TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Beragam menu lokal ditawarkan Mama Papua di sekitar Stadion Lukas Enembe

PON XX Papua
Mama-mama Papua berjualan berbagai masakan bahan pangan lokal di sekitar Stadion Lukas Enembe, Kabupaten Jayapura. - Jubi/Yance Wenda

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Tidak mendapatkan tempat untuk berjualan di dalam kawasan venue Pekan Olahraga Nasional atau PON XX Papua bukan alasan bagi sejumlah Mama-mama Papua untuk membiarkan peluang menjamu tamu PON berlalu. Mereka memanfaatkan pekarangan rumah di sekitar Stadion Lukas Enembe untuk berjualan berbagai menu hidangan berbahan pangan lokal.

Para Mama itu mendirikan sendiri pondok yang mereka gunakan untuk berjualan. “Kami Mama-mama dari Lembah Grime siap sukseskan PON XX Papua dengan menu lokal seperti papeda panas, sagu bakar, keladi bakar, gedi gulung, juga nasi dengan menu berbeda-beda,” kata Hulda Nari, salah satu Mama-mama Papua itu saat ditemui Jubi pada Jumat (1/10/2021).

Nari menuturkan ia menjual paket menu berupa papeda atau nasi dengan beragam lauk. Ia menawarkan beragam masakan berbahan ikan laut dan ikan tawar. “Papeda bungkus itu sudah paket, papeda ikan laut [atau ikan] danau, dalam kotak dengan harga Rp25.000 sampai Rp. 50.000 per kotak. Untuk nasi, satu porsi Rp15.000, lauknya ada ikan, ayam, dan telur,” jelasnya.

Baca juga: Pelaku UMKM keluhkan sepi pembeli di venue PON Papua

Nari juga menjual umbi-umbian serta sayur-sayuran yang ia ambil dari kebunnya sendiri. “Kami tidak datangkan dari pasar, tapi hasil kebun sendiri, yang memang sudah kami siapkan  untuk PON,” ujarnya.

Nari menuturkan ia dan kelompoknya yang terdiri dari para Mama-mama Papua dari Grime, Kabupaten Jayapura, sudah berusaha mendapatkan tempat untuk berjualan di dalam kawasan venue PON XX Papua. Mereka telah menyampaikan permohonan untuk bisa berjualan di kawasan venue PON XX Papua kepada Pemerintah Kabupaten Jayapura, namun belum pernah mendapat tanggapan.

“Kami sudah pernah kasih suara ke dinas terkait, soal tempat [berjualan dalam kawasan venue PON]. Akan tetapi, belum ada tanggapan. Akhirnya ketua kelompok kami berikan tempat untuk berjualan. Walau kami tidak [berjualan] di depan sana, tapi kami tahu pasti ada peminat yang akan datang ke sini. Kami tidak ragu. Walau tidak dapat tempat di depan, dimana tempat yang Tuhan kasih, kami akan ada di situ,” tuturnya.

Meski begitu, Nari mengaku masih kecewa karena ia dan kelompoknya tidak diberi kesempatan untuk berjualan makanan di dalam kawasan venue PON. Nari mengingatkan saat Papua menjadi tuan rumah PON, seharusnya orang Papua merasakan manfaat penyelenggaraan PON.

Baca juga: Perajin pahatan lokal apresiasi penyediaan lapak UMKM di kawasan Venue PON XX Papua

“Kami sebagai tuan rumah, [tapi] kami tidak dapat tempat [berjualan], itu kami kecewa. Kami seperti tidak dipedulikan, padahal kami sangat peduli dengan PON. [Kami akan] melayani tamu yang akan ada di sini, supaya mereka tidak pulang dengan kecewa, dan mereka pulang dengan membawa satu cerita yang luar biasa,” jelas Nari.

Mama Papua lain yang turut berjualan di rumah warga sekitar Stadion Lukas Enembe, Rut Demotekay juga tidak mendapatkan tempat untuk berjualan pangan lokal di dalam kawasan venue PON XX Papua. “Tidak berjualan di depan, bagi kami tidak jadi masalah. Yang penting, ada halaman rumah, kami beli kayu sendiri, bikin pondok sendiri,” jelasnya.

Demotekay menuturkan ia akan menjajankan makanan khas Papua yang akan diolah dan dikemas secara menarik. “Saya akan berjualan papeda kua, papeda bungkus, keladi PNG, sayur lilin, dan gedi gulung tentunya,” ujarnya.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending


Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us