menyasar seorang pengebom bunuh diri ISIS yang berpotensi menimbulkan ancaman bagi pasukan AS di bandara saat mereka menyelesaikan tahap akhir penarikan dari Afghanistan.

Loading...
;

Namun sejumlah laporan segera bermunculan dan mengatakan bahwa serangan drone AS di sebuah kawasan permukiman di bagian barat Bandara Internasional Hamid Karzai Kabul telah membunuh warga sipil termasuk anak-anak.

Video dari tempat kejadian menunjukkan pecahan-pecahan dari sebuah mobil yang berserakan di halaman sebuah gedung.

Pentagon kemudian mengatakan serangan itu adalah sebuah kesalahan tragis. Serangan itu terjadi tiga hari setelah pengebom bunuh diri ISIS membunuh 13 tentara AS dan puluhan warga sipil Afghanistan yang berkerumun di luar gerbang bandara untuk memperebutkan kursi dalam penerbangan evakuasi, menyusul kejatuhan ibu kota Kabul ke tangan Taliban.

Pembunuhan warga sipil itu juga memunculkan pertanyaan tentang masa depan serangan kontra terorisme AS di Afghanistan. (*)

Editor : Edi Faisol

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top