Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Buku tentang sejarah budaya tato Samoa diterbitkan

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Tradisi tato Samoa yang masih dianut hingga kini setelah hampir tiga puluh abad, telah abadikan dalam sebuah buku baru yang dirilis awal Agustus lalu.

Buku berjudul Tatau – A History of Samoan Tattooing itu lahir dari cinta dua laki-laki, terhadap budaya dan sejarah bentuk seni yang spesial dan unik ini.

Buku tentang sejarah budaya tato Samoa diterbitkan 1 i Papua

Buku Tatau adalah kolaborasi antara kurator museum Te Papa dan antropolog Prancis, yang telah menggabungkan dua bidang keahlian mereka.

Pekerjaan kearsipan dan etnografi dari antropolog Sébastien Galliot melengkapi penelitian kurator asal Samoa-Selandia Baru, Sean Mallon, mengenai dunia kontemporer tatau, kata dalam bahasa Samoa yang digunakan untuk mendeskripsikan praktik dari mana kata modern ‘tato’ berasal.

Tato Samoa telah lama menarik perhatian Galliot, bahkan sebelum dia mulai belajar etnologi dan antropologi di universitas, dan ketertarikannya itu telah membawanya ke Samoa, banyak kali, dimulai dari kunjungan perdanya pada tahun 2001.

“Pada awalnya (tujuan saya) adalah pergi ke Samoa, dan mempelajari bagaimana proses tatau dilakukan di sana,” kata Galliot.

Loading...
;

“Jadi begitu saya diberikan kesempatan untuk pergi ke sana, saya segera mengambilnya dan memulai pekerjaan saya mengenai tato Samoa.”

Banyak ‘informasi yang kurang tepat’ beredar sebelum dia menempuh perjalanannya ke Samoa, terutama tentang ritual dan praktek tatau di kalangan akademisi Eropa, menurut Galliot, yang memiliki afiliasi dengan Pusat Penelitian dan Dokumentasi Oseania, Centre for Research and Documentation on Oceania, di Marseille, Prancis.

Galliot menceritakan bahwa pada awalnya, dia tertarik pada teknik tato, bagaimana alat-alatnya dibuat dan digunakan, serta bagaimana tatau diterapkan.

“Namun ketika saya mulai mengunjungi samoa sebagai seorang etnografer, saya hanya ingin menyaksikan dan mengamati bagaimana seluruh ritual ini dilakukan, dan bagaimana seluruh proses dan prosedur menato sebenarnya terhubung dengan organisasi sosial di sana,” kata Sébastien Galliot.

“Menghubungkan kembali semua konteks sosial dan budaya, dan mengapa praktik itu masih sangat penting bagi masyarakat Samoa, baik di dalam negeri maupun di luar Samoa.”

Laki-laki asal Prancis itu kini telah menghabiskan waktu cukup lama di Samoa, hingga dapat berbicara bahasanya.

Tatau, secara harfiah, berarti ‘menyerang’ dan mengacu pada suara memalu lembut, yang dihasilkan oleh alat benama 'au yang digunakan untuk menyisipkan pigmen tato ke bawah kulit.

Budaya tatau di luar Samoa

Kedua penulis itu berpendapat bahwa sejarah panjang Tatau membentang ke luar Samoa.

Menurut Sean Mallon, sebuah serikat pembuat tato dari Pulau Upolu di Samoa – Le Aiga Sa Su'a – memiliki sebuah misi untuk merevitalisasi bentuk seni itu di negara-negara lainnya di Polinesia, yang telah takluk akibat kolonisasi negara barat dan teman karibnya, Kekristenan.

Seorang, Tufuga Ta Tatau, atau ahli tato utama, Su'a Sulu'ape Paulo II, memainkan peran penting dalam hal ini, menurut Mallon.

“Dan beberapa pendahulu Su'a Sulu'ape Paulo II, pada saat tertentu memperkenalkan tatau untuk bangsa lain di sekitar wilayah itu. Jadi, pada 1980-an, Lesa Li'o pergi ke Tahiti dan membantu mereka dalam membangkitkan kembali budaya tatau di sana,” katanya.

“Paulo II sendiri pergi ke Hawai'i. Di sana dia bekerja dengan sejumlah kelompok, termasuk kelompok Māori, dan mencoba berbagi pengetahuan tentang alat-alat dan teknik tatau dengan mereka.”

Buku Tatau sebagai bacaan serius yang juga dipenuhi referensi visual

Bab pertama buku ini membahas disrupsi terhadap budaya tato akibat pengaruh yang dibawa oleh Kekristenan, yang mengutuk praktik itu sebagai sesuatu yang biadab.

Namun, buku itu menggambarkan bagaimana budaya Samoa, dengan mahir, menyesuaikan keyakinan yang baru saja didatangkan itu untuk tetap bekerja bagi mereka, jelas Mallon.

“Bagaimana orang-orang Samoa menerima dan menganut agama Kristen, dan beberapa aturan serta hukum yang diwajibkannya, juga bagaimana mereka bisa menolak beberapa pengaruh, termasuk larangan tato, atau dalam beberapa hal menganut kedua kepercayaan,” jelas Mellon.

“Dan Sébastien telah menemukan beberapa cerita luar biasa, tentang perlawanan orang-orang Samoa terhadap agama Kristen, tetapi bagaimana mereka juga menerima beberapa aspek agama itu yang menarik bagi mereka.”

Terdiri dari 328 halaman, Tatau bukan hanya berisikan bacaan serius yang melaporkan sejarah sepanjang 3.000 tahun dari bentuk seni dan budaya yang unik ini, tetapi juga menunjukkan berbagai referensi visual yang kuat. Berbagai gambar dari sejarah turut disertakan dalam buku yang, pada saat yang sama, juga dikuratori dengan fotografi kontemporer, seperti penjelasan Sean Mallon.

“Tiga fotografer kontemporer yang hebat bersedia membagikan tiga portofolio mereka melalui buku ini. Dan terutama gambar yang kita gunakan sebagai sampul itu adalah karya indah fotografer Samoa, Greg Semu,” kata Mallon.

“Tetapi kita juga bekerja dengan Mark Adams, fotografer dengan hasil pekerjaan yang luar biasa dan sudah bekerja sejak 1980-an dan 1990-an, serta beberapa tahun di akhir era 70-an. Dan kita juga bekerja dengan fotografer John Agcaoili yang sekarang berbasis di Amerika Serikat dan telah mendokumentasikan generasi praktisi tatau saat ini. Foto-foto itulah yang benar-benar menghidupkan buku ini.”

Buku Sean Mallon dan Sebastien Galliot, Tatau – A History of Samoan Tattooing, diterbitkan oleh Te Papa Press. (RNZI, 30/08/2018)

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top