Bisnis keramba ikan di Jayapura sekali panen untung Rp30 juta

papua
Keramba jaring apung di Danau Sentani, Jayapura, Papua. -Jubi/Theo Kelen.

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Pengusaha keramba ikan mujair di Danau Sentani, Jayapura, Papua, Arif mengatakan berbisnis ikan mujair sangat menjanjikan, karena dalam sekali panen bisa menghasilkan keuntungan Rp30 juta.

“Potensinya lumayan bagus untuk usaha, karena peminat ikan mujair di Jayapura, Papua lumayan banyak terutama warung-warung makan, biasa lima sampai enam warung sekali jual,” kata Arif kepada Jubi, Senin (11/01/2021).

Arif yang sudah sejak 2018 berbisnis keramba ikan, sekali dalam empat bulan memanen kerambanya. Sekali panen kerambanya menghasilkan 4 ton, lalu dijual ke warung-warung makan dengan harga Rp80 ribu per kilogram. Setelah dikurangi modal ia mendapatkan keuntungan Rp20 juta sampai Rp30 juta.

“Kalau pendapatan kotor bisa sampai Rp40 juta, karena itu belum beli pakan, beli bensin, sewa lokasi dan gaji karyawan,” ujarnya.

BACA JUGA: Pengelola keramba ikan air tawar akan mendapat bantuan

Arif membuka usaha ini secara bertahap dengan menghabiskan modal total Rp500 juta. Modal tersebut sudah termasuk membuat keramba ukuran 40 meter x 12 meter. Kemudian menyewa lokasi Rp65 juta per tahun, membeli pakan ikan, bibit ikan, dan membayar gaji pekerja.

Loading...
;

“Saya membangun bertahap, pelan-pelan, ada yang kita utang, ada yang kita ambil di bank,” katanya.

Ia membutuhkan waktu delapan sampai setahun membangun kerambanya hingga seperti sekarang. Ketika memulai usaha ia membangun lima petak. Setelah ada tambahan modal ia tambah lagi sehingga sekarang tumbuh menjadi 30 petak.

“Kalau langsung kita tidak ada uang, mau ambil modal dari mana,” ujarnya.

Biaya operasional, kata Arif, Rp5 juta sampai Rp6 juta per bulan untuk membayar gaji pekerja dan bensin untuk membeli bibit ikan di Koya dan pengantaran pesanan ikan.

Masalah yang dihadapi dalam berbisnis keramba, kata Arif, adalah hama dan orang yang merobek-robek jaring untuk mencuri ikan.

“Itu masalah paling terbesar yang ada di usaha keramba, kita juga tidak bisa salahkan siapa-siapa karena mereka mencurinya di dalam air, tidak kelihatan to,” ujarnya.

Arif berharap Pemerintah Provinsi Papua dalam hal ini Dinas Perikanan turun untuk melihat kondisi para pengusaha keramba ikan dan memberikan dukungan berupa bantuan pakan dan menyediakan bibit ikan.

“Pemerintah bisa turun lihat kitong pu usaha, apa yang kita butuhkan mereka langsung turun tanya-tanya begitu, bantu pakan, bantu bibit, supaya kitong budi dayanya agak bagus karena berat bagi kita, pakan saja kita tiap bulan beli 30 sak dengan harga Rp300 ribu satu sak,” katanya.

Cukup bagusnya usaha keramba ikan di Danau Sentani, Jayapura, Papua juga disampaikan pengusaha keramba ikan asal Lombok, Abdul Halim. Menurutnya bisnis ikan memang sangat menjanjikan karena sekali panen menghasilkan keuntungan Rp20 juta.

“Ini lagi hari-hari panen, satu petaknya saja isi seribu ekor, pedapatan kotornya biasa sampai Rp50 juta tapi setelah dipotong biaya tempat, pakan dan bibit ikan kita bisa kantongi bersihnya sekitar Rp20 juta,” katanya.

Abdul menjalakan usaha secara mandiri bersama istrinya. Sebelumnya dari 2018 sampai pertengahan 2020 ia bekerja sebagai karyawan keramba ikan. Lalu dipertengahan 2020 ia memutuskan berhenti sebagai karyawan dan membuka usaha secara mandiri karena menurutnya keuntungan dihasilkan sangat menjanjikan.

“Saya memang minat juga, apa lagi kita sudah tahu pengeluaran dan pemasukannnya, coba bayangkan di pinggiran danau ini (Danau Sentani-red) dari Yoka sampai di Bukit Teletubbies itu semua usaha keramba,artinya usaha ini menjanjikan, terus warung-warung makan yang jualan mujair kan kebanyakan cari ikan,” ujarnya.

Abdul mengeluarkan modal awal Rp170 juta untuk membuat 30 petak keramba apung ukuran 3 x 3 meter. Ketika masa panen kerambanya mampu menghasilkan 700 kilogram ikan mujair dengan harga jual Rp80 ribu per kilogram.

Dengan bibit ikan dan harga pakan yang mahal ia berharap Dinas Perikanan Provinsi Papua bisa menyediakan permintaan para pengusaha keramba ikan.

“Kita sebenarnya kalah di bibit dan pakan, bayangkan saja satu bulan itu 30 sak pakan Rp9,3 juta, sedangkan bibit saya harus beli yang besar untuk mengejar perputaran dari keramba ini, kalau bisa ya pemerintah sediakan,” katanya.

Sementara itu, Yanto yang sudah lima tahun berkerja di keramba sebagai pengantar ikan mengatakan pekerjaan yang ia lakoni menguntungkan, karena sekali pengantaran bisa menghasilkan hingga Rp7 juta.

Namun pekerjaannya juga beresiko. Jika jalan macet dan pesanan warung banyak dia harus tepat waktu.

“Bawaan saya pernah nyangkut di mobil, jatuh hampir pecah, ditabrak mobil ikan hampir mati semua pernah, ikan sampai di warung kan harus hidup, kalau mati kita harus ganti,” ujarnya. (Theo Kelen)

Editor: Syofiardi

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top