Berdaulat pangan harus didahului budi daya benih lokal

benih lokal
Maria Loretha bersama mama- mama petani Sorgum dari Flores Timur -Dok. Maria Loretha.

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Maria Loretha, perempuan yang pernah mendapatkan penghargaan KEHATI Award ketegori Prakarsa Lestari Kehati pada 2012 mengatakan untuk berdaulat pangan harus terlebih dahulu membudidayakan benih-benih lokal.

Hal itu disampaikan Maria Loretha pada webinar “Ketahanan Pangan Lokal dalam Mengatasi Krisis Sosial-Ekologi” yang diadakan The Samdhana Institute, Senin (24/11/2020).

“Omong kosong mau bicara daulat pangan kalau belum daulat benih, kita mau makan bagaimana kalau tidak ada benih, mau impor, lucu kan kita impor sementara kita punya benih-benih lokal,” ujar perempuan Dayak yang tinggal di Flores, Nusa Tenggara Timur tersebut.

BACA JUGA: Kisah Empat Penyelamat Pangan Lokal, Chato dari Papua

Maria mengatakan Flores memiliki benih-benih lokal yang sangat adaptif, seperti sorgum, jelai, beras hitam, dan jawawut. Artinya, benih-benih tersebut sangat tahan dengan cuaca kering.

“Saya punya mimpi besar pada 2025 NTT berdaulat Sorgum, kami lakukan step by step,. tahun ini Kabupaten Flores Timur memperluas pengembangan Sorgum 1.000 hektare,” kata Maria.

Loading...
;

Selain itu Flores memilik lahan 80 persen tanah berbatu dengan kondisi curah hujan yang rendah. Bahkan di beberapa daerah tertentu setiap tahun hanya tiga minggu hujan lebat.

“Tapi di sinilah muncul kekuatan benih lokal yang masih disimpan, dirawat, dilestarikan, dan ditanam oleh petani yang mencintai benih lokalnya,” ujar perempuan yang semenjak 2007 mengumpulkan benih lokal Flores tersebut.

Bahkan saat ini ia kewalahan memenuhi permintaan pangan lokal dari pasar luar, karena di pasaran tingkat lokal sudah habis. Tapi sudah ada pelanggan dari luar, yakni Sorghumfood Jombang dan Unis Gluten Free Bogor.

“Tapi secara kuantitas sedikit saja paling tinggi 10 ton dan sementara tidak promo online karena kebutuhan konsumsi rumah tangga dan pasar lokal,” katanya.

Sebagai ketahanan pangan dan bertahan di masa pandemi, kata Maria, masyarakat adat memanen terlebih dahulu calon benih sebelum panen besar. Benih-benih tersebut disimpan di lumbung masing-masing setelah melalui penjemuran dan penyortiran.

“Sementara lumbung komunitas wajib menyetor sesuai kesepakatan yang akan dibagikan saat jelang tanam atau dimakan bersama setelah sisa pembagian,” ujarnya.

Maria mengatakan pasar atau warung pendukung pangan lokal di NTT sudah ada, tapi belum banyak. Contohnya di Kupang sudah ada warung jagung bose dengan lauk sei babi dan sei sapi. Ada warung sop ubi sewut dengan ikan kuah asam di Ende.

“Sementara di Flores Timur dan Lembata ada warung jagung titi dengan lauk sayur rumpu rampe dan ikan,” ujarnya.

Ia berharap pangan benih lokal, misalnya Sorgum menjadi alternatif selain beras padi. Ini perlu penyadaran dan pendampingan terus-menerus di tengah keterbatasan akses infrastruktur di Flores.

“Sampai saat ini belum semua desa di Kabupaten Flores Timur menanam Sorgum, ini karena keterbatasan pendamping dan infrastruktur yang membuat pengembangan belum masif benar,” katanya.

Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri Dr. Hari Nur Cahya Murni, M.Si saat menyampaikan sambutan pada webinar tersebut mengatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi ketahanan pangan lokal.

Di antaranya belum optimalnya pemberian insentif bagi dunia usaha dalam pengembangan produk pangan lokal. Lambatnya perkembangan teknologi pengolahan pangan lokal. Kemudian kurangnya fasilitas pemberdayaan ekonomi untuk meningkatkan aksesibilitas pangan yang beragam, bergizi, dan berimbang.

“Juga adanya kecenderungan penurunan konsumsi pangan lokal dan rentan akan perubahan iklim yang mempengaruhi produksi pangan lokal,” ujar Nur.

Deputy Director The Samdhana Institue Dr. Martua T. Sirait dalam pembukan webinar mengatakan lumbung-lumbung wilayah adat merupakan lumbung pengetahuan dan pangan dalam mengatasi krisis sosial-ekologi.

“Diharapkan dengan acara serial Cangkir KoPPI ini pemuda-pemuda dari kampung maupun kota bisa berbagi semangat dan pengalaman dalam melestarikan pangan lokal dari daerah masing- masing,” kata Sirait.(CR-7)

Editor: Syofiardi

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top