HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Bentrokan antar warga terjadi, pemerintah diminta percepat proses rekonsiliasi

Foto ilustrasi - pixabay.com
Foto ilustrasi – pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Kepala Ombudsman RI perwakilan Papua, Sabar Iwanggin meminta aparat keamanan bertindak netral dalam menangani pertikaian antar warga di Kota Jayapura, Papua. Hal itu disampaikan Iwanggin usai menjenguk sejumlah warga yang menjadi korban dalam bentrokan yang terjadi pada Minggu (1/9/2019) dini hari.

Iwanggin meminta semua aparat keamanan yang bertugas menjaga Kota Jayapura bisa mengayomi semua lapisan masyarakat dan berbagai kelompok masyarakat di Jayapura. Iwanggin juga meminta Wali Kota Jayapura, Gubernur Papua, dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah mempercepat upaya rekonsiliasi di antara berbagai kelompok warga di Kota Jayapura maupun di Papua. Percepatan upaya rekonsiliasi diperlukan karena risiko konflik horisontal di Jayapura semakin tinggi.

Iwanggin juga mengingatkan rekonsiliasi harus secepat mungkin dilakukan, karena aparat keamanan akan kelelahan jika harus menangani potensi konflik dalam jangka waktu yang lama. Aparat keamanan yang kelelahan karena terlalu lama bertugas bisa salah bertindak.

“Saya dengar dari sejumlah korban [pertikaian pada Minggu dinihari] ini, [mereka] meminta aparat harus adil dalam menindak. Negara harus benar benar memberikan rasa aman [kepada semua kelompok masyarakat] agar semuanya dapat berjalan dengan baik,” kata Sabar Iwanggin pada Minggu.

Sedikitnya dua orang warga Kota Jayapura tertembak saat aparat keamanan menangani pertikaian antar warga di Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, pada Minggu subuh (1/9/2019). Satu orang akhirnya meninggal dunia saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah atau RSUD Abepura. Sejumlah 13 warga lainnya terluka dan tengah dirawat di rumah sakit yang sama.

Michael  tertembak di dada kanan saat aparat keamanan menangani pertikaian antar warga pada Minggu subuh. Ia sempat menjalani perawatan RSUD Abepura sejak pukul 05.30 WP, akhirnya meninggal dunia. Keluarga Michael  meminta polisi bertanggungjawab atas penembakan itu. “Kami akan meminta pertanggungjawaban Kepolisian Daerah Papua. Mengapa anak ini bisa sampai ditembak peluru,” kata Niko, perwakilan keluarga saat ditemui Jubi di depan IGD RSUD Abepura.

Loading...
;
Baca juga  Sekda Papua: jangan terpancing hoaks

Niko menjelaskan, Michael adalah mahasiswa Uncen yang tinggal di Kotaraja. Karena merasa kurang aman, karena ada isu soal adanya penyisiran yang menyasar kelompok warga tertentu, Michael dan sepupunya menumpang menginap di rumah keluarga di dekat RSUD Abepura.

Pada Minggu subuh, sekelompok warga yang bersenjata tajam menyerang salah satu asrama mahasiswa di Abepura. Michael bersama sepupunya keluar ke jalan dan melihat penyerangan asrama itu dari jarak 50 meter. “Tiba-tiba Michael jatuh. Sepupunya lalu membawa Michael ke rumah sakit,” jelas Niko.

Jenazah Michael masih berada di ruang UGD RSUD Abepura. Keluarga berencana akan membawa jenazah menuju Markas Kepolisian Daerah Papua, untuk meminta pertanggungjawaban polisi. “Karena kematian ini, jenazah ini akan saya usung ke Polda. Mereka harus bertanggung jawab dengan kematian ini,” kata Niko.

Ia mempertanyakan kedatangan ribuan polisi, Brimob, dan TNI ke Kota Jayapura. “Untuk apa mereka datang, kalau kami jadi masyarakat ini merasa tidak tenang sekali. Saya minta Presiden perintahkan aparat yang ribuan ini pulang. Mereka ini datang amankan siapa?” katanya

Seorang korban penembakan lainnya, Sisilia (19 tahun), dirujuk ke RSUD Jayapura karena membutuhkan perawatan lebih lanjut. Sisilia tertembak di paha kanan.

Sisilia adalah mahasiswi yang tinggal di salah satu asrama putri di Abepura. Mendengar isu ada kelompok warga yang melakukan penyisiran, ia dan beberapa teman lainnya berpindah menginap ke asrama yang lain. Akan tetapi, sekitar pukul 02.00 WP sekelompok orang datang memukul tiang listrik di dekat asrama tempat Sisilia menginap secara berulang ulang. Sekitar pukul 04.30 terjadi saling lempar batu oleh kelompok warga yang bertikai. Aparat keamanan pun datang dan berjaga.

Baca juga  Sejumlah pelanggaran Pemilu ditemukan di Kota Jayapura

“Sebanyak 28 orang yang ada dalam asrama. Teman teman bertahan di luar asrama dengan batu. Saat itu ada yang melepas petasan,  asap tebal lalu bunyi tembakan berulang ulang. Sisilia tertembak saat berusaha menyelamatkan diri di pagi hari,” kata salah satu penghuni asrama, Alius, saat ditemui di asrama itu.

Saat ini sedikitnya 13 warga korban bentrokan Minggu dinihari masih dirawat di RSUD Abepura. Terdapat 15 warga lain yang terluka ringan dalam bentrokan Minggu dinihari, namun mereka memilih tidak berobat ke rumah sakit.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa