Follow our news chanel

Previous
Next

Belajar dari wabah campak, Samoa harus lebih proaktif cegah Corona

Bandara Internasional Faleolo. - Samoa Observer
Belajar dari wabah campak, Samoa harus lebih proaktif cegah Corona 1 i Papua
Bandara Internasional Faleolo. – Samoa Observer

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Tepat ketika negara Samoa menerima kabar bahwa pasien campak terakhir dari Rumah Sakit Nasional negara itu telah dipulangkan, seluruh dunia diimbau akan munculnya virus baru dari Tiongkok, yang telah merenggut puluhan nyawa dan menginfeksi lebih dari 400 orang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) prihatin dengan virus penyebab pneumonia tersebut, yang ditularkan dari orang ke orang dan memiliki struktur genetik yang mirip dengan SARS (juga merupakan sejenis virus Corona), yang mencabut 774 nyawa di 37 negara di pada awal 2000-an.

Sementara pihak berwenang di Tiongkok melanjutkan studi epidemiologinya, WHO menyatakan, dalam sebuah peringatan di situs web mereka: “Gejala-gejala umum infeksi ini termasuk gejala gangguan pernapasan, demam, batuk, sesak napas dan napas pendek. Dalam kasus yang lebih parah, infeksi dapat menyebabkan pneumonia, sindrom respirasi akut, gagal ginjal, dan bahkan kematian.”

Beberapa negara di seluruh dunia telah melaporkan kasus virus Corona dalam satu pekan terakhir, pihak berwenang di Thailand, Jepang, Korea Selatan, Australia dan Amerika Serikat telah mendirikan fasilitas di bandara-bandara tertentu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan atas penumpang yang mengunjungi kota Wuhan di Tiongkok, tempat dimana virus tersebut pertama kali dikonfirmasikan.

Awal minggu lalu, isu ini disinggung di Parlemen Samoa oleh Anggota Parlemen (MP) Olo Fiti Vaai, yang mengusulkan agar Samoa lebih waspada mengingat jumlah orang Tiongkok yang memasuki perbatasan Samoa.

“Di negara lain, mereka sudah mulai memberlakukan rencana-rencana kesiagaan darurat wabah mereka. Di Amerika Serikat contohnya, beberapa staf medis didatangkan ke bandara-bandara untuk memeriksa orang-orang yang datang dari Tiongkok,” kata MP Olo. “Sama seperti di Samoa Amerika ketika mereka mengetahui bahwa ada laporan campak di Samoa, tanggapan pertama mereka adalah memantau perbatasan masuk, dermaga dan bandara. Di situlah mereka menghentikan virus itu.”

Loading...
;

Namun Perdana Menteri Samoa, Tuilaepa Dr. Sa’ilele Malielegaoi, menampik kekhawatiran Olo, menanggapi MP asal Salega itu: “Kalian baru tahu tentang virus ini kemarin, dan Kementerian Kesehatan sudah mengetahuinya sejak lama dan mereka sudah memulai proses persiapan yang seperti biasa.”

Baru saja terlepas dari wabah campak yang mencabut nyawa 83 orang, dimana lebih dari 5.000 infeksi dilaporkan, kita pasti berpikir bahwa pemimpin-pemimpin kita akan lebih berhati-hati dalam menentukan bagaimana mereka akan menanggapi kekhawatiran mengenai kesehatan masyarakat lagi.

Kementerian Kesehatan (MOH) telah membenarkan bahwa mereka sedang menyusun rencana untuk mengatasi virus itu – jika ada kasus virus Corona dikonfirmasikan di Samoa. Rencana kesiagaan ini kan diumumkan kepada media ketika sudah rampung.

Tetapi, mengetahui bahwa virus Corona telah dikonfirmasikan di negara-negara lain, menyebar dari manusia ke manusia, yang pernah terpapar oleh laki-laki atau perempuan yang terinfeksi dan terus bergerak, harusnya ini mendorong garis pertahanan pertama kita di perbatasan masuk ke Samoa untuk meningkatkan upayanya.

Satu pelajaran yang dapat diambil dari wabah campak yang mematikan adalah, bahwa tidak ada rencana respons wabah yang efektif dari Pemerintah Samoa dan Kementerian Kesehatan ketika 16 kasus campak pertama dilaporkan oleh badan kesehatan setempat pada awal Oktober 2019. Pada akhir bulan itu, sudah ada tiga kematian terkait wabah campak, dan jumlah pasien yang diduga terkena campak meningkat menjadi lebih dari 300 orang meskipun layanan pendidikan anak usia dini ditutup di seluruh negeri.

Pemerintah Samoa bisa saja mengumbarkan segala macam janji. Tetapi setelah menyaksikan bagaimana krisis campak ditangani, janji-janji verbal saja tidak berarti apa-apa dan waktu tidak akan berhenti berjalan, sampai upaya yang drastis diambil.

Kamis malam kemarin (23/1/2020), Pemerintah Samoa mengeluarkan suatu pernyataan, yang menjabarkan persyaratan wajib bagi penumpang yang datang ke Samoa untuk mengisi formulir pernyataan kesehatan, dan menjalani pemeriksaan oleh otoritas kesehatan di Bandara Internasional Faleolo.

Pernyataan itu, yang didukung oleh segenap Kabinet, termasuk pembatasan jadwal perjalanan anggota Pemerintah Samoa sendiri ke wilayah Asia, terutama Jepang, Thailand, Korea Selatan, serta Amerika Serikat, Australia, dan Eropa.

Nah, inilah yang kita sebut tanggapan yangproaktif and tegas dari pihak pemerintah, karena bangsa kita harus berupaya untuk menghindari satu lagi krisis kesehatan masyarakat yang dibawa oleh virus baru.

Kita berharap langkah-langkah yang diberlakukan oleh pemerintah ini akan memperkuat lini pertahanan pertama kita terhadap suatu virus yang tidak dapat disembuhkan, dan juga dipatuhi sebaik-baiknya oleh pemerintah kita sendiri dengan menghindari kunjungan ke negara-negara dalam daftar hitam dan memastikan pemeriksaan kesehatan di bandara dilakukan dengan cermat.

Dan kecemasan yang diungkapkan oleh Presiden Asosiasi Jurnalisme Samoa (JAWS), Rudy Bartley, juga harus dipertimbangkan oleh kepala-kepala Kementerian Pemerintah dan lembaga negara terkait.

Menjadi lebih proaktif berarti memastikan jaringan telepon tetap tersambung, menjawab pertanyaan-pertanyaan, dan bersedia bekerja di bawah pengawasan publik dalam melakukan peran sebagai pelaksana kebijakan, karena pada akhirnya peran kalian sebagai seorang pegawai pemerintah adalah untuk melayani bangsa ini. (Samoa Observer)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top