Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Baik dan buruk ekonomi Vanuatu 2018

Ilustrasi Kapal Pesiar di Vanuatu. - RNZI/AFP
Baik dan buruk ekonomi Vanuatu 2018 1 i Papua
Kapal Pesiar di Vanuatu. – RNZI/AFP

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Dan McGarry

Melihat keadaan ekonomi Vanuatu hari ini, saya tergoda untuk mengutip kalimat pembuka penulis Inggris Charles Dickens dari A Tale of Two Cities:

Baik dan buruk ekonomi Vanuatu 2018 2 i Papua

It was the best of times (berkembangnya sektor pengiriman uang, angka ekspor kava yang tinggi, perjanjian perdagangan dengan Kaledonia Baru, pendapatan pemerintah mencapai rekor baru, investasi infrastruktur besar-besaran, pertumbuhan sektor publik, masuk dalam Daftar Putih OECD, penjualan paspor, dll.), it was the worst of times (permasalahan dengan izin kerja, pajak penghasilan, larangan penggunaan produk plastik sekali pakai, defisit perdagangan dengan hampir semua mitra dagang, masuk dalam Daftar Hitam UE, penjualan paspor, dll).

Hasil akhirnya adalah sesuatu yang sudah biasa terjadi di mata pengamat Vanuatu. Kita melewati semuanya, yang baik dan buruk.

Kita berupaya sebaik mungkin untuk menghindari guncangan eksternal, dan masih juga berhasil menciptakan beberapa guncangan dalam negeri kita sendiri. Kita mampu bekerja sama ketika diperlukan, namun masih juga cekcok tanpa henti dalam hal lainnya.

Dengan kata lain, kita adalah negara yang sedang belajar untuk memimpin dirinya sendiri.

Loading...
;

Ekonomi Vanuatu dari jauh

Dilihat secara umum, ekonomi Vanuatu terlihat sangat bagus. Sangat bagus, untuk ekonomi yang kecil, miskin sumber daya, terisolasi, yang juga merupakan salah satu tempat yang paling indah di dunia.

Sebuah analisis ekonomi baru-baru ini, dilaporkan oleh ekonom ANZ Pacific, Kishti Sen, tampaknya menunjukkan ekonomi Vanuatu menukik pada 2015, setelah bencana ganda Siklon Pam dan landasan pacu Bauerfield. Tetapi proses pemulihan kembali setelah Pam menjaga pergerakan ekonomi tetap positif.

Ini mungkin merupakan contoh dari perumpamaan jendela yang rusak. Seperti yang disarankan perumpamaan tentang jendela yang pecah, pengeluaran untuk pulih dari kerusakan itu bukan pertumbuhan. Biaya peluang tidak dipertimbangkan, misalnya. Dana yang kita habiskan untuk membangun kembali, adalah dana yang tidak bisa kita belanjakan di sektor lain.

Memang ini benar, tetapi filosofi Build Back Better, pemerintah pusat masih berupaya untuk mendapatkan keuntungan dari situasi tersebut.

Kita tidak memiliki indikator resmi untuk menunjukkan dengan pasti apakah perekonomian kita menyusut, setidaknya selama beberapa bulan tahun lalu. Pemasukan dari PPN mungkin adalah indikator yang paling sesuai untuk mengukur ekonomi kita. Jika aktivitas barang atau jasa meningkat, penerimaan PPN naik. Jika menurun, ia jatuh.

Dari tahun ke tahun, PPN naik sekitar 10% secara keseluruhan. Begitu juga dengan tahun lalu. Hal ini membingungkan, karena sejak 1 Januari 2018, tarif PPN dinaikkan dari 12,5% menjadi 15%. Perubahan itu , menurut prediksi anggaran, seharusnya meningkatkan pemasukan dari PPN sebanyak 12-15% dari bulan ke bulan. Namun bukan itu yang terjadi, 2018 berakhir dengan pemasukan dari PPN jauh di bawah yang diharapkan, dari ekonomi sehat dan berkembang.

