Follow our news chanel

Halaman Kerjasama
Kampanye 3M
(Memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan)

Jubi Papua

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

Author :

papua, covid 19, eks pasar lama sentani
Para pedagang di pasar yang sedang berjualan. Jubi / Engel Wally

Berdagang di zona merah, ekonomi keluarga nomor satu

Papua No.1 News Portal

Sentani, Jubi – Puluhan kios, belasan toko, puluhan warung, dan ratusan pedagang tetap beraktivitas di eks pasar lama Sentani yang ditetapkan Pemerintah Daerah sebagai zona merah di masa pandemi Covid-19.

Sejak ditetapkan pembatasan waktu beraktivitas dari pagi hingga sore ( 06.00-17.00 WIT) pada masa new normal saat ini, aktivitas jual beli tetap berjalan normal, tetapi dari sisi pendapatan berkurang, tidak seperti masa sebelum Covid 19 menyerang.

Sebagian besar pedagang di eks pasar yang beberapa kali mengalami perubahan karena terbakar, mengaku tetap melaksanakan aktivitas berjualan demi melanjutkan roda ekonomi keluarga masing-masing.

” Kalau tidak berjualan, kebutuhan keluarga tidak terpenuhi,” ujar Elisabeth salah satu pedagang sayur mayur dan sagu di eks pasar Sentani. Rabu (21/10/2020).

Di masa pandemi Covid-19, Lisbeth sapaan akrabnya ini menjual berbagai jenis sayur yang juga dibeli dari pedagang lain yang membawa sayur mereka ke pasar itu.

Sayur kangkung, bayam, sawi, daun petatas, daun pepaya dan sagu, menjadi bahan yang setiap hari digunakan untuk memutar dan mencari keuntungan bagi keluarganya.

” Waktu awal pandemi ada bantuan Sembako, tetapi sekarang sudah tidak ada. Jadi harus berjualan kembali di pasar,” ucapnya.

Loading...
;

Terkait zona merah yang ditetapkan, ibu tiga orang anak ini mengaku nyaman dengan protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Meskipun setiap hari harus menggunakan masker dan jaga jarak dengan para pembeli.

” Sudah aturan yang harus diikuti oleh kita sebagai masyarakat tetapi juga saat berdagang,” jelasnya.

Hasil penjualan lebih banyak digunakan untuk kebutuhan keluarga, seperti sandang dan pangan. Termasuk kebutuhan sekolah anak-anak yang belajar dari rumah secara daring.

Memang pendapatan saat Covid 19 melanda agak menurun. Dari hasil jualan berbagai jenis sayuran dan sagu, setiap hari bisa mencapai 500-750 ribu, sekarang untuk mencapai 500 ribu agak susah.

” Tiga anak dan semua sudah duduk di bangku SMP, ketiganya memiliki android masing-masing agar dapat mengerjakan tugas sekolah dengan baik,” ujarnya.

Pedagang di eks pasar lama Sentani memang dipenuhi oleh para pedagang non orang asli Papua yang memiliki kios dan toko serta warung makan. Dengan pedagang lokal asli Papua, mereka terlihat akrab dan saling tegur sapa.

” Kita saling mengingatkan satu dengan lain soal protokol kesehatan, karena wilayah pasar ini berada di zona merah. Setiap hari pasti ada pasien positif dari lingkungan pasar ini maupun kompleks perumahan yang tidak jauh juga dari sini,” pungkas Ali salah satu pedagang kios. (*)

Editor: Syam Terrajana

Scroll to Top