Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Belum semua kabupaten/kota mampu jalankan program 1000 hari pertama

Kepala Dinas Kesehatan Papua, Aloysius Giyai saat berbincang dengan kolega - Jubi/Ramah
Belum semua kabupaten/kota mampu jalankan program 1000 hari pertama 1 i Papua
Kepala Dinas Kesehatan Papua, Aloysius Giyai saat berbincang dengan kolega – Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Pelaksanaan program “1000 Hari Pertama Kehidupan” belum berjalan secara maksimal dan menyeluruh di 29 kabupaten/kota di Provinsi Papua. Hal itu dinyatakan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Aloysius Giyai di Kota Jayapura, Sabtu (9/3/2019).

Giyai menyatakan ada sejumlah kabupaten/kota di Papua yang belum mampu menyelenggarakan program “1000 Hari Pertama Kehidupan” secara utuh. “Beberapa kabupaten sudah menjalankan program itu secara menyeluruh, termasuk dengan mengadakan kelas ibu hamil di puskesma. Akan tetapi, ada juga daerah yang belum maksimal, terutama di daerah yang cakupan kinerja kesehatannya rendah,” kata Giyai.

Belum semua kabupaten/kota mampu jalankan program 1000 hari pertama 2 i Papua

Hasil evaluasi pelaksanaan program 1000 hari pertama kehidupan tiga tahun lalu menunjukkan Kabupaten Tolikara, Biak Numfor, Lanny Jaya, Mappi, Jayapura, dan Kota Jayapura sebagai kabupaten/kota yang paling berhasil menjalankan program 1000 hari pertama kehidupan.

“Pelaksanaan mereka bagus karena Dinas Kesehatan dan puskesmas setempat mampu berkomunikasi dan berkoordinasi. Komitmen untuk menjalankan program, serta transparansi keuangan juga menentukan. Kabupaten yang belum berhasil menjalankan program itu kebanyakan tidak maksimal berkoordinasi, dan komunikasi tidak jalan,” kata Giyai tanpa merinci nama kabupaten yang belum berhasil menjakan program.

Giyai menyatakan program 1000 hari pertama kehidupan yang telah dijalankan di Papua sejak lima tahun silam penting karena fase 1000 hari pertama itu merupakan periode emas perkembangan janin dan bayi. Dampak gangguan kualitas hidup yang dialami ibu hamil ataupun bayi dalam periode itu akan berjangka panjang, bahkan permanen.

“Dampaknya cenderung bersifat jangka panjang, bahkan bisa permanen. Dampak akibat gangguan pada fase 1000 hari pertama kehidupan itu sulit diperbaiki setelah anak berusia lebih dari dua tahun. Gangguan kualitas hidup dalam periode emas itu menghambat perkembangan otak bayi, menurunkan kemampuan kognitif. Bayi bisa tumbuh menjadi anak yang kemampuan belajar maupun daya tahan tubuhnya lemah. Keberhasilan program 1000 hari pertama kehidupan akan menentukan kualitas generasi Papua di masa mendatang,” kata Giyai.

Loading...
;

Untuk bisa menghasilkan generasi emas Papua, lanjut Giyai, ibu hamil harus diberi pengetahuan lewat kelas ibu hamil. Bayi di bawah usia dua tahun juga harus menjalani semua imunisasi sesuai umurnya, dan mendapatkan air susu ibu (ASI) sampai berumur dua tahun. Tahapan tumbuh kembang bayi juga harus dipantau secara rutin.

Kepala BKKBN Papua, Charles Brabar mengatakan, pengetahuan masyarakat untuk bisa mengatur jarak kehamilan juga menjadi kunci keberhasilan program 1000 hari pertama kehidupan. Brabar menyatakan kualitas hidup terbaik ibu dan bayi dalam fase 1000 hari pertama kehidupan hanya bisa dicapai jika jarak antar kehamilan lebih dari tiga tahun.

“Apabila fase 1000 hari pertama kehidupan tidak diperhatikan, bayi bisa kehilangan masa terbaik untuk mengembangkan kecerdasan. Tingkat kecerdasan kita hari ini adalah hasil dari kualitas hidup kita sampai berumur dua tahun. Saya harapkan dengan program ini bayi akan terlahir sehat, dan bukan lahir dalam keadaan kurang gizi,” jelasnya. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top