Follow our news chanel

Previous
Next

Buku “Pastor Frans Lieshout OFM, Gembala dan Guru bagi Papua” diluncurkan

Pastor Lieshout Papua
Buku berjudul "Pastor Frans Lieshout OFM, Gembala dan Guru bagi Papua" diluncurkan di Kota Jayapura, Papua, Jumat (7/8/2020). - Jubi/Benny Mawel

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Buku kumpulan tulisan yang mengisahkan pengabdian mendiang Pastor Frans Lieshout OFM, misionaris Fransiskan asal Belanda yang lama bertugas di Papua, diluncurkan di Aula Paroki Kristus Terang Dunia, Waena, Kota Jayapura, Jumat (7/8/2020). Peluncuran buku berjudul “Pastor Frans Lieshout OFM, Gembala dan Guru bagi Papua” yang ditulis 60 penulis itu dilakukan dengan diskusi buku yang merefleksikan kehidupan dan pengabdian Pastor Lieshout tersebut.

Peluncuran dan diskusi buku yang dimoderatori Meky Wetipo ini disiarkan melalui Youtube Paroki Kristus Terang Dunia, dan dihadiri sejumlah tokoh seperti Presiden Gereja Baptis Papua Pendeta Dr Socrates Sofyan Yoman yang menjadi salah satu penulis, dan Markus Haluk yang menjadi penulis dan editor buku itu. Sejumlah tokoh intelektual Katolik juga menghadiri acara itu, termasuk Hardus Desa, Okto Malisgoran, Theodorus Kossay, Wasuok Siep, Carlos Matuan, Moses Belau, John Mirip Laurens Wantik dan tokoh perempuan Papua, Yosepha Alomang.

Buku setebal 600 halaman itu berisi kesaksian 60 penulis yang merefleksikan kehidupan Pastor Frans Lieshout OFM yang mengawali pengabdiannya di Papua dengan bertugas di Hubula, Kabupaten Jayawijaya, Papua, pada 1963 itu. Markus Haluk selaku penulis dan editor buku itu menuturkan keharuannya dalam mengerjakan buku tentang Pastor Lieshout yang menghembuskan nafas terakhirnya di Belanda pada 1 Mei 2020 lalu.

Baca juga: Pastor Lieshout dimakamkan di Belanda, Suku Hubula gelar warekma di Musatfak

Menurutnya, para penulis buku itu menggoreskan kisah, karya, dan pesan Pastor Lieshout. Kesaksian para penulis itu memperlihatkan sosok Pastor Lieshout sebagai gembaga, guru, imam, mantri, dan bapa rohani yang patut dikenang semua orang.

“Saya rasakan air mata itu mengalir melalui tulisan saya, bapak, dan ibu. Kita tidak hanya ingat Tete Pastor Frans Lieshout OFM, tetapi mengingat semua [pastor] yang meninggal di tanah ini, para pastor [dari ordo] MSC, OSA, OSC dan Projo dalam mewartakan Injil di tanah ini,” kata Haluk yang juga menjadi Ketua Panitia Peringatan 100 Hari Meninggalnya Pastor Lieshout.

Menurut Haluk, ada  82 orang misionaris Fransiskan di Papua yang telah meninggal, termasuk Pastor Lieshout telah. Sebagian dari mereka meninggal di Papua, sebagian yang lain meninggal setelah pulang ke negara asalnya. “Mereka semua menjalankan misi di Tanah Papua. Ada yang meninggal pada usia muda, 33 tahun,” kata Haluk.

Loading...
;

Haluk menyebut para misionaris itu menaburkan benih-benih Injil di tanah ini. Benih itu sudah tumbuh berusia 170 tahun lebih. “Apakah benih yang ditanam itu akan ada di sini? Setiap orang Kristen harus bertanya,” kata Haluk.

Haluk menyatakan, siapapun yang ada di Papua, lahir, besar, dan hidup dengan benih yang ditaburkan para misionaris, melihat dan mendengar perubahan-perubahan yang terjadi. Menurutnya, ada perubahan yang memungkinkan matinya benih Injil yang telah ditabur. “Jangan tunduk menikmati kenyamanan, tidak melihat perubahan dan ancaman,” ungkapnya.

Sejumlah delapan penulis turut berbicara dan merefleksikan pengabdian Pastor Lieshout. Mereka adalah Mama Yosepha Alomang, Pendeta Dr Socrates Sofyan Yoman, Bruder Elias Logo, Hardus Desa, Okto Malisgoran, Elpius Hugi, Theo Kossy dan Moses Belau.

Baca juga: Pastor Frans Lieshout, OFM kembali ke Belanda, umat Katolik di Papua ucapkan terimakasih

Para pemateri itu melihat  sosok Pastor Lieshout sebagai pemimpin, guru dan gembala yang menyetuh aspek-aspek kehidupan sederhana, yang kini kerap diabaikan dalam pewartaan di Papua. “Dia kasih obat, saya sembuh. Dia kasih bibit ayam, bebek, itik, kelinci. Umat kerja, kembangkan pertanian dan perternakan. Ada koperasi juga, sehinga ekonomi keluarga hidup,” kata Moses Belau, tokoh Katolik suku Migani di Jayapura.

Okto Malisgoran, murid dan juga rekan kerja Pastor Lieshout dalam layanan pastoral di Baliem, mengatakan pada masa Pastor Lieshout berkarya di sana ada program pastoral pewartaan yang sederhana dan hidup dikembangkannya. Selain itu, ada kerja sama rekanan diantara para petugas gereja dan juga umat. “Ada program Hari-Hari Persaudaraan, persiapan wenewolok (pewarta), yang hari ini sudah tidak ada lagi,” katanya.

Hardus Desa, rekan kerja Pastor Lieshout di Keuskupan Jayapura, menyebut Pastor Lieshout hadir dengan empatinya. Pastor Lieshout bahkan belajar pemahaman religi orang Papua.  “Tuhan lebih dulu Ada di Papua. Pastor Lieshout belajar dari sana, lalu mewartakan Injil,” kata Harus Desa.

Pendeta Dr Socrates Sofyan Yoman mengatakan Pastor Lieshout adalah wajah, kaki, dan tangan Tuhan paling nyata di Papua. “Beliau wajah Tuhan, mata Tuhan yang hadir, Tuhan utus untuk orang Papua,” kata Yoman.

Yoman menyebut Pastor Frans Lieshout sebagai misionaris berusaha memperlihatkan wajah Tuhan melalui kata-kata dan perbuatannya. “[Antara] kata dan tindakan itu sama. Itu Pastor Frans Lieshout,” kata Yoman.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top