HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Border crosser dan riwayat pengungsian orang Papua Barat ke PNG

West Papua refugees in Iowara, Kiunga, Papua Nuw Guinea – Jubi/Jesuit Refugee Service
Border crosser dan riwayat pengungsian orang Papua Barat ke PNG 1 i Papua
West Papua refugees in Iowara, Kiunga, Papua Nuw Guinea – Jubi/Jesuit Refugee Service

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Adalah musisi Black Brother, Agus Rumaropen, yang terinspirasi untuk menulis lagu berjudul Border Crosser. Lagu ini mengisahkan tentang ribuan orang Papua Barat mengungsi ke Papua New Guinea karena kekerasan aparat.

Border crosser….border crosser yu all calling yu mi olsem border crosser,”begitulah sekelumit syair lagu yang ditulis gitaris Agus Rumaropen mengaresemen lagu ini berirama jazz music dalam ritme hentakan wor orang Byak.

Border crosser dan riwayat pengungsian orang Papua Barat ke PNG 2 i Papua

Agus Rumaropen menulis lagu ini bertepatan dengan peristiwa kematian Arnold C Aap, pendiri Grup Mambesak, dan saudara sepupunya (napirem) Eduard Mofu mahasiswa Antropologi Universitas Cenderawasih angkatan 1978,  pada 26 April 1984. Keduanya ditahan tanpa melalui pengadilan dan dituduh simpatisan Organisasi Papua Merdeka (OPM) serta dituduh melarikan diri sehingga ditemukan sudah tak bernyawa lagi.

Akibatnya, ribuan warga Papua Barat mengungsi dan menyeberang ke perbatasan Papua New Guinea (PNG), Black Wara, Wasanglah, Komopkin, Kumgin, Kamberatoro, dan Vanimo ibukota Provinsi Sandaun yang berbatasan langsung dengan Kota Jayapura dan Kabupaten Keerom.

Majalah Tempo edisi 9 Juni 1984 melaporkan sekitar 7000 pengungsi berada di Papua New Guinea(PNG), pemulangan mereka tampak akan lama dan berlarut-larut serta memakan waktu. Pejabat pemerintah Indonesia dinanti tetapi berbagai pihak takut keamanan mereka. Bahkan Gubernur Irian Jaya waktu itu, Ishak Hindom, juga tak berkunjung melihat dari dekat kondisi para pengungsi.

Sebagian besar pengungsi terdiri dari  kaum ibu dan anak anak. Tercatat jumlah terbesar terdapat di Komopkin sejumlah 2.277 orang. Pengungsi lainnya bermukim di Kungim (929), Kamberatoro (685), dan Vanimo (605) serta terbanyak di kamp pengungsi Black Wara.

Menurut situs https://www.matamatapolitik.com melaporkan diperkirakan terdapat 10.000 pengungsi Papua Barat yang tinggal di Papua Nugini. Meskipun mereka berbaur, kebanyakan dari mereka tidak memiliki kewarganegaraan, sehingga mereka termarginalkan dari tanah dan layanan publik. Di kedua Provinsi Barat dan Sepik Barat di Papua Nugini, gereja Katolik seringkali memainkan peran dalam merawat pengungsi Papua.

Loading...
;

Sementara itu laporan dari https://www.cs.utexas.edu/users/cline/papua/refugees.htm menyebutkan eksodus terbesar terjadi pada 1984, ketika lebih dari 13.000 mencari suaka di PNG, yang sebagian besar masih ada sampai sekarang.

Laporan 30 November 2019 yang dikutip Jubi.co.id dari https://www.theguardian.com menyebutkan pula bahwa di wilayah Selatan Papua sebanyak 7000 warga Papua Barat tinggal di kampung-kampung pengungsi, terpisah dari Papua Barat hanya terpisah dari Sungai Fly yang tercemar limbah yang diduga dari tambang Ok Tedi.

Salah seorang pengungsi, Agapitus Kiku, kepada the guardian.com memutuskan dia tidak menginginkan masa depan tanpa kebebasan. Kiku yang sudah 35 tahun tinggal di Selatan Papua termasuk dalam peristwa Februari 1984. Saat itu tercatat sebanyak 11.000 warga Papua Barat melintasi wilayah perbatasan menuju Papua New Guinea.

Mahasiswa Papua Barat menetap di PNG

Pemerintah Nederlands Nieuw Guinea pada 1961 mengirim mahasiswa Papua Barat untuk kuliah di Papua Medical College Papua New Guinea Australia. Fakultas Kedokteran di PNG pertama kali dibuka pada 1971 dan merupakan lanjutan dari Papua Medical College yang berdiri pada 1958.

Sebanyak 100 mahasiswa kedokteran yang belajar di Fakultas Kedokteran tetapi jelang wisuda hanya terdapat tujuh orang dokter saja. Enam orang dokter asal Papua Barat setelah wisuda tak pernah kembali ke Hollandia (Jayapura) Papua Barat.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Irian Jaya, dr Suriadi Gunawan, dalam laporan kunjungannya ke PNG, 7-21 November 1972, tiga tahun jelang kemerdekaan 16 September 1975 menyebutkan ada enam dokter asal Papua Barat masing-masing dr Hein Danomira spesialis bedah, dr Chris Marjen spesialias anestesi, dr Pieter Pangkatana spesialis kesehatan anak, dr Saweri spesialis penyakit dalam, dr Suebu spesialis kesehatan anak, dan dr Fiai spesialis  obstetri dan ginekologi.

Mahasiswa yang belajar di Sekolah Telekom Lae, Mr Constan Wanma, dan kawan-kawan memilih tidak kembali ke Papua Barat. Begitu pula para dokter asal Papua Barat menetap di Port Moresby dan membuka praktek serta  dr Chris Maryen menjadi direktur utama Rumah Sakit Umum di Port Moresby hingga pensiun.

Pengungsian lainnya pasca Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969, tercatat mereka yang menyeberang antara lain Simon Meset, Moses Werror, Songgonao, dan Runaweri. Mereka ini merupakan mahasiswa dan para pemuda yang berdemo saat kunjungan wakil Sekjen PBB, Ferdinan Ortisan, ke Jayapura. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa