Loading...

TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Berharap nama ibukota Provinsi Papua, Numbay

Jembatan Youtefa di atas kampung Tobati dan Injros - Jubi/dam

 

Berharap nama ibukota Provinsi Papua, Numbay 1 i Papua
Puing-puing kapal Perang Dunia II yang karam di Teluk Youtefa, Kota Jayapura – Jubi/dam

Jayapura, Jubi – Adalah Marthin Matius Chaay kepala suku Chaay dari keondoafian Kajoe Pulo Kota Jayapura yang sangat berharap agar Kota Jayapura segera memakai nama Numbay sesuai dengan karakter masyarakat di Port Numbay.

“Memang nama ini pasti berbeda dengan suku-suku lain di Teluk Humbolt maupun Teluk Youtefa, tetapi nama khas kota ini perlu bagi masyarakat setempat,” katanya kepada Jubi, belum lama ini.

Lebih lanjut, kata dia ,dulu pernah mantan Wali Kota Jayapura, MR Kambu, melakukan diskusi publik dan saat itu diusulkan nama Port Numbay dan Kota Tabi.

“Memang banyak pihak menyetujui nama Port Numbay tetapi kata Port itu masih bahasa asing sehingga sebaiknya Numbay saja,” katanya.

Hal senada juga dikatakan Lucky Ireeuw, tokoh muda dari Teluk Youtefa. Bahwa nama itu sebaiknya Numbay.

”Kalau memakai Port Numbay itu kesannya sangat politis sama dengan Port Villa di Vanuatu atau Port Moresby di PNG. Port itu masih tergolong bahasa asing,” katanya kepada Jubi, di sela-sela semilola KPKC KLasis Port Numbay di Jayapura, belum lama ini.

Lebih lanjut Ireeuw juga setuju kalau nama jembatan yang melintasi Kampung Tobati dan Injros juga memakai nama lokal yaitu jembatan Youtefa sebagai penghormatan terhadap masyarakat di Teluk Youtefa.

Pendapat kedua tokoh muda dari Teluk Humbold dan Teluk Youtefa ini sangat penting. Apalagi mantan Wali Kota Jayapura, MR Kambu, pernah memprakarsai seminar  dan sejumlah dosen dari Universitas Cenderawasih (Uncen) melakukan kajian terhadap nama Port Numbay di Jayapura pada 2010 lalu.

Konsultasi publik ketika itu yang diikuti oleh Lembaga Adat Masyarakat, tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh ada,t dan perwakilan akademisi. Akhirnya memutuskan nama Port Numbay sebagai pengganti nama Kota Jayapura. Hanya saja realisasi nama ini sampai sekarang belum terwujud dan nama Kota Jayapura pun tetap masih disebut.

Hollandia dan Jayapura

Berharap nama ibukota Provinsi Papua, Numbay 2 i Papua
Jembatan Youtefa di atas kampung Tobati dan Injros – Jubi/dam

Nama Kota Jayapura sebelumnya sejak pertama kali Kapten Infanteri FJP Sachse mendarat di Teluk Youtefa pada 7 Maret 1910 memberi nama Hollandia. Nama ini terus bertahan selama Belanda masih memerintah di wilayah Nederlands Nieuw Guinea hingga 1963. Sejak itu pula namanya menjadi Kota Baru dan sebagai penghargaa kepada Presiden Sukarno, nama ibukota Provinsi Irian Barat berubah lagi menjadi Sukarnopura.

Sejak tumbangnya rezim Orde Lama (Orla), Presiden Soeharto meresmikan kota Jayapura yang berarti kota kemenangan pasca Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969. Padahal nama Sukarnopura sendiri diganti setelah peristiwa G 30 S PKI 1965 sehingga nama itu pun hilang dan

Kota Jayapura bertahan sampai sekarang. Arti Jayapura sendiri mirip dengan nama kota Jaipur  di negara bagian Rajastan  di India, sesuai dengan bahasa Sansekerta berarti kemenangan dan pura artinya kota.

Lalu ada yang salah ketika generasi muda Tabi dari Teluk Humbold dan Youtefa kembali menginginkan nama asli yang berasal dari wilayah kebudayaan Tabi. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan usulan maupun pendapat sepanjang masih bisa diterima oleh semua pihak dan melalui konsultasi publik sebagaimana pernah dilakukan mantan Wali Kota Jayapura, MR Kambu.

Entrop, Hamadi, dan Polimac road

Berharap nama ibukota Provinsi Papua, Numbay 3 i Papua
Puing-puing kapal Perang Dunia II yang karam di Teluk Youtefa, Kota Jayapura – Jubi/dam

Mungkin hanya nama Hamadi saja yang sangat melekat dengan penduduk warga Kota Jayapura khususnya masyarakat di Teluk Youtefa. Sedangkan hampir sebagian besar di wilayah Kota Jayapura masih melekat di telinga orang Papua maupun orang non Papua nama nama asing terlebih bahasa Inggris sejak peninggalan Perang Pasifik.

Sebut saja Army Post Office yang biasa disingkat APO, Base G di wilayah adat keondoafian Kayu Batu, termasuk Santarosa dan Polimac road. Sedangkan nama Entrop karena ketika itu seorang Belanda pengusaha sawmill Mener Entrop karena warga menyebut namanya sehingga Entrop lebih dikenal dan terus bertahan sampai sekarang.

Tentara sekutu masuk ke Papua setelah pendudukan Jepang di Teluk Humbold pada 19 April 1942. Dua tahun kemudian tepatnya pada 22 April 1944 tentara sekutu Amerika Serikat menghujani Hollandia dengan peluru dan bom guna mengusir tentara pendudukan Jepang.

Mendiang Pdt Silas Chaay, ayah kandung Marthin Chaay, menuturkan mereka mengungsi ke kampung Ormu setelah Perang Dunia Kedua atau Perang Pasifik.

“Kami kaget karena kebun-kebun sudah berubah jadi kota dan namanya menjadi Army Post Office atau APO,” kata Marthin Chaay, mengutip pernyataan ayah kandungnya.

Begitu pula dusun-dusun sagu di Kali Anafre sudah hilang dan ada jembatan melintasi Kota Hollandia ketika itu.

Sekadar catatan Jubi, sisa-sisa nama yang diberikan Tentara Sekutu Amerika Serikat selama Perang Pasifik berkecamuk mulai dari Base G atau Tanjung Ria, Army Docks yang kemudian menjadi Dok II, Dok IV, Dok V, Dok VII, Dok VIII, dan Dok IX. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us