Penjualan paspor

Tetapi pemerintah tampaknya tidak terganggu oleh tren ini. Para pemimpin optimis dengan jumlah pendapatan negara, yang juga didorong oleh penjualan paspor. Pendapatan non-pajak melonjak pada akhir tahun lalu. Secara keseluruhan, angka ini naik hampir 90% dari 2017.

Pendapatan pemerintah 2018 secara keseluruhan naik 33% dari 2017. Meski terlihat baik, hal ini dapat menyebabkan pemborosan, dan tanda-tanda yang mengkhawatirkan sudah dapat dilihat. Berbagai pembayaran dan tunjangan, pengeluaran terkait cuti, dan biaya lainnya terkait penggajian yang mencapai ratusan juta vatu untuk setiap kategorinya.

Pembayaran utang asing

Sisi baiknya, tidak semua pendapatan kita disia-siakan. Sebagian juga digunakan untuk membayar utang luar negeri, terutama pinjaman dari EXIM, Tiongkok. Menurut Laporan Keuangan Pemerintah Vanuatu Desember lalu, ”Pembayaran pinjaman asing termasuk: VT 1.003,8 juta untuk pinjaman dari Tiongkok, VT 365,4 juta kepada Bank Pembangunan Asia (ADB), VT 59,6 juta untuk membayar pinjaman Bank Dunia, dan VT 35,1 juta pinjaman dari Prancis.”

Sektor pariwisata jadi prioritas

Sudah jelas bagi semua orang bahwa sektor pariwisata mungkin akan menjadi pendorong utama ekonomi Vanuatu di masa depan. Dan — bisa dibilang untuk pertama kalinya — pandangan ini direalisasikan dan pariwisata menjadi prioritas pemerintah pada 2018.

Seluruh sektor swasta menyambut baik visi ambisius pemerintah, bernama Shared Vision 2030, yang bertujuan untuk mengembangkan sektor pariwisata. Keseluruhan strategi pariwisata ini memang mahal, tetapi ahli ekonomi senior tersebut percaya prospek jangka menengah dari strategi ini, adalah perkembangan sekitar 5-6%.

Ekonomi-ekonomi kecil juga sangat mudah terpengaruh goncangan, dan bukan hanya dari peristiwa-peristiwa besar seperti badai Pam, tetapi juga dari masalah-masalah lain. Akhir dari gelembung (bubble) properti menyebabkan jatuhnya pemasukan dari industri konstruksi antara 2012 dan 2014. Sektor perindustrian juga menyusut lebih dari 20%.

Masalahnya dengan ekonomi kecil seperti kita adalah jika satu bagian saja rusak, hal itu dapat mempengaruhi seluruh sistem. Kita hanya perlu mengacaukan satu maskapai penerbangan, satu bandara, satu kota — satu jalan — dan ini akan mempengaruhi semua orang selama bertahun-tahun ke depan.

Berkembang atau bangkrut

Tapi kita harus berkembang. Kita harus meningkatkan economic appetite kita, atau menghadapi risiko kelaparan. Di ekonomi yang lebih besar, contohnya, usaha yang mengalami kesulitan secara keuangan akan digantikan oleh yang lebih dinamis.

Di sini, di Vanuatu, hal itu belum tentu terjadi. Jika sebuah hotel besar ditutup, tidak ada jaminan perusahaan lainnya bisa mengambil alih. Pekerjaan yang hilang mungkin tidak dapat diganti, ide-ide baru mungkin tidak dapat dicoba.

Guncangan-guncangan eksternal

Politik dalam negeri bukan satu-satunya ancaman. Pengumuman dari UE baru-baru ini yang berkata, Vanuatu akan menjadi satu dari empat negara kepulauan Pasifik yang akan dikenai sanksi karena ‘tidak patuh’ pada kebijakan pajak, telah disambut dengan bantahan dari profesional lokal.

Tanpa perubahan mendasar, maka prediksi pakar ekonomi Kishti Sen, mengenai prospek jangka menengah negara itu akan berubah, dan Vanuatu akan terus bergerak sebagai salah satu ekonomi kecil yang paling baik – dan paling buruk. (Vanuatu Daily Post)

 


Editor: Kristianto Galuwo

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top