Bewan Mati, sumber terang bagi Kriku

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Wajah sumringah dan rona bahagia terpancar dari wajah penduduk Kampung Kriku, Kecamatan Arso Timur, Kabupaten Keerom, Papua. Ini terjadi karena impian mereka untuk bisa hidup dalam terang, kini menyadi nyata.

Sekitar 34 kepala keluarga (KK) di Kampung Kriku kini bisa menikmati aliran listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air, yang dihasilkan oleh pergerakan kincir air  buatan Satuan Tugas (Satgas) Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI-PNG, Yonif Para Raider 501 Kostrad yang bertugas di wilayah Sektor Utara Kabupaten Keerom.

Kampung Kriku terbilang unik. Karena hanya ada satu marga saja yang bermukim di sana yakni marga Bewangkir. Kampung ini terbentuk sejak tahun 2014 silam. Untuk sampai di kampung ini, jarak yang harus ditempuh kurang lebih 50 kilometer dari Waris, yang merupakan pusat Kabupaten Keerom. Sementara jika diukur dari Kota Jayapura, dibutuhkan waktu setidaknya dua jam lebih dengan jarak 79 kilometer untuk sampai ke kampung ini.

Sepanjang jalan menuju Kampung Kriku, tersaji pemandangan hijaunya pepohonan, namun didominasi oleh perkebunan kelapa sawit yang luas terhampar di sisi kanan dan kiri jalan. Memang, kampung ini terkenal dengan produksi sawitnya. Bahkan, mayoritas warga di kampung ini merupakan pekerja di Perkebunan Kelapa Sawit tersebut, walau ada pula yang bercocok tanam sayuran, seperti tomat, cabai rawit hingga buah seperti cokelat.

Pemanfaatan kincir air sebagai sumber energi di Kampung ini bukan tanpa alasan. Satgas Pamtas RI-PNG, Yonif Para Raider 501 Kostrad melihat adanya potensi di Kampung ini, yang bisa dikelola menjadi sumber energi terbarukan. Salah satunya adalah pemanfaatan Kali Bewan Mati yang memiliki aliran air cukup deras, dan dirasa mampu menggerakkan kincir air yang kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan energi.

Kali ini merupakan sumber penghidupan bagi mereka. Bewan Mati dalam bahasa sehari-hari dapat diartikan sebagai “Tak Pernah Kering”. Maka itu, derasnya aliran sungai, ternyata bisa menjadi manfaat dan berkah alam yang bisa disubtitusikan menjadi energi listrik.

Loading...
;

Energi tenaga air inilah yang diproduksi untuk menghasilkan daya listrik, yang kemudian dialirkan ke rumah – rumah warga di Kampung Kriku.

Salah seorang warga yang merasakan manfaat kincir air tersebut adalah Sem Bewangkir. Warga asli Kampung Kriku ini mengaku sangat senang dengan masuknya listrik ke kampungnya. Meski belum seluruh kepala keluarga bisa menikmati aliran listrik secara maksimal, namun sejauh ini warga sudah merasa senang karena bisa menikmati listrik layaknya kampung lain di Papua.

“Dulu kami hanya mengandalkan pelita untuk penerangan dalam rumah. Tapi kini kami bisa merasakan terang dimalam hari karena ada lampu,” kata Sem Bewangkir kepada Jubi, Rabu (5/9/2018).

Dikatakan Sem, pembuatan kincir sebagai sumber energi ini dilakukan oleh para anggota TNI yang juga dibantu oleh warga kampung. Meski sederhana, namun manfaat yang dirasakan oleh warga kampung, diakui Sem sangatlah besar. Karena itu pula, Sem dan warga lain takkan menuntut hak ulayat dalam pembangunan kincir air tersebut.

“Kami gotong royong dalam pembangunan kincir air ini, walau sederhana dan menggunakan alat seadanya, tapi terbukti berhasil,” ujar Sem.

 

Harapan warga kampung

Masuknya listrik ke Kampung Kriku, membuat rasa optimisme warga semakin tinggi. Elias Bewangkir selaku Ondoafi (Kepala Suku) Kampung Kriku mengatakan, masuknya listrik ke kampung Kriku merupakan sejarah baru bagi warga. Ia berharap adanya terobosan ini bisa diikuti dengan terobosan lain di sektor pendidikan dan kesehatan untuk warga kampungnya.

“Kami di sini tidak ada yang menjadi PNS, semuanya bertani karena kami tidak sanggup sekolah tinggi-tinggi. Sekarang sudah ada listrik, anak – anak bisa belajar dengan baik. Harapan kami, nanti anak cucu kami yang akan mewujudkan cita-cita kami yang tertunda,” kata Elias Bewangkir.

Ia juga berharap, ke depan pembangunan bisa masuk ke Kampung Kriku utamanya yang berkaitan dengan pelayanan pendidikan dan kesehatan. Menurutnya untuk masalah pendidikan di Kampung Kriku sendiri belum ada sekolah yang dibangun. Selama ini anak – anak dari Kampung Kriku bersekolah ke Kampung Kibay. Itupun hanya setingkat PAUD hingga Sekolah Dasar. Sedangkan untuk SMP dan SMA, anak – anak harus menempuh pendidikan di Kota Arso.

“Kalau untuk layanan kesehatan kami selalu mendapatkan pelayanan dari Puskesmas Arso Kota. Petugas selalu datang setiap minggu ke sini. Itu saja kami sudah bersyukur karena pemerintah tidak lupa akan keberadaan kami disini,” ujarnya. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top