HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Australia, Fiji doakan kalian tapi kami tahu itu tak cukup lawan krisis perubahan iklim

Puing-puing rumah yang dihancurkan oleh kebakaran hutan di Australia. – The Guardian/Tracey Nearmy/Reuters

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Frank Bainimarama

Ketika dunia menyambut tahun yang baru, untuk Oceania, foto-foto yang menandai awal dekade ini bukanlah gambar sampanye dan kembang api. Malah, kita dihadapkan dengan gambar-gambar dan berita utama yang tidak pantas untuk dirayakan, tapi yang harus diratapi.

Langit di sekitar Sydney berwarna merah darah apokalips yang menyeramkan akibat kebakaran hutan, sementara orang-orang Australia yang putus asa berkumpul di tepi lautan, menanti untuk diselamatkan menggunakan perahu – situasi yang terancam masih bisa menjadi semakin buruk. Permukaan gletser di Selandia Baru ditutupi oleh abu berwarna cokelat yang telah tertiup ribuan kilometer melintasi Samudra Pasifik. Dan di Fiji, kami terkapar oleh derasnya banjir dan kerasnya angin kencang.

Hanya dua hari setelah Natal, Siklon tropis Sarai menyerang negara kami, memotong pendek masa liburan sementara keluarga-keluarga Fiji bersiap-siap untuk lagi-lagi menghadapi badai – suatu pola yang terlalu biasa terjadi yang sepanjang satu dekade terakhir, telah membawa kerugian besar bagi ekonomi negara kita, memaksa kita untuk memindahkan desa-desa dari tepi laut ke tempat yang lebih tinggi, serta mengurangi harapan hidup banyak orang-orang Fiji.

Namun, bahkan ketika kita di Fiji meneruskan analisis kerugian yang disebabkan oleh angin dan banjir yang sangat besar di sini di rumah kita, Fiji tetap berdiri dalam solidaritas dengan saudara-saudari kita di Australia ketika mereka juga menghadapi bencana itu, yang dengan setiap berita yang diterbitkan dan postingan media sosial yang dibagikan, menyebabkan seluruh dunia syok. Australia selalu menjadi tetangga yang baik dalam membantu Fiji melalui berbagai bencana iklim terburuk kita; dan walaupun kita mungkin kekurangan sumber daya yang sama untuk membalas budinya dalam krisis seperti ini, orang-orang Australia perlu tahu bahwa orang-orang Fiji akan mengingat penderitaan kalian saat kita berupaya mendorong dunia untuk mengambil upaya dan tindakan perubahan iklim yang lebih ambisius.

Di arena negosiasi perubahan iklim, ketika delegasi dari seluruh dunia berkumpul di ruang-ruang konferensi untuk merundingkan jalan terbaik ke depannya untuk memastikan planet ini dapat dihuni oleh generasi mendatang, kita harus bijaksana ketika membicarakan setiap hubungan antara setiap bencana-bencana ini – seperti Siklon Sarai atau Kebakaran hutan di Australia – dan peningkatan suhu rata-rata global. Ini karena, meskipun sains di balik perubahan iklim itu sangat jelas, politik perubahan iklim global tetap suram, tertanam dalam ketakutan ia akan mengganggu status quo.

Loading...
;
Baca juga  Kota Jayapura, pemersatu umat beragama lewat Pesparani I Katolik

Namun demikian, saya bukan orang yang suka berbasa-basi; dan, jujur saja, saya lelah dengan kurangnya pertanggungjawaban yang disebabkan oleh perilaku menghindari sesuatu yang tidak diinginkan seperti ini. Kita tidak perlu menjadi ilmuwan untuk mengetahui, dalam hati kita, bahwa ada sesuatu yang sangat, sangat salah di sini. Kita tahu bahwa segala sesuatunya semakin memburuk. Ketika dunia semakin panas dan kering, api terus membakar, lanskap dan ekosistem yang penting akan terus berubah menjadi abu, nyawa terus hilang.

