Follow our news chanel

Previous
Next

Berakar dalam budaya, bertumbuh dalam keluarga

Ilustrasi mama-mama Papua berjualan. -Jubi/Titus
Berakar dalam budaya, bertumbuh dalam keluarga 1 i Papua
Ilustrasi mama-mama Papua berjualan. -Jubi/Titus

Oleh: Yosep Riki Yatipai

Tema “Selamatkan Ekonomi Orang Asli Papua dari Dusun ke Kota” dapat melahirkan sekurang-kurangnya dua pertanyaan berikut: apakah perlu menyelamatkan ekonomi orang asli Papua (OAP) dari dusun ke kota? Jika perlu, apa yang sebaiknya menjadi latar belakang aksi dan aksi menyelamatkan ekonomi OAP dari dusun ke kota?

Dalam tulisan ini, saya mencoba menjawab dua pertanyaan di atas. Namun, konsentrasi saya lebih pada pertanyaan kedua mengenai rumpun persoalan yang sejatinya menjadi isi dari kondisi ekonomi di Papua, sebab pertanyaan ini lebih mendesak dan penting.

Pandangan tentang Papua tidak terlepas dari kaitannya dengan yang lain, sebab Papua tidak bisa memutuskan keterikatannya dengan semua yang lain di luarnya.  

Papua adalah konteks dan Papua tentu mempunyai konteks. Dalam arti relasi yang mempengaruhi dan dipengaruhinya. Justru OAP ada dan hadir sebagai sejarahnya maupun realitas aktualnya.  

Sebagaimana relasi dengan yang lain di luar Papua, baik relasi sosial, dan budaya,maupun ekonomi dan lainnya telah menjadi satu kekhasan tersendiri bagi OAP yang komunikatif dan koordinatif.  

Potensi ini rupanya membawa pengalaman lintas batas internasional bagi OAP, yang sekurang-kurangnya hampir ada dan berada di pelosok dunia. Kualitas ini semestinya ditingkatkan demi lintas sektoral, sehingga upaya menyelamatkan perekonomian dapat disiasati secara sistematis, metodis, dan koheren.

Loading...
;

Signifikansi menyelamatkan ekonomi OAP di Papua

Sebelum menanggapi pertanyaan kedua di atas, sangat penting menjawab pertanyaan pertama. Kita tidak hanya berekonomi sekadar untuk memenuhi syarat formal.

Berekonomi mesti mempunyai signifikansi bagi kehidupan ekonomi OAP di Papua. Dalam arti, kegiatan perekonomian berjalan seirama dengan etika-estetika masyarakat.

Ketika ekonomi menjadi upaya hati nurani, maka kesan sejahtera, adil, dan makmur tidak dapat dielakkan lagi.

Berekonomi bukan hanya urusan orang-orang yang sudah kenyang perut atau orang yang sudah mengalami tingkat kesejahteraan yang relatif baik, tetapi menjadi urusan semua orang, yang masih harus berjuang menyejahterakan dirinya.

Ketika makan adalah persoalan keadilan distribusi, maka ekonomi, ekonomi politik,menjalankan perannya yang urgen untuk mempertanyakan sistem yang memproduksi ketidakadilan dan kelaparan.

Pada saat makan adalah persoalan ada atau tidak adanya kepekaan sosial, maka ekonomi, teristimewa etika ekonomi, perlu menggaungkan bentuk solidaritas sebagai kategori imperatif bagi orang yang hidup.

Ekonomi selalu menyebut dirinya sebagai peraturan rumah tangga/keluarga. Sebagaimana istilah “ekonomi” yang berasal dari bahasa Yunani “oikos”, yang berarti keluarga/rumah tangga dan “nomos”, yang berarti peraturan/hokum, sehingga secara harafiah adalah ilmu yang mengatur aturan rumah tangga dan/atau keluarga.

Dalam konteks masyarakat Papua, dengan kecenderungan politik identitas yang semakin kuat, hendaknya dibongkar dari dalam. Dengan tujuan, hasrat berekonomi dapat dibebaskan dari motif sektarianisme agama, suku, dan lain sebagainya, sebab kita didorong untuk mempertanggungjawabkan kesejahteraan masyarakat yang plural.

Dalam konteks ini, kita dapat mencapai jalur perekonomian yang sehat melalui konsep dan pada forum bersama, yang hanya dapat dilakukan apabila orang bersedia menerima dan membiasakan diri dengan cara berpikir yang umum.

Sebagaimana dikatakan Jurgen Habermas, filsuf dan sosiolog Jerman kelahiran 18 Juni 1929), “komunikasi lintas sektor seperti ini hanya dapat terjadi apabila orang memenuhi syarat kelugasan jalan pikiran, kebenaran berargumentasi, penggunaan bahasa tepat, dan kerangka nilai yang dapat diterima secara umum”.

Dengan ini, arogansi, rasa rendah diri dan kepicikan sektoral dapat diatasi untuk dapat mewacanakan persoalan ekonomi bersama secara benar. Dengan hormat, dapat dikatakan, bahwa persoalan ekonomi OAP dari dusun ke kota tidak hanya upaya penerangan jalan umum (PJU), tetapi juga penerangan jalan pikiran (PJP).

Jika demikian, tindakan menyelamatkan ekonomi OAP tidak lepas dari dimensi eskatologis (ilmu keselamatan) yang menjadi harapan penyelesaian.

Keselamatan ini biasanya diterjemahkan dan dirumuskan dengan mimpi akan masa depan yang belum menjadi kenyataan, sehingga metode adalah jalan menuju keselamatan yang dipikirkan dan dicita-citakan.

Metode pun mesti bertumpu pada harapan yang menjadi dasar. Dengan demikian, tujuan menyelamatkan ekonomi OAP dapat dimungkinkan tiba pada kenyataan.

Perspektif menyelamatkan ekonomi OAP dari dusun ke kota

Pandangan dalam tataran komunitas (communio) lebih kuat dan mudah dibangun dengan orang-orang yang hidup pada waktu yang sama, dari pada mereka yang lahir kemudian.

Solidaritas antargenerasi gampang sekali diabaikan. Orang hidup dengan asumsi: demi kita sekarang, demi kesejahteraan kita sekarang dan kesuksesan para penguasa sekarang, kita bisa mengeksploitasi alam secara besar-besaran.

Menentang pandangan ini perlu disadari bahwa pengelolaan bumi harus memperhatikan dampak jangka panjang (waktu) dan meluas (tempat).

Kesadaran akan penciptaan sebagai sebuah proses juga memiliki dua arti penting bagi OAP maupun non-Papua, yakni merawat bumi dan isinya.

Pertama, upaya memulihkan keutuhan ciptaan. Menjalar cepatnya efek dari krisis lingkungan dan kerusakan tak terpulihkan ditimbulkan olehnya, sehingga menimbulkan resiko dan ancaman bagi ekosistem; dan kedua, memahami penciptaan sebagai sebuah proses berarti memberi ruang bagi kesadaran.

Kesadaran dibutuhkan dalam upaya advokasi itu sendiri dari krisis lingkungan yang dapat mengancam dimensi lain. Kerusakan lingkungan tentu bisa membangkitkan amarah. Kesadaran akan kuatnya jaringan raksasa di balik kerusakan lingkungan dapat menumbuhkan rasa tak berdaya.

Perubahan yang tak kasat mata bisa membias pada rasa putus asa. Kemarahan dan rasa tak berdaya yang menumpuk membuat advokasi lingkungan hidup riskan terhadap cara kekerasan. Tanpa kesabaran itu, advokasi lingkungan hidup dapat tergelincir ke jalan ini.

Pandangan menyelamatkan ekonomi OAP dari dusun ke kota merupakan upaya aksesibilitas udara, laut, dan darat. Dampak lingkungan hidup dari proses aksesibilitas memberikan pilihan yang ragu.

Namun upaya penyelarasan hidup di tengah perubahan zaman sungguh menuntut dan dituntut. Menyangkal kata “menyelamatkan”, jika sebuah perspektif pembangunan yang didahului dari dusun yang terisolir dan statis hingga ke kota yang metropolis dan dinamis. Maka, proses melangkahi dan menyambungkan sistem ekonomi tradisional kepada ekonomi modern tidak dapat disangkal.

Upaya ini sekurangnya memiliki konsekuensi logis bagi khalayak umum. Sebagaimana pandangan hidup OAP dengan memandang tanah serta alamnya sebagai mama, rahim yang mengandung, melahirkan, dan membesarkan manusia Papua.

Konsekuensi logis mesti diantisipasi dengan argumentasi dan bukti yang sedemikian rupa dapat dipahami dan diterima dengan baik, entah kelulusannya maupun kelayakannya.

Orang asli Papua memiliki sistem ekonomi tradisional, yang diikuti menurut adat istiadat, tradisi, maupun kebiasaan setempat. Penghormatan terhadap aspek spiritual masih begitu kental dan semestinya demikian dijaga.

Selain itu, kehidupan OAP sangat sederhana, sikap kekeluargaannya kuat, dan juga kebutuhan hidup yang diproduksi dengan seadanya untuk kepentingan diri dan keluarga.Kendati demikian, mereka hidup aman dan damai bersama alamnya.Bagi mereka, alam telah menyediakan apa yang mereka butuhkan.

Sekalipun demikian, masyarakat Papua yang hidup di dusun belum menyadari dan justru tidak dapat mengelak dari arus teknologi. Dengan kata lain, OAP hari ini sedang menghadapi dan menjalani arus deras teknologi yang meroket dan tidak dapat terkendali lagi, sebab keberadaan teknologi yang belum disadari, namun secara konkret sedang dialami dan dilalui masyarakat Papua, terutama masyarakat di dusun yang tertutup dari jangkauan informasi media cetak maupun online.

Peran teknologi menyasar dan mendominasi OAP cenderung konsumtif (easy going) daripada produktif. Menjadi suatu kepastian,bahwa sumber daya manusia (SDM) menjadi penting dan mendesak. Sebagaimana kekayaan sumber daya alam (SDA) yang tidak sebanding dengan SDM.

Jika SDM orang asli Papua cukup, maka mentalitas teknosentris dapat diredusir dan diubah dengan mentalitas produktif.

Kemudian dari itu, ada kalanya membaca sistem ekonomi yang sering digunakan oleh masyarakat Papua, yang memiliki kecondongan pada sistem ekonomi pasar (penawaran dan permintaan).Sistem ekonomi seperti ini biasa dikenal juga dengan ekonomi liberal/bebas tanpa kekangan penguasa.Sistem ekonomi dilakukan dengan kemampuan yang seadanya, yakni alat dan modal sendiri.

Sistem yang juga dipakai di beberapa negara eropa, yang di antaranya Amerika Serikat (United State Of America). Sistem ekonomi yang juga diterapkan di Papua.

Namun, ekonomi OAP tidak secanggih dan semaju seperti di Eropa tersebut tentunya. Sistem ekonomi pasar di Papua masih terbatas pada kalangan sendiri (lokal) dan masih cenderung bersifat statis.

Sistem ekonomi pasar ini dapat dimungkinkan dengan kemungkinan dan sistem ekonomi pasar untuk bisa bersaing ke ranah nasional dan internasional. Sebab, alasan yang mendasarinya ialah hasrat berjuang dan niat untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Potensi ini hendaknya dikemas dan diramu sebaik mungkin dengan memberdayakan OAP terlebih dahulu. Ekonomi OAP yang berhadapan dengan ekonomi di tempat lain, tentu berbeda dan menantang dari berbagai segi, entah sosial budaya, adat istiadat, dan paradigma kesukuannya.

Persoalan ekonomi mesti dikaji dan dilihat secara menyeluruh dan mendalam. Kompleksitas persoalan ekonomi yang sudah, sedang, dan akan dihadapi oleh OAP pun beraneka ragam dan rumit diuraikan, sehingga model ekonomi hendaknya dimulai dan dibangun berdasarkan pola strategis, dengan memperhatikan runutan keuntungan, kerugian, tantangan, dan peluang.

Dengan ini, sarana prasarana yang dialokasikan dan didanai dapat menyentuh realitas dan pada dasarnya hati Orang Asli Papua.

Tindakan menyelamatkan ekonomi OAP dari dusun ke kota

Orang asli Papua memiliki modal (alam), namun belum memiliki akses dan alat (fasilitas) yang memadai untuk melakukan proses produksi dan distribusi dari dusun ke kota.

Dalam hal ini, OAP membutuhkan tenaga kerja dan letak koordinasi dari dusun ke kota, misalnya pasar sebagai tempat penjualan dan pembelian maupun penawaran dan permintaan.

Selain itu, pasar merupakan pusat distribusi dari produk-produk lokal. Pemerintah provinsi dan daerah selain membuka akses PJU (Penerangan Jalan Umum) yang menjadi jalan transportasi, semestinya juga membuka lapangan kerja bagi OAP.

Dengan tidak menyulitkan OAP dalam proses yang sifatnya hanya prosedural, tetapi lebih mengutamakan dan mengedepankan terapan bakat para pekerja, apabila perlu maka diadakan pelatihan-pelatihan oleh penyuluhan agraris dari Dewan Adat Papua maupun instansi terkait dalam birokrasi.

Dari sini, pemerintah dapat mendayagunakan tenaga kerja seoptimal mungkin. Kesempatan ini menjadi peluang bagi mereka untuk membuktikan eksistensinya sebagai OAP yang merdeka di negerinya sendiri.

Jika pinang, sagu, ubi, keladi, noken anyaman, perhiasan adat dan kearifan lokal yang lain dapat menjadi komoditas lokal, maka kekayaan itu diolah sedemikian kreatif sehingga berguna sebagai bentuk melestarikan budaya maupun peningkatan pendapatan perkapita OAP, karena konteks dusun justru memperlihatkan sesuatu kepada kita, yaitu panorama alam dan budaya itu sendiri.

Pemerintah bersama perangkatnya, semesti melakukan kajian dan Road Map Of Economic Development (Peta Pengembangan Ekonomi Papua).

Selain itu, dengan peta pengembangan ekonomi Papua yang ada, hendaknya menjadi jalan pikiran bagi proses pendayagunaan ekonomi dusun yang dapat didistribusikan ke kota sebagai komoditas OAP.

Pengembangan tidak terlepas dari kerekanan dan kerja sama semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.

Peta ekonomi yang dibangun perlu diuraikan dan diproteksi setepat mungkin, sehingga tidak menjadi sumbangan beban moril bagi otoritas penguasa, sebab konsumen sejati adalah publik yang siap menggiling apa saja yang dilihat, direkam dan dialami. Maka, segala daya upaya mesti berakar dari budaya dan bertumbuh dalam keluarga.

Dengan kata lain, model ekonomi lahir dari budaya dan bertumbuh bersama pemerintah di dalam masyarakat.

Beberapa hal urgen dan signifikan ialah alat (fasilitas), modal (alam), maupun subsidiaritas (hak OAP tidak boleh diganggu atau diintervensi oleh penguasa berwenang, yang terlepas dari kewajiban berbangsa dan bernegara).

Kemudian konsentrasi masyarakat terhadap konteks sosial budaya, terutama mengenai kerugian, keuntungan, tantangan, dan peluang sebagai hal esensi bagi OAP.

Hematnya, efisiensi dan keefektifan proses dagang dari dusun ke kota ialah jalan yang dibangun berdasarkan kelugasan pikiran, sehingga ada kesan, saling memahami (mutual understanding), saling memaafkan (mutual forgiving),saling terbuka (mutual opening), dan bentuk koordinasi yang solid.

Dengan demikian, kita tidak hanya bermimpi, melainkan kita sedang menyelamatkan ekonomi OAP dari dusun hingga menuju ke kota untuk bertahan dan berdaya bersaing. (*)

Penulis adalah mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura, Papua

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top