Follow our news chanel

Previous
Next

Asal mula tari Tumbu Tanah dan masyarakat Arfak

Asal mula tari Tumbu Tanah dan masyarakat Arfak 1 i Papua
Tari Tumbu Tanah masyarakat Arfak, Papua Barat – Jubi/Wikipedia

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Nurul Darida

Pada zaman dahulu hiduplah masyarakat yang damai di sebuah kampung kecil di Manokwari, tepatnya di Pegunungan Arfak. Masyarakat Arfak ini terdiri atas empat suku, yaitu suku Hattam, Sough, Moile, dan suku Meyakh.

Dari banyaknya suku di sana hiduplah dua suku adat yang berbeda, tetapi mereka saling berdampingan. Mereka hidup rukun satu sama lain. Para anak dan orang tua pun selalu bekerja sama dan bergotong-royong untuk mencari bahan makanan.

Mereka adalah suku-suku yang sangat menghargai alam. Tak pernah bagi mereka (niat) untuk menghancurkan hutan, membunuh hewan, atau meracuni ikan-ikan di sungai. Mereka selalu menghargai pemberian alam. Oleh karena itu, mereka juga selalu mengambil sesuatu dari alam dengan seperlunya saja.

Anak-anak ini selalu bermain bersama, berlarian dari satu pohon ke pohon lain. Sambil menatap cerahnya awan yang juga seakan sedang berkejar-kejaran. Berlari dari satu rumah ke rumah lain, tertawa bersama adalah kebiasaan anak-anak kedua suku tersebut.

Para sesepuh selaju memanggil mereka yang berlarian untuk mendengar sedikit syair-syair alam. Seperti itulah mereka, hidup berdampingan dengan alam menjadikannya sebagai guru terbaik bagi mereka.

Loading...
;

Dalam setiap syair yang diucapkan selalu memiliki makna yang dalam. Tak jarang pula syair-syair yang dinyanyikan berisi kejadian-kejadian masa lampau yang terjadi. Dalam syair-syair tersebut juga terdapat pujian terkait kepercayaan mereka dan tak jarang pula dalam syair mereka menceritakan tingkah laku hewan.

Kehidupan mereka adalah kehidupan yang harmonis antara alam dan keberadaban manusia. Hingga suatu hari terjadi hal yang memecahkan kebersamaan mereka. Kedua suku tersebut tak lagi bersaudara. Saat itu terjadi pertikaian antara anak-anak dari kedua suku tersebut.

“Hei, ini pohon jambu milik kami!” ucap salah satu anak.

“Pohon ini milik kami, ini masuk di batas lahan kami. Jadi pohon ini milik kami,” jawab anak suku lain

“Tidak, pohon ini milik kami! Setiap hari kami bermain di sini.”

Perebutan kepemilikan salah satu pohon jambu ini tidak selesai begitu saja, namun pertengkaran anak-anak ini semakin menjadi-jadi. Masalah tersebut diperparah pula oleh tindakan salah satu anak yang memanah. Ia tidak ingin menyakiti siapapun, dia hanya ingin menakuti anak-anak dari suku lain. Anak itu melepaskan anak panah yang melesat jauh dan mengenai burung yang sedang hinggap bebas di ranting pohon.

Tindakan tersebut lantas dicela oleh anak lain yang menjadi lawannya, bahkam semakin berkepanjangan hingga melibatkan orangtua mereka. Akibat dari perebutan dan matinya seekor burung yang hinggap di dahan tersebut menyebabkan pertengkaran di bawah pohon jambu. Masalah kecil ini berubah menjadi masalah besar antara dua suku yang selama ini hidup berdampingan. Tidak ada yang mau mengalah antara kedua suku ini, masing-masing suku membenarkan yang dilakukan anak-anaknya.

Konflik semakin tak berkesudahan. Kedua suku bahkan memutuskan agar salah satu suku pergi dari kampung dan mencari lahan untuk tempat tinggal baru. Keduanya berpisah dan menghilangkan jejak persahabatan mereka.

Kelompok pertama memutuskan untuk berjalan ke arah selatan, tepatnya daerah yang sekarang disebut Anggi. Merekalah asal mula masyarakat Arfak yang berbahasa Sough. Mereka menyebar ke arah selatan, yaitu Daratan Isim, Beimes, Chatubouw, Sururey, dan sebagian kota Ransiki, hingga wilayah Teluk Bintuni. Sedangkan suku lainnya, mereka berjalan ke arah timur laut menuju daerah Minyambouw dan menurunkan masyarakat Arfak dengan bahasa Hattam. Kemudian menyebar ke Pegunungan Arfak terutama di Hingk, Awibehel, Beganpei, dan Pinibut.

Kisah masa lalu mereka yang bersahabat dan selalu bergotong-royong membuat mereka merindukan masa itu. Sehingga terbesit dalam hati mereka untuk saling bertemu kembali. Inilah yang membuat mereka kembali bersama dalam suasana kekeluargaan.

Mereka membuat upacara pertemuan yang diikuti oleh seluruh masyarakat suku mereka. Dalam upacara tersebut mereka berbaur dengan hangat dalam belutan langit malam yang diterangi oleh bintang-bintang cerah.

Tak terlupakan pula hidangan yenga menjadi ciri kebersamaan mereka di masa lalu yang dihidangkan selezat mungkin. Setelah menghabiskan hidangan tersebut, beberapa pemuda berdiri dan menarikan tarian yang berbentuk ular dengan bergandeng  tangan satu dengan yang lain.

Kebahagiaan malam itu sangat hangat dengan suara alam yang dipadu dengan indahnya nyanyian syair-syair yang penuh makna dari para sesepuh mereka. Kebersamaan yang hilang kembali menjadi persaudaraan yang semakin hangat.

Dengan kisah ini mereka belajar bahwa mereka tidak bisa hidup sendiri tanpa teman, dan suku lainnya. Kisah ini adalah asal mula terciptanya tradisi cintakuek, yaitu acara makan bersama masyarakat Arfak sebagai ajang menunjukkan kemampuan mereka dalam memberi makan banyak orang yang mempunyai hubungan kekerabatan dalam jumlah yang banyak.

Tarian yang dibawakan pun menjadi cikal bakal terciptanya tarian Tumbu Tanah. Tarian ini adalah salah satu tari tradisional masyarakat Arfak yang biasa ditampilkan dalam acara dan penyambutan tamu. Dari kehidupan nenek moyang masyarakat Arfak ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kekeluargaan dan kebersamaan adalah suatu hal yang berharga. (*)

Penulis adalah mahasiswa asal Sorong, Papua Barat. Cerita ini merupakan cerita favorit ke-4 (juara 7) pilihan juri lomba penulisan cerita rakyat dalam rangka HUT ke-18 Jubi

Editor: Timo Marten

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top