Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Bayi remaja pengikut IS meninggal, Inggris menuai kecaman

papua
Ilustrasi perempuan dan anak, pixabay.com
Bayi remaja pengikut IS meninggal, Inggris menuai kecaman 1 i Papua
Ilustrasi perempuan dan anak, pixabay.com

Keputusan Inggris mencabut kewarganegaraan seorang remaja setelah ia bergabung dengan IS dinilai sebagai “noda pada hati nurani” pemerintah.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

London, Jubi – Pemerintah Inggris menuai kecaman setelah seorang bayi berusia tiga pekan dari remaja pengikut Islamic State (IS) di Suriah meninggal. Keputusan Inggris yang sebelumnya mencabut kewarganegaraan seorang remaja setelah ia bergabung dengan IS dinilai sebagai “noda pada hati nurani” pemerintah.

Bayi remaja pengikut IS meninggal, Inggris menuai kecaman 2 i Papua

Bulan lalu kewarganegaraan Shamima Begum dicabut atas dasar keamanan.  Hal itu membuat Begum berada di kamp penahanan di Suriah tempat bayinya meninggal. Sebelumnya Begum yang kini berusia 19 tahun memiliki dua anak sejak ia pergi ke Suriah pada 2015. Kedua anaknya juga meninggal.

Baca juga : Kelompok parlemen Inggris tetapkan difinisi Islamofobia

Inggris dan Swiss teken kesepakatan dagang pasca-Brexit

Partai oposisi, Partai Buruh, mengatakan langkah untuk memindahkan seorang bayi yang tak bersalah di satu kamp pengungsi, tempat tingkat kematian bayi tinggi, secara moral tercela. Seorang anggota parlemen di Partai Konservatif yang berkuasa mengatakan itu menempatkan populisme atas prinsip.

Loading...
;

“Kematian tragis Jarrah, bayi Shamima Begum, merupakan noda atas hati nurani pemerintah ini,” kata Diane Abbot, juru bicara urusan dalam negeri oposisi.

Ia menuding Menteri dalam negeri gagal mengambil keputusan untuk menangani anak Inggris dan mereka harus menjelaskan.

Berita terkait : ISIS klaim tewaskan 30 tentara Nigeria

Iran serang ISIS 700 kali dengan drone

Ketika ditemukan di satu kamp pengungsi pada Februari, Begum yang tak menunjukkan rasa penyesalan memicu perdebatan di Inggris dan ibu kota-ibu kota lain di Eropa terkait apakah seorang remaja dengan seorang anak petempur hendaknya ditinggalkan di zona perang untuk mengurus dirinya sendiri.

Secara lebih luas hal itu telah menunjukkan kesulitan yang dihadapi pemerintah ketika mempertimbangkan konsekuensi etika, hukum dan keamanan dengan mengizinkan para militan dan keluarga mereka kembali.

Baca juga : Serangan ISIS terhadap parade militer menewaskan 29 orang

Serangan AS di Libya tewaskan bekas pemimpin ISIS setempat

Begum meninggalkan London ketika berusia 15 tahun bersama dengan dua gadis lainnya bergabung dengan IS. Ia menikah dengan Yago Riedijk, seorang petempur IS asal Belanda, yang kini ditahan di satu pusat penahanan Kurdi di bagian timur laut Suriah.

Dalam wawancara dengan media dia menyatakan tak menyesal pergi ke Suriah dan tak terganggu oleh pandangan kepala yang dipenggal. Namun dia meminta bisa pulang ke London untuk membesarkan bayinya.

Namun Menteri Dalam Negeri Sajid Javid menarik kewarganegaraan Begum, dengan menyatakan prioritasnya ialah keselamatan dan keamanan Inggris dan rakyat yang tinggal di sana. (*)

Editor : Edi Faisol

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top