Tidak seperti dalam negosiasi-negosiasi internasional kita, petugas pemadam kebakaran dan petugas penyelamat tidak punya waktu untuk duduk di meja konferensi, ketika mereka dipaksa mempertaruhkan hidup mereka untuk menghentikan bencana-bencana semacam ini dari menyebar. Mereka yang dipacu oleh adrenalin, dan keberanian mereka yang patriotis untuk melindungi tanah air mereka, ini seharusnya menginspirasi dunia untuk bertindak – dan heroisme seperti inilah yang harus dibawa oleh bangsa-bangsa di seluruh dunia ke meja negosiasi.

Dengan naiknya satu derajat dari suhu rata-rata global, kekuataan dan seringnya kebakaran hutan akan meningkat drastis, demikian pula kekuatan siklon yang digerakkan oleh panas. Seperti yang sekarang kita pahami lebih dalam daripada sebelumnya, batas maksimum peningkatan suhu rata-rata global tidak boleh melebihi 1,5°C – batas yang menguntungkan semua negara, terutama yang berada di garis lintang selatan bumi ini.

Di seluruh Pasifik, kami mendoakan Australia, khususnya para korban yang telah menyaksikan neraka di Bumi, dan dengan para penindak pertama yang dengan berani melawan api dalam bencana mengerikan ini. Tetapi doa saja tidak akan membalikkan krisis perubahan iklim yang dihadapi dunia; untuk ini, kita perlu mengambil tindakan yang berarti.

Baca juga  Satgas Covid-19: yang tidak berkepentingan jangan ke RS

Sementara tahun 2020 dimulai dengan perjuangan kita yang suram melawan perubahan iklim – dan dibayang-bayangi oleh hasil pertemuan COP25 yang sangat mengecewakan pada akhir 2019 yang, setelah negara-negara penghasil emisi tinggi menolak untuk berubah, tidak memiliki ambisi yang nyata – kita tidak boleh merasa dikalahkan.

Tahun 2020 juga membawa peluang besar untuk mengambil tindakan yang lebih berani untuk menahan peningkatan kekuatan dan kekerapan krisis perubahan iklim. Komunitas internasional akan kembali berkumpul untuk COP26 di Glasgow akhir tahun ini dalam pertemuan yang penting dalam sejarah bersama kita – satu peluang penting untuk membuat komitmen berarti yang diperlukan untuk secara menyeluruh dan sistematis mengurangi emisi gas rumah kaca.

Jangan kita mengambil hal-hal yang telah kita nikmati selama beberapa dekade begitu saja. Anak-anak dan cucu-cucu kita berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk menyelam di terumbu karang kita, untuk menyaksikan keindahan alam yang luar biasa, bukan sisa-sisa lautan yang asam. Mereka berhak untuk melihat koala berkeliaran di habitat alaminya, dan bukan berkendara melewati lanskap hangus dan abu. Mereka layak mendapatkan air minum bersih, untuk hidup di komunitas tempat tinggal mereka dari generasi ke generasi, dan hidup bukan dengan rasa takut akan serangan alam, tetapi bersama dengan keindahannya.

Jika kita memilih untuk tidak bertindak, kita hanya akan memungkinkan krisis ini untuk dihadapi generasi mendatang. Tetapi jika kita memilih jalan yang berbeda, dan berkomitmen penuh untuk mencapai nol emisi gas rumah kaca, kita masih bisa memenangkan pergulatan ini demi kehidupan kita. (The Guardian)

Frank Bainimarama adalah perdana menteri Fiji.

 

Editor : Kristianto Galuwo

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pengumuman Lagu
"Tanah Papua"

Sehubungan dengan akan dilakukannya pendaftaran lagu “Tanah Papua” yang diciptakan oleh Bapak Yance Rumbino pada Direktorat kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, untuk itu disampaikan kepada seluruh pihak masyarakat yang mengklaim sebagai pencipta lagu “Tanah Papua”, diberi kesempatan untuk mengajukan klaim atau sanggahan lagu tersebut.

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa