Follow our news chanel

Berburu internet di Wamena

Salah satu kafe di Wamena yang menyediakan jaringan nirkabel. -Jubi/Islami
Berburu internet di Wamena 1 i Papua

Salah satu kafe di Wamena yang menyediakan jaringan nirkabel. -Jubi/Islami

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Seiring perkembangan zaman, kebutuhan masyarakat akan jaringan internet di era digital ini semakin tinggi. Selain dimanfaatkan untuk pekerjaan, bisnis, bermedia sosial, pun sekadar untuk bermain game online.

Namun, kondisi jaringan internet di Kabupaten Jayawijaya, khususnya di Wamena, dari tahun ke tahun masih memprihatinkan. Apalagi bagi masyarakat yang mengandalkan jaringan data dari provider Telkomsel.

Di Wamena banyak dijumpai jaringan nirkabel seperti Ubiqusinyalku, hampir di setiap kafe, hotel, atau perkantoran. CV Pranata, sebagai salah satu penyedia jaringan nirkabel di Wamena, selama ini juga menggunakan Ubiqusinyalku dan Very Small Aperture Terminal (VSAT) lainnya berupa antena berbentuk parabola kecil yang menggunakan satelit, untuk memenuhi kebutuhan internet warga maupun perkantoran.

CV Pranata juga menerima jasa pembelian sekaligus pemasangan jaringan nirkabel. Bahkan sejak Desember 2019 sampai Januari 2020, sudah empat unit Ubiqusinyalku yang terjual atau terpasang.

“Harga Rp 18,5 juta dengan kuota 24 GB yang rata-rata diambil warga untuk dipasangkan, ini yang gunakan sistem beli perangkat. Kebanyakan pasang di sekolah dan rumah warga,” kata pemilik Pranata, H. Karyono, Kamis (30/1/2020) di Wamena.

Meski begitu kata Karyono, ada juga pelanggan yang mengeluh dengan kondisi jaringan yang disediakan. Namun hal itu tetap menjadi satu-satunya harapan warga, dibandingkan hanya menggunakan data selular yang disediakan provider Telkomsel.

Loading...
;

Pemilik Kafe Honai Wamena, Tamsir Abdullah, mengatakan setiap hari dirinya mencetak 30-40 voucher WiFi Ubiqusinyalku bagi setiap pelanggan yang berkunjung.

“Sejak pasang awal hingga kini transaksi penjualan sudah seribu lebih. Pengguna pada umumnya sangat membutuhkan jaringan internet, meski terkadang banyak juga yang mengeluh lambatnya jaringan,” kata Tamsir.

Menurutnya hal itu terjadi karena setiap warga yang datang pasti memesan voucher WiFi, sedangkan kapasitas yang tersedia terbatas, sehingga terkadang ia sering meminta ke pihak penyedia layanan internet untuk menaikkan kapasitasnya.

“Soal keuntungan, ya, lumayan, karena sesuai ketentuan 20 persen dari harga yang ditetapkan dari perusahaan. Namun hal itu juga disesuaikan dengan lokasi di mana kafenya, jika tempatnya sewa pasti akan menaikkan harga per voucher,” katanya.

Dirinya juga berharap ada provider selain Telkomsel yang masuk ke Jayawijaya, agar dapat bersaing secara sehat dengan harapan jaringan data selular menjadi lebih baik.

“Saya berharap provider apa pun yang ada di Wamena bisa masuk, sehingga masyarakat di sini bisa rasakan jaringan yang bagus sama seperti jaringan di daerah lain,” katanya.

Sementara itu, Domi, salah satu warga yang ditemui saat mengakses WiFi di Kafe Honai, juga mengeluh dengan jaringan data dari Telkomsel. Pria yang bekerja di lembaga survei itu mengaku, dua kali dalam seminggu ia mencari jaringan WiFi untuk mengirimkan laporan atau data ke perusahaannya dan harus mengeluarkan biaya tambahan.

“Sudah 10 tahun di Wamena, semenjak di sini keluhan warga cuma masalah jaringan data dari Telkomsel. Ketika isi pulsa data untuk sebulan, pakai satu bulan rugi, karena tidak terpakai habis. Kadang dalam sebulan saya beli 12 GB hanya terpakai 5-6 GB, sisanya hangus,” keluhnya.

Silverster Korwa, sebagai salah satu distributor Ubiqusinyalku yang juga pengelola Kafe Mukoko Wamena mengaku, sejak 2018 jaringan Ubiqusinyalku yang disediakan di kafenya cukup bagus dari segi kecepatan.

Namun kini, dengan semakin banyaknya pengguna Ubiqusinyalku, hal itu mempengaruhi kecepatan jaringan. Belum lagi jika dipengaruhi cuaca, dimana ketika hujan terkadang koneksi akan menurun karena hanya menggunakan jaringan satelit.

“Memang sampai sekarang Ubiqu masih banyak dicari orang,” kata pria yang akrab disapa Paul Korwa ini.

Ia menjelaskan, ada dua jenis jaringan nirkabel yang disediakan yaitu Ubiqusinyalku dengan sistem membeli seluruh perangkat server, dan Ubiqu dengan sistem menyewa yang setiap bulannya hanya disediakan 5 GB.

“Kalau Ubiqu itu sistem sewa, misalnya tiap bulannya bayar Rp 2 juta hanya dengan kapasitas 5 GB, sedangkan Ubiqusinyalku dengan membeli perangkat sistemnya top-up sesuai kebutuhan. Misalnya deposit 500 ribu rupiah tinggal butuh 500 MB bisa dicetak sesuai kebutuhan,” kata Korwa.

Meski begitu, ia mengaku saat ini penjualan voucher dan pendapatan kafenya menurun pascarusuh Wamena 23 September 2019 lalu. “Keuntungan tidak besar karena kita ambil sekitar Rp 3.000-5.000 per voucher. Rata-rata cetak yang 500 MB, 250 MB, untuk yang 1 GB, 2 GB itu tergantung dari pesanan, dengan masa aktif berbeda mulai dari 14 hari untuk yang 500 MB hingga satu bulan untuk yang 1 GB,” katanya.

Upaya
pemerintah

Kesulitan jaringan internet juga dirasakan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, jika hanya mengandalkan data selular dari Telkomsel. Karena itu, perkantoran pemerintahan pun banyak yang menggunakan jaringan nirkabel.

Selain menunggu program Palapa Ring Timur rampung, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya juga meminta penambahan kapasitas untuk program tersebut, agar masyarakat khususnya di Wamena bisa semakin cepat mengakses jaringan internet.

“Saya sudah perintahkan Dinas Infokom berkoordinasi ke Palapa Ring untuk bisa secepatnya, karena pemerintah juga butuh jaringan online untuk melakukan semua kegiatan,” kata Bupati Jayawijaya, Jhon R. Banua.

Ia menyebut, jika program Palapa Ring Timur ini benar-benar rampung, maka pemerintah daerah akan sangat terbuka bila ada provider lain yang ingin berinvestasi di Wamena.

“Sehingga tidak tergantung dengan satu provider saja, apabila ada masalah dari Telkomsel maka ada pilihan lain. Kita butuh pelayanan, siapa yang melayani dengan baik kami akan terbuka,” kata Banua.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jayawijaya, Isak Sawaki, mengatakan dalam membantu kebutuhan masyarakat atas jaringan internet, Kementerian Kominfo telah membantu pemerintah daerah dengan menyediakan program Internet WiFi Nusantara.

Pada 2020 saja, kata dia, sesuai daftar yang diajukan ke Kementerian Kominfo sudah sebanyak 138 unit yang akan ditempatkan di beberapa titik di Jayawijaya, di antaranya di kantor kampung, puskesmas, sekolah, dan juga kantor distrik.

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah bisa direalisasikan. Supaya masyarakat yang berada di kampung-kampung tidak perlu datang lagi ke kota untuk kebutuhan internet. Mereka bisa langsung menggunakan yang di kampung, karena di sana sudah tersedia,” kata Isak Sawaki. (*)

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top