HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Belajar dari bangsa Israel yang setia

Ilustrasi - Jubi/Pixabay.com
Belajar dari bangsa Israel yang setia 1 i Papua
Ilustrasi – Jubi/Pixabay.com

Oleh: Vredigando Engelberto Namsa, OFM

Pada mulanya orang-orang Yahudi berpikir bahwa mereka tidak dapat bertindak salah karena Allah mereka menyertai mereka dalam seluruh pejalanan hidup yang mereka lalui, baik itu dalam suka, maupun dalam situasi duka.

Zaman kerajaan yang berlangsung selama 400 tahun menunjukkan kepada mereka untuk menjadi besar seperti bangsa-bangsa lain, malahan menghancurkan mereka.

Belajar dari bangsa Israel yang setia 2 i Papua

Pengalaman mereka dikuasai oleh lima kekuasaan besar satu sesudah yang lain, menyadarkan mereka bahwa keyakinan mereka yang lama, yaitu bahwa pilihan Allah dengan sendirinya mendatangkan kemakmuran dan kedamaian, ternyata keliru.

Sebaliknya, pilihan Allah atas diri mereka mendatangkan kesulitan dan penderitaan (Groenen, 1986: 23). Mereka tidak dapat lari dari kenyataan.

Mereka mengungkapkan pengalaman itu dengan doa yang biasa didoakan oleh seorang yang tidak bersalah tetapi harus menderita, yang sekaligus mengungkapkan kemarahan dengan penyerahan diri, “Mengapa ya Tuhan…”

Itulah doa-doa yang diambil dari kitab Mazmur yang sangat indah dan tidak ada bandingnya. Dalam doa itu dinyatakan penyerahan diri kepada rahasia yang tidak terselami, yaitu Allah.

Loading...
;

Semua usaha untuk menjelaskan segala sesuatu yang terdapat dalam Perjanjian Lama tidak akan berhasil. Terlalu banyak hal yang tersimpan di sana. Mungkin ini dapat membuat hati kita kecil untuk melanjutkan membaca kitab suci.

Tetapi sebenarnya tidak perlu demikian. Kita boleh dengan yakin dan berani terus-menerus membacanya. Adakah pemahaman yang benar untuk membuka pintu masuk ke dalamnya?

Ada satu pemahaman itu, yaitu gagasan utama bahwa Allah dan Israel selama-lamanya terikat dalam ikatan perjanjian. Tuhan akan menjadikan mereka suatu bangsa yang besar yang jumlahnya seperti bintang di langit dan pasir di tepi laut (Kej 22:17).

Dalam diri Abraham dan keturunannya segala bangsa di bumi akan memperoleh berkat (ayat 18). Tanda lahiriah perjanjian ini ialah sunat.

Syarat utamanya kesetiaan untuk mengabdi Tuhan, “Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku.” Syarat-syarat kesetiaan Israel dirumuskan dalam semua perintah dan peraturan yang diberikan dengan perantaraan Musa di Gunung Sinai (Groenen, 1991:13).

Allah tidak akan dan tidak mungkin dapat mengingkari janji-Nya sendiri yang sama dengan keilahian-Nya. Sebaliknya bangsa ini (bangsa Yahudi) dapat mengingkari janji itu, dan memang demikian beberapa kali terjadi, bahwa bangsa Israel tidak setia pada perintah Allah.

Gereja memandang dirinya sebagai bangsa-bangsa lain yang diberi janji berkat melalui Abraham. Berkat ini terus diberikan kepada orang-orang Yahudi, sebagai mana dikatakan oleh Santo Paulus (Rm. 11:29).

Perjanjian Baru adalah kisah kesetiaan sempurna terhadap perjanjian ini, yang dinyatakan dalam diri Yesus. Sejarah Gereja boleh disebut pasangan sejarah Perjanjian Lama, artinya keduanya mengisahkan kegagalan dan awal baru dari kesetiaan terhadap perjanjian.

Ikatan perjanjian antara Tuhan dan Israel, antara Bapa Yesus Kristus dengan Gereja, adalah benang merah yang terdapat dalam seluruh kitab suci (Haughton, 1992: 37).

Mungkin terasa agak rancu ataupun terasa aneh karena dikatakan bahwa perjanjian, bukannya harapan akan kedatangan Mesias, yang merupakan kunci untuk membuka pintu masuk ke dalam kitab suci.

Namun kita harus ingat bahwa baru sesudah abad keenam sebelum masehi, yaitu pada zaman pembuangan ketika raja-raja tidak ada lagi, orang-orang Yahudi mulai membayangkan akan datangnya seorang keturunan Daud di masa depan, seorang raja-mesias yang sempurna yang akan membalikkan kekalahan-kekalahan mereka menjadi kemenangan.

Pada zaman Yesus hadir di dalam dunia ini, orang-orang Yahudi mengharapkan munculnya seorang yang akan memberikan kemenangan militer dan mereka keliru dengan kehadiran Yesus.

Ada juga yang menghilangkan harapan itu ke tingkat surgawi, yaitu harapan akan datangnya “Anak Manusia” yang akan datang dalam awan-awan langit pada zaman akhir.

Orang-orang Kristiani percaya bahwa Yesus yang telah menderita dan akhirnya menang adalah Kristus. Mereka inilah yang menyelidiki kitab suci dan melihat bahwa berbagai nubuat yang terdapat didalamnya mengenai “seorang nabi seperti Musa”, “dia yang duduk di sebelah kanan Tuhan”, yang akan disebut oleh Daud “Tuhanku”, sebenarnya adalah Yesus itu.

Memang dalam kitab suci ada harapan akan mesias di masa depan, tetapi tidak banyak. Baru sesudah hampir semua kitab-kitab Perjanjian Lama selesai ditulis, harapan itu berkembang dan sampai pada puncaknya. Dalam keempat Injil terdapat banyak bukti adanya harapan akan pembebasan yang dilakukan oleh seorang raja yang terurapi (Suharyo, 1991:45). (*)

Penulis adalah mahasiswa pascasarjana STFT Fajar Timur Abepura, Papua

Referensi

Groenen, Cletus. 1986. Percakapan Tentang Alkitab. Yogyakarta: Kanisius

 ---------------------. 1991. Pengantar Kitab Suci Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius

Haughton. 1992. Pembinaan Umat Kristen Awal. Yogyakarta

Suharyo, Ignasius. 1991. Mengenal Tulisan Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top