Follow our news chanel

Belasan tahun pesangon tak jelas, nasib eks karyawan Kodeco bisa saja dimanfaatkan pihak lain

Papua
Para mantan karyawan PT Kodeco Mamberamo Raya saat melakukan pertemuan beberapa waktu lalu - Jubi/Dok. Kuasa Hukum

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Ketidakjelasan nasib 957 mantan karyawan perusahaan industri kayu, PT Kodeco Mamberamo dikhawatirkan dimanfaatkan pihak ketiga.

Koordinator mantan karyawan, Constan Pondayar mengatakan sudah 15 tahun ia dan ratusan rekannya memperjuangkan hak mereka yang tidak dapat dipenuhi perusahaan.

Ratusan karyawan yang mengalami pemutusan hubungan kerja atau PHK pada tahun 2000, tidak mendapat pesangon.

Mereka kemudian mengajukan gugatan dan dikabulkan Panitia Perselisihan Perburuhan Pusat (P4P) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, 23 Desember 2004.

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menetapkan sita eksekusi aset perusahaan, sebagai pemenuhan hak pekerja yang di-PKH. Putusan sita eksekusi aset itu kemudian dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Tangerang.

Pada 11 April 2006, Pengadilan Negeri Tangerang menerbitkan penetapan eksekusi dan melimpahkan ke Pengadilan Negeri Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen melaksanakan prosesnya, karena aset perusahaan yang disita berada di sana.

Akan tetapi menurut Pondayar, sejak 2006 hingga kini Pengadilan Negeri Serui tak kunjung melakukan eksekusi aset. Ketua Pengadilan Negeri Serui yang menjabat pada tahun-tahun sebelumnya, tidak pernah merespons pelaksanaan eksekusi dengan berbagai alasan.

Loading...
;

Kini pada masa jabatan Ketua Pengadilan Negeri Serui yang baru dilantik awal November 2020 silam, menyatakan siap melakukan eksekusi kapanpun. Akan tetapi sesuai prosedur mesti ada pengamanan dari kepolisian.

Hanya saja kata Pondayar, pihak Polres Kepulauan Yapen menyatakan belum bisa memberi dukungan pengamanan pelaksanaan eksekusi karena beberapa alasan. Salah satunya pertimbangan masalah Kamtibmas.

“Kami khawatir kondisi ini akan membuat rekan-rekan kami mantan karyawan PT. Kodeco Mamberamo yang mayoritas putra asli Papua, semakin kehilangan kepercayaan terhadap pelaksanaan hukum dan fungsi Kepolisian di negara Indonesia,” kata Constans Pondayar melalui panggilan teleponnya, Jumat (20/11/2020).

Ia mengatakan, sikap kepolisian di Kabupaten Kepulauan Yapen itu merupakan pengingkaran dan pengabaian fungsi keamanan masyarakat yang merupakan tugas utama Polri.

“Kalau kepercayaan masyarakat sudah tak ada lagi, berpotensi terjadi ancaman terhadap stabilitas politik dan keamanan. Apalagi situasi di Papua sedang bergejolak di Papua belakang ini,” ucapnya.

Kuasa hukum ratusan mantan karyawan PT Kodeco Mamberamo, Rudi Sinaba mengatakan hal yang sama. Ia khawatir kondisi ini dimanfaatkan pihak ketiga.

“Yang dikhawatirkan ada yang menyusupi mereka dan bisa terjadi sesuatu. Apalagi mayoritas mantan karyawan itu berdomisili di sini,” kata Rudi.

Menurutnya, wilayah Kampung Dawai, Distrik Yapen Timur tempat aset perusahaan yang masuk daftar sita dan kini diambil alih perusahaan lain merupakan salah satu daerah yang masuk kategori rawan. Pada tahun 2000 silam, terjadi pengibaran bendera Bintang Kejora di sana.

“Tapi itu tidak diperhitungkan kepolisian. Kami sudah beberapa kali menyurati Kapolres agar itu diperhatikan. Jangan sampai merembet ke hal lain,” kata Rudi.

Katanya, selama bertahun-tahun pihaknya berupaya menenangkan ratusan mantan karyawan itu agar tidak bertindak secara sepihak.

Ia menilai, wajar jika ratusan mantan karyawan PT Kodeco Mamberamo itu marah dan kecewa, karena sudah 15 tahun memperjuangkan apa yang mestinya menjadi hak mereka, namun tak juga ada kejelasan.

“Mereka sakit hati melihat perusahaan lain menguasai dan memanfaatkan aset objek sita untuk berproduksi, mendapat keuntungan. Sementara mereka yang punya hak tidak mendapat haknya,” ucapnya.

Ia menambahkan, kekecewaan itu semakin memuncak ketika PT Sinar Wijaya Playwood Industries yang sejak 2007 mengambil alih aset PT Kodeco Mamberamo, termasuk yang ada dalam daftar aset sita mempekerjakan mayoritas warga dari luar Papua.

“Perusahaan sekarang ini memperkerjakan sekitar lima ribu hingga tujuh ribu orang. Sekitar 80 persen dari luar Papua. Apakah mereka yang ada di sini tidak sakit hati,” katanya. (*)

Editor: Edho Sinaga

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top